Sifat Negatif Penakut

KH. Luthfi Bashori

Termasuk salah satu sifat negatif  yang sering terjadi pada diri seseorang adalah sifat penakut. Yang dimaksud dengan sifat penakut, bukanlah takut terhadap sejenis hantu yang sering menjadi ikon bagi seseorang yang dianggap pemberani atau penakut. Seperti dikatakan,  pemberani adalah orang yang tidak takut terhadap hantu, sedangkan penakut adalah orang yang lari terbirit-birit saat menghadapi hantu.

Namun, dalam pembahasan ini, tema penakut yang dinilai negatif adalah yang berkaitan dengan sebuah perilaku seseorang  dalam beragama dan bermasyarakat. Maka para penakut adalah mereka yang tidak berani mengamalkan nahi munkar di saat umat Islam sangat membutuhkan ketegasannya.

Seorang tokoh, terkadang justru merasa takut menunjukkan sebuah kebenaran, karena mempertimbangkan dampak untung rugi bagi dirinya sendiri, tentunya jika akan mengungkap sebuah kebenaran yang ternyata menanggung resiko baginya. Maka sifat yang demikian itu termasuk penakut yang sangat negatif.

Menjadi seorang muslim yang kuat dan berani adalah anjuran Nabi SAW dalam sabda beliau: Almukminul qawi khairun min al muknminid dhaif (seorang muslim yang kuat itu adalah lebih utama dibanding seorang muslim yang lemah).

Kuat dalam segala hal adalah sifat yang sangat positif, contohnya memiliki badan yang sehat, ekonomi yang kuat, jiwa yang berani, kepribadian yang tegar dan lain sebagainya. Sebaliknya lemah dalam segala hal adalah sifat yang negatif, seperti mempunyai badan yang terbelit penyakit, ekonomi yang serba kekurangan, jiwa yang penakut, dan kepribadian labil yang tidak memiliki prinsip hidup.

Nabi SAW juga menggambarkan, bahwa di suatu jaman akan datang masanya umat Islam itu menjadi warga mayoritas, namun lemah dalam kepribadiannya, hingga Nabi SAW menggambarkan, keberadaan umat Islam saat itu hanyalah ibarat ghutsaa-un kaghutsaa-is sail (ibarat buihnya ombak), yang selalu hanyut oleh perubahan jaman.

Nabi SAW juga menggambarkan bahwa konon agama Islam ini saat pertama kali datang di tengah masyarakat, termasuk ajaran agama yang asing di telinga dan bahkan terasingkan, dan suatu saat akan terjadi pula bahwa ajaran agama Islam ini menjadi asing di tengah masyarakat dan terasingkan. Sekalipun di saat itu identitas mereka tetap beragama Islam, namun hakikat jiwa meraka sudah jauh dari ajaran Islam itu sendiri.

Jika datang masa semacam itu, Nabi SAW menganjurkan agar umat Islam yang baik dan kuat, tetap memegang prinsip hidup mengikuti ajaran syariat Islam dengan baik dan benar, sekalipun akan diasingkan oleh lingkungannya.

Nah, sifat penakut untuk menjadi warga muslim hakiki yang tetap berprinsip syariat Islam dalam menjalani kehidupan, kini sudah banyak melanda umat Islam di Indonesia ini. Kehidupan umat Islam pun semakin jauh dari aturan main syariat, bahkan kini perilaku umat Islam lebih cenderung mengikuti arus perubahan jaman. Tampaknya telah datang jaman seperti yang digambarkan oleh Nabi SAW.

Coba tengok satu masalah saja, bagaimana pelaksanaan acara semacam Indonesian Idol, yang sangat digandrungi oleh para remaja muslim, dan mendapatkan motivasi dan dukungan dari keluarga dan pengidola para pesertanya. Di saat seleksi saja sudah ribuan yang datang berbondong-bondong untuk mencoba peruntungannya. Jauh berbeda dengan minat mereka terhadap kegiatan keagamaan.

Padahal jelas-jelas tampilnya seseorang dalam dunia semacam Indonesian Idol ini adalah perbuatan bid`ah dhalalah (sesat) yang bertentangan dengan ajaran syariat Islam. Padahal tidak selayaknya umat Islam tergiur untuk menjadi idola yang populer dalam dunia yang tidak diajarkan oleh syariat Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *