TASAWUF DAN MEDIATOR ARWAH 

Hb. Muhammad Vad’aq
Tasawuf islami yang murni adalah ilmu maqamat, ahwal, dan akhlak-akhlak mulia. Maqamat dan ahwal sufi yang banyak memenuhi tulisan-tulisan mereka itu bersumber pada Al-Qur’an, seperti mujahadatun nafs yang merupakan permulaan jalan menuju Allah SWT.

Maqamat menurut kalangan sufi adalah seperti taubat, zuhud, wara’, memerlukan Allah SWT, sabar, ridha, tawakal dan lainnya

Yang dimaksud ahwal adalah seperti muraqabah (merasakan pengawasan Allah SWT), cinta, takut, harapan, rindu, merasakan kebersamaan Allah SWT, musyahadah, yakin, dan lainnya.

Semakin tinggi tasawuf seorang seharusnya semakin taat dia kepada syariat Allah Swt. Mari simak pendapat para panutan kaum sufi:
Abu Qasim Al-Junaid bin Muhammad, imam kelompok tasawuf menuturkan, “Siapa yang tidak hafal Al-Qur’an dan tidak menulis hadits, ia tidak patut menjadi teladan dalam tasawuf, sebab ilmu kami terikat oleh Al-Qur’an dan sunnah.”

Ia juga menuturkan, “Madzhab kami, yaitu tasawuf, terikat oleh asas-asas Al-Qur’an dan sunnah. Ilmu kami dikuatkan oleh hadits Rasulullah SAW.” Ia juga berkata, “Semua thariqat tertutup bagi manusia, kecuali siapapun yang meniti jejak Rasulullah SAW.”
Sahal bin Abdulllah At-Tustari berkata, “Haram bagi hati mencium bau yakin sementara di sana terdapat kecenderungan kepada selain Allah SWT.”

Abu Hafsh menyatakan, “Baiknya etika lahiriah merupakan pertanda baiknya etika batin, sebab nabi SAW. bersabda, ‘Andai hati orang ini khusyuk niscaya seluruh anggota badannya khusyuk’.”
An-Nashr Abadzi berkata, “Landasan tasawuf adalah berpedoman pada Al-Qur’an dan sunnah, meninggalkan hawa nafsu, bid’ah, rukhshah dan berbagai macam takwil.”

Imam Hafsh menuturkan, “Siapapun yang tidak menimbang semua tutur kata dan kondisinya setiap saat berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah serta tidak mengoreksi isi hati, ia tidak termasuk dalam daftar nama-nama tokoh sufi.” Dinukil dari kitab Tahdzirul ikhwan karya Al-Faqih Al-Muhaqqiq Al-Habib Zen Bin Sumaith.

Namun sangat disayangkan ilmu yang baik dan bermanfaat, berubah fungsi menjadi ilmu melegalisasi pelanggaran syariat dan ilmu gaib yang penuh kebohongan dan kepalsuan.

Mereka berdalih bahwa pelanggaran syariat itu hanya zahirnya saja, adapun batin dan hakikatnya tidak melanggar. Dengan metode semacam ini akan mudah sekali orang awam tertipu, bahkan terbiasa melihat guru mereka tidak shalat, menyentuh wanita, khulwat bukan dengan mahramnya, ghibah, qadhaf, riba, menerima uang syubhat dan haram, pelanggaran berat itu akan diyakini oleh pengikutnya, bahwa kita belum sampai maqam mereka.

Alih fungsi kedua pemimpin sufi yang seharusnya memberi pencerahan iman dan ilmu, berubah menjadi mediator arwah dan penghubung antara penduduk bumi dan alam barzakh. Begitu mudah mengklaim kuburan majhul( yang tidak dikenal sebelumnya) adalah syekh fulan.

Entah pakai ilmu apa, dan kitab panduan apa? yang pasti ilmu seperti ini tidak ada dalam kitab-kitab muktabar ilmu tasawuf.Anehnya ketidak percayaan kita terhadap ilmu lahut(klenik) akan mereka takut-takuti dengan fonis kualat dan bukan Aswaja.

Fenomena lain para jahilin yang ditokohkan ini mengatakan bahwa wali fulan yang telah meninggal ratusan tahun lalu pindah ke makam lain. Apakan dongeng semacam ini juga ada hubungan dengan ilmu tasawuf? Sekali lagi tidak.

Tasawuf harus taat dan tunduk pada firman Allah dan sabda junjungan kita sayyiduna Muhammad SAW. Begitu bahaya jika seorang tidak mengerti dan tidak taat syariat ditokohkan dan dijadikan panutan.  يريد ان ينفعك فيضرك

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *