Salman Rusdhie, Joshua, dan Sensitivitas yang Terusik

Ini pelajaran bagi semua pihak, baik komika dan figur publik lainnya agar berhati-hati dalam menyampaikan materi yang akan disampaikan di ruang publik

Oleh: Ady Amar

SAAT novel The Satanic Verses, karya Salman Rushdie terbit (1988), muslim di belahan dunia meradang marah. Novel yang ditulisnya itu menghina Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, istri-istrinya (ummahat mu’mina), terutama Aisyah r.a., dan ayat-ayat Tuhan yang dijaga kesuciannya.

Kemarahan muslim di dunia hingga kini masih terasa, belum juga terobati. Bagaimana mungkin bisa terobati atas karya kontroversial itu. Gaya penulisan novelnya memakai pendekatan sejarah yang dibalut dengan realisme magis. The Satanic Verses, bagi seseorang yang memiliki iman sedikit saja akan marah membaca isi novel yang tingkat penodaannya amat keterlaluan. Banyak yang tidak sanggup membaca novel itu hingga akhir, karena dada serasa meledak jika diteruskan …

Ada pula yang sanggup menyelesaikan membacanya hingga tuntas novel itu, tapi tidak sanggup mengisahkan isi novel yang dibacanya. Pantaslah jika umat di belahan dunia marah.

Rabithah A’lam Islami dan OKI pun hingga harus membahas novel sesat itu, dan mengutuk penulisnya. Jika tidak bertobat, maka Salman Rushdie dinyatakan murtad dari Islam.

Adalah Annemarie Scheimmel, perempuan Jerman, seorang orientalis yang banyak menulis soal-soal Sufi dan dianggap paling otoritatif berbicara tentang Rumi, pengajar di Harvard University. Apa katanya tentang Salman Rushdie?

“Saya tidak yakin dia seorang muslim yang taat, mengenal sedikit saja tentang Islam saya ragu. Jika dia mengenal sedikit saja tentang agamanya, maka dia tidak akan menulis buku yang begitu menyesatkan…”

***

Di negara yang mayoritas Islam, yang berpanca sila ini, kita disuguhi lawakan di mana agama dibuat lucu-lucuan dengan tanpa beban. Adalah Ahok, yang memulai “penyerangan” di dalam pekarangan rumah muslim dengan begitu beraninya. Yang karena mulutnya itu dia harus mendekam di penjara.

Komika Joshua Suherman, mantan penyanyi cilik, berani menghina agama mayoritas sebagai bahan candaan. Wajar jika kelompok muslim tertentu (FUIB: Forum Umat Islam Bersatu) melaporkannya pada pihak berwajib.

Saya ingin mengutip apa yang disampaikan Joshua itu secara utuh:

“Dan yang gue bingung adalah Cherly ini walaupun Leader, dia gagal memanfaatkan kepemimpinannya untuk mendulang popularitas untuk dirinya sendiri, terbukti zaman dulu semua laki-laki tertujunya pada Annisa. Annisa, Annisa … semuanya Annisa. Skill nyanyi, ya tipis-tipis ya kan. Skill ngedance ya tipis-tipis. Cantik, relatif ya kan. Kenapa gue mikir? Kenapa Annisa selalu unggul dari Cherly. Haah sekarang gw ketemu jawabannya. Makanya Che … Islam. Karena di Indonesia ini ada satu hal yang tidak bisa dikalahkan dengan bakat sebesar apa pun. Mayoritas, mayoritas. Saya Joshua Suherman.”

Tentu semua mafhum bahwa yang dimaksud Joshua, mayoritas dalam materi lawakannya adalah umat Islam.

Seberapa besar dan terkenalnya seseorang itu, akan menjadi kecil dan terbanting, jika dia memperolok agama (Islam) atau Ayat-ayat-Nya. Agama itu sensitif untuk dipakai mainan atau candaan. Jagalah lisan saat mengumbar candaan di hadapan publik, hindari masuk pada perkara dan hal sensitif yang dapat menimbulkan reaksi kemarahan umat.

Agama apa pun itu sakral. Tidak boleh ada yang menghinanya, apalagi menjadikan bahan candaan. Sensitivitas agama itu dahsyat, umat akan membelanya dengan segala upaya.

Melalui akun Youtube-nya, Deddy Corbuzier, seorang mentalis dan pembawa acara, melihat reaksi publik atas candaan komika Joshua Suherman, melakukan polling. Hasilnya, 66 persen dari 72 ribu orang mengatakan bahwa Joshua menista agama.

Komennya, “Saya dari dulu tahu bahwa masalah agama adalah hal sensitif. Bukan hanya agama, suku, ras, antargolongan very sensitive ...,” paparnya melalui video Youtube yang diunggahnya pada Jum’at (12-1-18).

Ini pelajaran bagi semua pihak, baik komika dan figur publik lainnya agar berhati-hati dalam menyampaikan materi yang akan disampaikan di ruang publik. Apa yang pantas dan tidak pantas mestinya menjadi acuan dalam bertutur dan bersikap. Mari kita jaga “pekarangan” kita masing-masing, dengan demikian harmonisasi hidup di tengah masyarakat yang beragam menemukan keindahannya.*

Pemerhati Sosial dan Keagamaan

Rep: Admin Hidcom

https://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2018/01/14/132975/salman-rusdhie-joshua-dan-sensitivitas-yang-terusik.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *