Salah Paham Tentang Tasawwuf

Kholili Hasib

Sebagian orang memandang Tasawuf dengan penilaian miring. Bahkan aktivitas sufisme dianggap mengandung unsur-unsur kemusyrikan. Pandangan negatif ini muncul disebabkan kajian tasawuf tidak ditelaah secara adil, ilmiah dan bijaksana. Padahal tasawuf – yang ajarannya berakar sejak zaman sahabat – merupakan salah satu jembatan menuju kesempurnaan dan kemurnian jiwa seorang mu’min sejati, bakan kecemerlangan umat Islam dalam Perang Salib tak bisa dilepaskan dari peran ulama’ tasawwuf seperti Imam al-Ghazali dan Abd. Qadir al-Jilani.

Tasawuf dapat dikatakan sebagai sebuah madrasah ilmiyah – yang mendidik pengikutnya untuk mencapai kesempurnaan iman. Dalam praktiknya sama sekali tidak ada penyimpangan syari’at. Kecuali sebagian orang yang telah menyimpangkan garis-garis ajaran tasawuf para salaf as-shalih. Ajaran sengaja dibelokkan hanya didorong oleh semangat duniawiy serta bekal syari’at yang amat minim.

Latas, tersebarlah paradigma-paradigma yang salah mengenai tasawuf. Tasawuf bersumber dari ajaran Hindu, proyek orientalis, musyrik dan pandangan-pandangan negatif lainnya.

Akibatnya kalangan awam dengan gampang menyebut orang sakti, nyeleneh, dan kumuh sebagai ahli tasawuf. Seorang tokoh sufi, Imam Junaid al-Baghdadi memperingatkan: ”Jika anda melihat seseorang diberi banyak keramat atau tanda-tanda istimewa dan luar biasa sampai ia dapat berjalan di udara, janganlah kamu tertipu karenanya sebelum kamu perhatikan bagaimana sikapnya terhadap perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya. Dan bagaimana pula ia melaksanakan syari’at”.

Imam Dzun Nun Al-Mishri berkata: ”Inti pembicaraan soal tasawuf itu ada empat, Pertama, mencintai Allah, membenci duniawiy, mengikuti al-Qur’an, dan takut menjadi kafir.

Kajian-kajian ilmu tasawuf tidak pernah terlepas dari al-Qur’an dan Hadis. Menurut Imam al-Junaid, para ahli tasawuf itu selalu konsisten menjaga al-Qur’an dan mengamalkannya. Karena prinsip utamanya (pokok) adalah al-Qur’an dan as-Sunnah.

Bila dikaji dari perspektif al-Qur’an dan as-Sunnah, ajaran tasawuf dan para ulama’ ahli sufi memiliki benang merah dengan Islam.
Disamping pandangan di atas, berkembang pula pendapat bahwa tasawuf adalah ajaran sesat, musyrik dan bid’ah. Padahal tasawuf itu sudah diamalakan oleh para sahabat dan salaf sholeh. Imam Mujtahid yang empat semuanya adalah ulama’ sufi.

Selama amalan dan perbuatan itu tidak sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW, maka amalan atau perbuatan tersebut adalah batil dan salah. Walaupun ia mengamalkan tarikat sufi.
Pertama-tama yang menghembuskan isu negatif ajaran tasawuf sebenarnya adalah para orientalis. Seorang orientalis bernama Jones menulis bahwa tasawuf merupakan paduan dari Neoplatonisme Zaradustra dan Yunani kuno. Tentu saja ada target yang hendak dibidik oleh orientalis.

Para sahabat – yang mula-mula mengamalkan tasawuf Islam – dalam sejarah terbukti sebagai generasi yang amat tangguh. Mereka bahkan mampu menaklukkan dua negeri adidaya waktu itu yaitu Persia dan Romawi. Ajaran zuhud, wara’, tajalli, dan tahalli yang terpatri dalam dada generasi terbaik ini menjadi motor penggerak semangat berjuang, murni karena Allah. Ada yang mengatakan mereka adalah Fursanu bi al-nahar wa ruhban bi al-lailiy (penunggang kuda di siang hari, dan rahib di malam hari).

Karakter-karakter seperti generasi sahabat inilah yang dikhawatirkan oleh orang-orang Barat. Untuk itu mereka berusaha menciptakan stigma negatif terhadap ajaran tasawuf.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *