TIADA WAKTU BERHENTI UNTUK BERDZIKIR

KH. Luthfi Bashori

Jika ada orang yang bertanya, kapan sejatinya waktu yang diperintahkan untuk dzikir kepada Allah itu?

Maka jawaban yang benar adalah, selama 24 jam dalam sehari adalah waktu yang tepat untuk melantunkan dzikir kepada Allah, kecuali di saat buang hajat di toilet, atau ssedang berhubungan suami istri dan saat khatib Jumat sedang berkhatbah serta ketika sedang bermaksiat semacam mabuk dan sebagainya, maka dalam kondisi seperti itu tidak dianjurkan bagi orang yang beriman itu melantunkan dzikir kepada Allah secara lisan.

Jadi, kapan saja seseorang itu ingin berdzikir, maka saat itu pula dianjurkan untuk menlaksanakan keinginannya itu, tanpa harus dibatasi oleh waktu dan tempat. Tentu saja ada dzikir-dzikir yang khusus disunnahkan untuk dilantunkan pada waktu-waktu tertentu, seperti sunnahnya bertakbiran pada hari raya namun dimakruhkan untul dibaca pada selain hari raya.

Namun, untuk kalimat-kalimat thayyibah yang termasuk dalam kategori dzikir kepada Allah, maupun shalawat kepada Rasulullah SAW, maka kapan pun boleh dibaca tanpa ada batas. Bahkan dalam keadaan shalat ada pula dzikir-dzikir tambahan yang pernah dilantunkan oleh Rasulullah SAW serlain dari doa shalat yang sudah baku.

Sy. Abu Sa’id menyatakan, apabila berdiri untuk shalat pada malam hari, Rasulullah SAW bertakbir. Lalu mengucapkan: “Subhaanakallahumma wa bihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaaha ghairuka” (Maha Suci Engkau ya Allah dengan memuji kepada-Mu. Maha Suci asma-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tiada Tuhan selain Engkau). Selanjutnya beliau SAW mengucapkan: “Allaahu Akbar Kabiira… (doa Iftitah).”

Kemudian beliau SAW mengucapkan ta’awwudz: “A’uudzubillaahissamii’il ‘aliimi minash syaithaanir-rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naf-tsihi” (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, yakni dari godaan, rayuan, dan cumbuannya). (HR. Ash-habus Sunan).

Sy. Abu Hurairah RA juga sering memperhatikan, bahwa Rasulullah SAW selalu berdiam sejenak antara takbiratul ihram dengan bacaan Fatihah. Lalu ia bertanya, “Demi bapak dan ibuku ya Rasulullah, apakah yang engkau ucapkan sewaktu berdiam di antara takbir dan bacaan?”

Rasulullah SAW menjelaskan, “Aku mengucapkan: ‘Allahumma baa’id baini wa baina khathaayaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii min khathaayaya kamaa yunaqqats tsaubul abyadlu minaddanas. Allahummaghsilnii khataayaya bits-tsalji wal maa i wal barad’ (Ya Allah, jauhkanlah antara diriku dengan kesalahan-kesalahanku sebagaimana engkau jauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, bersihkan diriku dari dosa-dosa sebagaimana baju putih yang di bersihkan dari kotoran. Ya Allah, bersihkanlah semua dosa-dosaku dengan air, es, dan embun).” (HR. Lima Ahli Hadits, kecuali Tirmidzi).

Di kalangan para shahabat pun banyak yang berkreasi sendiri dalam melantunkan dzikir kepada Allah, dengan bacaan-bacaan yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW sebelumnya, sebagaimana yang diceritakan oleh Sy. Ibnu Umar RA, bahwa suatu saat ia dan para shahabat yang lain sedang shalat bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba seorang laki-laki di antara kaum (yang bermakmum) mengucapkan: ‘Allahu Akbar Kabiiran wal Hamdulillaahi Katsiiran wa Subhaanallahi Bukratan wa-ashiilaa’ (Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, serta Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang).

lantas Rasulullah SAW, “Siapakah orang yang telah mengucapkan kalimat demikian dan demikian?”

“Aku, Ya Rasulullah,” ucap laki-laki itu.

“Aku merasa kagum dengan kalimat tersebut, karena pintu-pintu langit dibuka karenanya,” komentar Rasulullah SAW.

Lalu Sy. Ibnu Umar RA menyatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan kalimat-kalimat tersebut, sejak aku mendengar Rasulullah SAW mengatakan seperti itu.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=414600688976373&id=100012793361980&ref=bookmarks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *