TUAN  GURU KAUM SUFI (Imam Junaid al-Baghdadi)

 

KH. Muhammad Idrus Romli

Jika anda membaca ideolog Ahlussunnah wal-Jamaah, anda akan menemukan nama al-Junaid al-Baghdadi sebagai  figur utama yang menjadi simbol keteladanan mereka dalam bidang  tasawwuf. Misalnya, Hadratus Syaikh  dalam diskursusnya Qanun asasi Nahdhlatul Ulama’ menyebutkan, “dalam bidang tasawwuf mengikuti madzhab  yang dibangun al-imam al-Junaid al-Baghdadi”.

Di sini anda mungkin bertanya-tanya seperti halnya saya, mengapa kaum Sunni dalam bidang tasawwuf mengikuti madzhab al-Junaid, bukan tokoh-tokoh sufi yang selainnya? Nah, tulisan ini mencoba menawarkan suatu jawaban singkat terhadap pertanyaan ini.

Biografi Al-Junaid

Nama lengkapnya Abu al-Qasim al-Junaid al-Khazzah al-Qawariri al-Nahawandi al-Baghdadi. Dilahirkan, tumbuh dan wafat di kota Baghdad tanpa diketahui secara pasti tahun kelahirannya. Ayahnya seorang pedagang pecah belah. Sedang ibunya ialah saudara kandung sari bin mughallas al-Saqathi (w 253 H/867 M), tokoh sufi terkemuka yang kemudian menjadi gurunya dalam bidang tasawwuf.

Al-Junaid memiliki kecerdasan luar biasa. Dalam usia 20 tahun, ia telah mampu mengeluarkan fatwa. Dan bahkan jauh sebelum itu, ketika masih usia 7 tahun, ketika ditanya tentang definisi syukur secara tepat, ia menjawab: “Jangan sampai anda bermaksiat dengan nikmat yang diberikan Tuhan”.

Dalam bidang Tasawwuf, selain berguru kepada Sari al-Saqathi, ia juga berguru kepada Harits bin Asad al-Muhasibi (243 H/ 857 M) dan lain-lain. Dan al-Junaid-lah yang menjadi sumber inspirasi al-Muhasibi dalam menyusun karnyanya dalam bidang tasawwuf. Al-Junaid disepakati sebagai ulama yang yang berdiri di persimpangan jalan, semua kalangan menerima madzhab yang dibangunnya. Ia disepakati penyandang gelar “ Syaikh al-Tha’ifah al-Shufiyah” (Tuan guru Kaum Sufi). Menurut Ibn Atsir al-Jazari, ada empat faktor yang menjadikan madzhab Junaid ini disepakati sebagai laternatif dan pilihan Ahlussunnah wal-Jamaah.

Pertama, Konsinstensi al-Kitab dan al-Sunnah. Al-Junaid membangun madzhabnya di atas fondasi kaedah-kaedah al-Qur’an dan al-Hadits yang disepakati sebagai sumber primordial kaum muslimin. Hal ini sebagai pengaruh latar belakang almamaternya, di sana sebelum memasuki sufu, al-Junaid , di sana sebelum memasuki sufu, al-Junaid telah menemukan ilmu fiqh dan mengikuti madzhab ahli Hadits. Ia belajar kepada Abu Ubaid, Abu Tsaur dan pakar-pakar Hadits yang lain, sehingga dalam usia 20 tahun ia telah mengeluarkan fatwa dan menjyandang gelar mujtahid.

Penguasaanya terhadap ilmu-ilmu al-Qur’an, hadits dan Fiqh membawah pengaruh padanya membangun madzhabnya di atas fondasi al-Qur’an dan Sunnah yang valid. Isyarat-isyaratnya dalam tasawwuf kaya dengan dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah. Dalam konteks ini, ia berkata: “(tasawwuf) dibangun dengan al-kitab dan Sunnah. Barang siapa yang belum hafal al-Qur’an, belum menulis hadits dan belum mengerti agama secara mendalam, maka ia tidak bisa dijadikan teladan dan pemimpin tasawwuf”.

Kedua, konsistensi Syariat. Al-Junaid membnagun tasawwufnya juga diatas asas konsistensi dengan syariat yang harus selalu dipegang teguh dalam kehidupan sehari-hari. Para ulama’ mengakui, bahwa isyarat-isyarat al-Junaid dalam tasawwuf tidak ada yang bertentangan dengan syariat. Karenanya, menurut al-Junaid, Sunnah Rasulullah Saw harus mengatur kehidupan seorang sufi dalam setiap waktu. Seorang yang melenceng dari Sunnah Rasulullah Saw, maka pintu kebaikan akan tertutup baginya. Dalam konteks ini al-Junaid berkata “semua jalan menuju Allah tertutup bagi makhluk-Nya, kecuali mereka yang mengikuti jejak Rasul Saw, mengikuti sunnahnya, dan menetapi jalannya. Karena semua jalan menuju kebaikan terbuka bagi sunnahnya”.

Menurut al-Junaid, tasawwuf tidak bisa diikuti sebagian dan meninggalkan sebagaian lainnya, atau diikuti sepotong-sepotong saja. Tasawwuf harus secara paripurna dan konperhensif. “ tasawwuf harus dibangun di atas fondasi  8 akhlak para Nabi: yaitu kedermawanan Ibrahim AS, keridhoan Ishaq AS, kesabaran Ayyub AS, keterasingan YahyaA AS, isyarat Zakariya AS,  pakaian  wol Musa AS, pengembaraan Isa AS dan kefakiran Muhammad Saw”. Demikian jelasnya.

Al-Junaid menjelaskan, seseorang tidak dibenarkan mengikuti jejak seorang tokoh yang menyalahi Sunnah Rasulullah Saw, siapapun tokoh itu, termasuk dirinya. Ketika menjelang wafat, al-Junaid berwasiat agar semua catatan-catatan dari uraian-uraiannya dalam bidang tasawwuf dikubur bersamanya. Mengenai masalah ini, ia berkata: “saya berkeinginan, Allah tidak akan melihat saya meninggalkan ilmu pengetahuan yang dinisbatkan kepada saya, sedangkan ilmu Rasulullah Saw tersebar luas diantara manusia”. Ia merasa khawatir, orang-orang akan memilih isyarat-isyaratnya daripada sunnah Rasulullah Saw.

Konsistensi syariat ini juga dicontohkan sendiri oleh al-Junaid. Abu Bakar al-Athawi berkata: “al-Junaid tidaklah berhenti shalat dan membaca al-Qur’aa. Sedang beliau dalam keadaan sakit keras, hingga pada waktu beliau menghembuskan nafas yang terakhir, telah dibacanya 70 ayat dari surat al-Baqarah sebagai ulangan membaca al-Qur’an kesekian kalinya dalam keadaan sakit”.

Ketiga, kebersihan aqidah. Al-Junaid membangun madzhabnya di atas fondasi aqidah yang bersih, yakni aqidah Ahlussunnah wal Jamaah. Pada masa al-Junaid, tidak sedikit dari kalangan sufi yang terjerunus ke dalam aqidah yang tercela, seperti aqidah hululliya (tuhan menitis pada makhluknya), mubahhiya (libertinisme) dan kebathinan. Agaknya, faktor almamter al-Junaid berpengaruh positif terhadap aqidah yang menjadi landasan tasawwufnya, yaitu aqidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Satu contoh, menurut al-Junaid tanda-tanda hakikat keimanan seseorang ialah mendahulukan keridhaan Allah diatas segalanya dan menyita kesibukan diri karena selain-Nya, sehingga Allah-lah yang menjadi pemilik jiwa dan pendorong raga pada pelaksanaan perintah-Nya dan sketika itu pula ketaan pada-Nya menjadi sempurna, menyalahi segala hawa nafsu dan menjahii semua ajakan musuh-Nya, meninggalkan apa yang berhubungan dengan duniawi, menghadapkan diri pada Ilahi.

Keempat, Tasawwuf yang moderat. Al-Junaid membangun madzhabnya diatas fondasi ajaran moderat. Menurutnya, orang yang baik bukanlah orang yang berkonsentrasi melakukan ibadah semata. Sementara dirinya tidak ikut berperan memberi kemanfaatan pada sesama. Hal ini sebagaiman ia katakan:

“makhluk yang paling utama kedudukannya di sisih Allah dan yang paling agung derajatnya disetiap waktu dan masa, di setiap tempat dan negri dalah mereka yang paling menyempurnakan kewajibannya terhaap dirinya, paling terdahulu melakukan apa yang dicintai Allah, dan paling bermanfaat bagi hamba-haba-Nya”.

Pada masa al-Junaid, dikalangan sufi lahir suatu aliran yang ekstrem dan tidak moderat. Aliran ini beranggapan bahwa apabila seseorang telah mencapai maqam ma’rifat atau wali, maka pengamalan terhadap ajaran-ajaran agama tidak diperlukan baginya. Semua kewajiban menjadi gugur bagi dirinya. Pandangan ini mirip asumsi sebagaian orang dewasa ini, bahwa apabila maqam ma’rifat  telah dicapai, maka anak cucunya tidak perlu lagi berI dan rajin belajar, karena ma’rifat dan ilmu akan datang sendiri pada mereka. Menanggapi aliran ini, al-Junaid berkata:

“ini menurutku persoalan yang amat besar. Orang mencuri dan berzina lebih baik dari pada orang yang berpendapat seperti ini. Andaikan aku dikekalkan sampai usia 1000 tahun, niscaya aku tidak akan mengurangi sekecil atom pun amaliahku, terkecuali aku terhalang untuk menunaikannya. Dan amal itu akan lebih mengokohkan ma’rifatku dan memperkuat keadaan spiritualku”. Wallahu a’lam

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *