PRESIDEN  DZALIM & KERAS KEPALA,  MAKA NERAKALAH TEMPATNYA

KH. Luthfi Bashori

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Pada hari kiamat kelak akan muncul dari neraka, api yang berbentuk seperti leher. Ia memiliki dua mata yang dapat melihat, dua telinga yang dapat mendengar, dan lisan yang dapat berbicara. Ia katakan, ‘Aku ditugaskan mengambil tiga macam orang, yaitu: orang yang berlaku sewenang-wenang dan keras kepala; orang yang menyembah Tuhan lain di samping Allah; dan orang yang membuat patung-patung.” (HR. Tirmidzi),

Dalam pembahasan kali ini, maka sesuai judul yang tertera di atas, hanya difokuskan pada masalah bagaimana kelak nasib presiden yang dzalim dan sewenang-wenang terhadap rakyatnya, khususnya terhadap umat Islam.

Jelas sekali ancaman neraka ini termasuk ditujukan kepada presiden dzalim dan keras kepala, yang sengaja menebar permusuhan terhadap umat Islam, semisal presiden yang sengaja unjuk kekuatan militer demi menakut-nakuti umat Islam yang sedang menuntut hak-nya, sebagaimana yang terjadi di Indonesia, saat si kafir Ahok menistakan Alquran kitab suci umat Islam, ternyata presiden tidak segera memenjarakannya, sekalipun jutaan umat Islam mengadakan Aksi Damai menuntut “PENJARAKAN AHOK”.

Sayangnya sang presiden malahan berupaya menunjukkan kekuatan militer dan mengonotasikan bahwa militer masih dapat ia gerakkan untuk mengamankan posisinya sebegai presiden pelindung si Ahok musuh umat Islam, padahal umat Islam yang melakukan Aksi Damai itu hanya meminta agar Ahok dipenjara karena melanggar undang-undang negara pasal penistaan agama.

Neraka juga telah dipersiapkan bagi siapa saja yang sengaja membela si Ahok penista Alquran, khususnya pada kasus pelecehan terhadap surat Almaidah – 51 yang ia katakan untuk ‘membodohi’ dan ‘membohongi’ umat Islam.

Baik pembelaannya itu secara langsung, seperti uupaya dengan berbagai macam cara agar si Ahok tidak diseret ke pengadilan hingga selamat dari penjara, semisal perbuatan para oknum yang dianggap oleh kalangan awwam sebagai tokoh Islam, lantas berupaya menafsiri Almaidah – 51 sesuai selera pesanan para Ahoker, atau pembelaan secara tidak langsung, seperti yang dilakukan oleh para oknum Ahoker dari kalangan tokoh Islam beserta para pengikutnya, yang sengaja berupaya menggembosi perjuangan Aksi Damai Umat Islam dalam menuntut agar Ahok dipenjara sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

Kaedah syariat secara eksplisit mengatakan: “Ridha terhadap sesuatu, sama halnya ridha terhadap segala hal yang terkait dengan sesuatu itu. Ridha terhadap kemaksiatan hukumnya maksiat dan ridha terhadap kekafiran hukumnya kafir.”

Jadi ridha terhadap penistaan Alquran yang dilakkukan oleh si Ahok itu, sama saja dengan ridhai terhadap penistaan surat Almaidah – 51, tentunya neraka juga telah bersiap-siap untuk melahapnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *