TIGA KELOMPOK ISLAM LIBERAL, MODERAT DAN RADIKAL


KH. Lutfhi Bashori

Dalam konteks ke-indonesia-an, umat Islam mengalami berbagai evolusi. Menurut sejarah Indonesia, Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para Ulama dari negeri Gujarat India lewat jalur perdagangan.

Jika diteliti lebih lanjut dan ditarik garis ke atas, maka akan ditemukan bahwa para perintis penyebaran Islam di Indonesia ini adalah keturunan dari tokoh-tokoh Ulama yang berasal dari negeri Yaman, tepatnya di tanah Hadramaut. Terbukti, bahwa pemahaman Islam yang mereka sebarkan di Indonesia adalah bermadzhab Sunny Syafi`i, sesuai dengan madzhab yang dianut oleh nenek moyang mereka yang berada di Hadramaut Yaman.

Belum lagi banyaknya warga keturunan Hadramaut yang hingga kini mendominasi keberadaan etnis Arab yang tersebar di negeri ini.

Terjadinya evolusi dalam tubuh umat Islam Indonesia, ditengarai sejak datangnya penjajah Belanda yang ikut menyebarkan agama Nasrani, serta memberi kontribusi perilaku yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia, terutama kalangan umat Islamnya.

Ringkasnya, pengaruh penjajahan Belanda mencapai 350 tahun mencaplok bumi Indonesia, inilah yang menjadi salah satu faktor utama mengapa umat Islam Indonesia tidak lagi menjadi utuh dalam pemahaman keagamaannya, sebagaimana yang diajarkan oleh para penyebar Islam pertama kali di Indonesi, terutama Walisongo dan para koleganya.

Kini umat Islam Indonesia telah menganut berbagai madzhab pemikiran, serta perilaku keagamaan, yang semakin hari semakin bermunculanlah hal-hal yang sebelumnya tidak dikenal oleh masyarakat Islam Indonesia. Sebut saja misalnya munculnya paham nasionalis religius, yang mana keberadaan pengikut pamahan ini tiada lain karena terinspirasi dari sikap sekelompok tokoh beragama Islam, namun tetap ingin mempertahankan eksistensinya sebagai orang-orang yang selalu berkiprah dalam perebutan kekuasaa kebangsaan di negeri ini, yang mana dalam menjalani kehidupan sosial kemasyarakatannya tidak bersedia diatur oleh hukum syariat Islam secara utuh.

Dewasa ini, ada tiga kelompok besar dalam tubuh umat Islam Indonesia:

KAUM LIBERAL, yaitu kelompok yang tetap mengaku sebagai pemeluk Islam, namun tidak bersedia diikat oleh peraturan syariat agama Islam yang telah baku dan menjadi standar hukum di kalangan masyarakat dunia Islam. Kelompok Liberal ini dalam status penolakannya terhadap syariat Islam bertingkat-tingkat. Adapun yang tergolong kelompok ini antara lain adalah kaum sekuleris, nasionalis, pluralis, dan liberalis.

Kelompok ini pada dasarnya adalah lebih menuhankan akal pikiran dan hawa nafsunya dibanding ketaatan dan ketundukannya kepada syariat Islam secara utuh.

KAUM MODERAT, namun penulis lebih senang mengistilahkan dengan KELOMPOK KONSISTEN, sebagai terjemahan dari istilah ISTIQAMAH, ini jika yang dimaksud adalah umat Islam yang masih konsisten berpegang teguh terhadap ajaran syariat Islam dalm pemahaman Ulama Salaf Ahlussunnah wal jamaah. Karena jika disebut dengan istilah KAUM MODERAT (meminjam istilah panitia Kuliah Jumat, Ponpes Sarang Rembang) dewasa ini, maka akan dipahami oleh masyarakat awam, lebih berorientasi kepada kelompok liberal, karena arti MODERAT, kini sudah bergeser kepada arti kelompok yang dapat menerima hal-hal di luar konteks syariat, termasuk dapat menerima segala macam aliran pemikiran bahkan menerima perilaku dan ritual non muslim.

Jadi dalam pembahasan kelompok Moderat ini, penulis akan menfokuskan pada istilah kelompok Konsisten.

Kelompok Konsisten ini adalah mayoritas umat Islam yang masih mengikuti ajaran syariat yang telah diterima secara estafet dengan panduan kitab yg standar yang diterima secara estafet pula dari para ulama dan orang tua, dari generasi pendahulunya yang lebih tua lagi hingga sampai kepada para pembawa dan penyebar agama Islam yang pertama kali datang ke Indonesia, yaitu para Walisongo dan ulama sejamannya. Kelompok Konsisten ini, selalu berupaya untuk menerapkan syariat Islam secara utuh, namun tetap disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang secara riil dihadapi.

Di saat bergaul dengan masyarakat yang belum mampu menerapkan syariat Islam secara utuh, maka kelompok ini mengambil kebijakan yang sedikit lentur namun tetap mengarahkan masyarakat untuk dapat melaksanakan syariat Islam dengan sempurna.

Sebagai ilustrasi, Walisongo dapat berdakwah melalui jalur budaya asli tanah Jawa yang secara kasat mata tidak ada kolerainya dengan pelaksanaan syariat.Namun pada kesempatan lain, para Walisongo tidak segan-segan menghukum mati Syekh Sidi Jenar, yang secara ilmu dhahir atau kasat mata dinilai telah melakukan tindak pidana perbuatan kemurtadan di depan khalayak, dengan pengakuannya semisal AKU ADALAH ALLAH. Para Walisongo ini hanyalah melaksanakan kaedah syariat: Nahnu nahkum bid dhawahir wallahu ya`lamus sarair (kami menghukumi secara dhahir, sedangkan Allah yang mengetahui rahasia yang tersembunyi), serta mengqiaskan dengan hadits: Man baddala diinahu faqtuluuhu (barang siapa yang menggantikan agamanya/murtad, maka bunuhlah).

Keputusan para Walisongo dalam menghukum mati Syekh Sidi Jenar, adalah upaya melaksanaan syariat Islam secara utuh, tatkala mereka mendapatkan kesempatan yang memungkinkan terhadap pelaku kemurtadan, tentunya sesuai dhahir kaedah syariat. Kelompok Konsisten di masa kini, sudah seharusnya meneladani sikap dan perilaku serta ajaran Walisongo ini.

Yaitu, saat menghadapi situasi yang belum memungkinkan melaksanakan syariat semisal terhadp tindak pidana, maka selayaknya dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya. Namun, jika ada kesempatan dan ada kemampuan untuk melaksanakan Amar ma`ruf sekaligus mengamalkan Nahi mungkar dengan arti yang sesungguhnya dan dirasakan dapat membawa kemaslahatan umat, maka sudah sepatutnya kelompok konsisten ini menjalankan kewajiban tersebut, tanpa harus merasa khawatir atau takut dijuluki masyarakat sebagai kelompok garis keras, atau kelompok ekstrim, dll.

Sebab, jika benar orang yang melaksanakan syariat nahi mungkar dengan memerangi perilaku tindak pidana, dikategorikan sebagai kelompok garis keras atau ekstrim, maka para Walisongo-lah yang paling tepat mendapat julukan kelompok garis keras maupun ekstrim.

Jadi, mengelompokkan kaum Konsisten ke dalam kelompok garis keras, atau ekstrim, atau bahkan radikal, yang akan dibahas pada sesi berikut, menjadi tidak logis dan tidak tepat.

KAUM RADIKAL. Dalam hal ini, penulis membagi kaum Radikal menjadi dua. Pertama, kaum Radikal dalam pemikiran dan pemhaman.

Maksudnya, setiap kelompok Islam yang tidak dapat bertoleransi dengan kelompok Islam lainnya, hanya karena beda organisasi, atau hanya karena perbedaan pemahaman yang bersifat furu` atau khilafiyah furu`iyah, bukan perbedaan yang menyangkut aqidah atau usuluddin atau ketauhidan, maka kelompok ini dinamakan kaum Radikal.

Seperti adanya kelompok Wahhabi/Salafi yang senang mengkafirkan kaum muslimin, karena dianggap telah melakukan bid`ah dhalalah, padahal yang dilakukan oleh masyarakat hanyalah sekedar mengundang warga untuk membaca Alquran, shalawat Nabi, dzikir, mendengar ceramah agama, dan memberi sedekah makan, hanya saja dilakukan dalam sebuah rangkaian acara yang disebut TAHLILAN.

Jadi, kelompok yang mengkafirkan jama`ah tahlilan inilah yang disebut sebagai kelompok Radikal dalam pemikiran dan pemahaman.

Kedua kaum Radikal dalam perilaku. Kelompok ini adalah mereka yang melakukan perusakan fisik maupun pembantaian terhadap nyawa orang lain, tanpa mempertimbangkan syarat-syarat yang ditetapkan ole syariat perang. Ada istilah yang memudahkan umat untuk mengenal kelompok ini, yaitu adanya BOM BUNUH DIRI dan BOM SYAHID.

Bom bunuh diri yaitu bom yang dilakukan di negara daarul amaan, dengan sasaran membabibuta, menghancurkan fasilitas umum yang diperkenankan oleh syariat semisal halte bis, membunuh wanita dan anak-anak serta orang-orang tua rentah, menumbangkan pepohonan dsb. Bom bunuh diri hukumnya haram dan pelakunya dianggap fasik, namun tidak sampai murtad, karena telah melanggar tata cara syariat peperangan melawan kekafiran.

Sedangkan bom syahid dilakukan di negara konflik antar umat Islam melawan orang-orang kafir. Dengan adanya perkembangan teknologi, maka salah satu strategi untuk dapat membalas serangan musuh, yang dewasa ini memiliki peralatan perang yang lebih canggih dari peralatan milik umat Islam, maka sebagian para ulama yang hidup di wilayah konflik telah menfatwakan bolehnya melakukan bom syahid, yang dalam bahasa Jepang dikenal dengan istilah Kamikaze.

Pelaku bom syahid tidak dinamaka sebagai kelompok radikal, namun tergolong kelompok Konsisten dalam membela agama Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *