Raihlah Dunia Untuk Akhirat

Oleh: Muhammad Saad

Manusia zaman sekarang menimbang sebuah kebahagiaan dari segi materi. Mereka membanggakan harta melimpah yang dimilki, serta keturunannya yang telah mapan semua. Hari-harinya hanya diisi dengan sibuk aktivitas duniawi dan merawat serta menghitung hartanya. Mereka merasa bahwa itulah puncak kesuksesan bagi anak manusia.

Padahal dalam pandangan Islam, harta dan keturunan pada hakikatnya adalah “cobaan” bagi manusia. Semakin banyak harta yang ditumpuk, menjadikan anak manusia semakin kurang memilikinya, sehingga semakin besar hasrat untuk memperolehnya. Anehanya, pada saat yang sama mereka semakin ketakutan kehilangannya.

Allah menyebut dunia sebagai kesenangan yang amat sedikit. Buktinya, meski manusia kumpulkan harta begitu melimpah ruah, namun mereka terbatas menggunakan harta yang mereka miliki.

Makanan yang dihidangkan dengan berbagai varian, terbatas dengan perut yang mereka miliki, ia hanya mampu satu piring, maksimal dua piring, itupun sudah mengurangi rasa nikmat dari makanan. Rumah banyak , bahkan memiliki villa, dia tiap malam yang butuh satu kama dengan ukuran 2 x 3 M untuk berisitirahat. Istri empat, terbatasi dengan kemampuan seksual satu kali. Cukup hanya memenuhi satu kali kebutuhannya.

Harta yang mereka kumpulkan dengan susah payah, harta yang mereka jaga dengan segenap jiwa raga, pada gilirannya akan ia tinggalkan dan akan dinikmati oleh generasinya. Bukan harta yang meninggalkan dia, namun justru dia yang harus meninggalkan harta tersebut. Dia dipaksa oleh kematian untuk berpisah dengan meninggalkan semua yang ada, Istri tercinta, anak keturunan dan hartanya.

Lalu jika kita mengetahui hakikat dunia tidaklah lebih hanya cobaan semata. Apakah kita tetap beroientasi demikian dengan harta.

Islam tidak melarang umatnya mencari dunia, Islam adalah agama yang mempreoritaskan Akhirat tanpa melupakan dunia. Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari (nikmat) duniawi…[QS. Al-Qashas; 27]

Namun pencarian dunia ini sekiranya bisa menjadi tabungan untuk negeri akhirat, bukan malah menjadi “fitnah” di akhirat nantinya.

Menafkahkan untuk kebutuhan anak Istri, untuk pendidikan anak menjadi anak yang cerdas dan shalih. Menyisihkan harta untuk perjuangan Islam, menyantunkan kepada anak yatim, mensedekahkan kepada fakir miskin, adalah sedikit contoh membelanjakan harta untuk tabungan akhirat kita.

Hal itu bisa kita lakukan hanya dengan menata niat, sebab pokok dari amal shalih adalah dari niat (innamal a’malu binniyati). Sedangkan mengetahui dan merubah semua menjadi amal shalih dengan niat adalah menggunakan ilmu.

Oleh karenanya, marilah kita rubah paradigma cinta buta kita pad adunia ini, menjadi tabungan kebahagiaan kita diakhirat dengan senantiasa memperoleh ilmu Agama. Wallahul musta’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *