Percuma Berilmu Jika Tamak

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dalam kesempatan mengisi Pengajian rutin yang diadakan oleh Aswaja Bangil-Pandaan menjelaskan banyaknya orang yang berilmu terjerumus kedalam kesalahan ketika ilmunya dikalahkan oleh hawa nafsunya.

Pemimpin Ma’had Darr al-Ihya’ Bangil ini memaparka, bahwa jika seseorang tanpa bimbingan serta tambahan ilmu, maka hidupnya berjalan tanpa tujuan. Maka fungsi utama dari kehadiran kita dalam sebuah majelis ilmu adalah agar hidup kita senantiasa terbimbing sesuai dengan tujuannya. Tutur beliau.

Pada zaman sekarang ini banyak orang tersesat dan kebingungan karena tidak memahami arti dan tujuan hidup. Mereka tidak mengerti untuk apa Allah menciptakan dunia ini? Apabila pertanyaan ini tidak bisa ia jawab, maka ia akhirnya hidup dalam kebingungan karena telah tertutup mata hatinya.

“Sehebat apapu dalam seseorang dalam beribadah, apabila ia tidak mengerti tentang bahaya di dunia maka ia akan mudah celaka”. Lanjut beliau.

Dikisahkan Oleh Habib Abdul Qadir bahwa Nabi Musa As pernah melihat seseorang meminta dan mengiba pada Allah dengan sangat menyedihkan, sehingga Nabi Musa merasa iba padanya. Akhirnya karena merasa tidak tega, Nabi Musa As kemudian meminta kepada Allah agar doa si fulan tadi dikabulkan. Kemudian Allah SWT menjawab Nabi Musa : Wahai Musa andai saja orang itu menangis dan meneteskan airmata, walau seandainya otaknya hingga cair sekalipun, hingga patah tulangnya karena berdoa, tidak akan Aku kabulkan sementara ia masih memiliki perasaan untuk mencintai dunia. Inilah sedikit gambaran kehinaan orang yang hanya berdoa untuk kepentingan dunianya

Habib Qadir melanjutkan dengan sebuah kisah. Nabi Muhammad SAW pernah bercerita kepada para sahabat bahwa kelak di hari akhir, nanti akan datang hari kiamat yang dating dengan pahala – pahala sebesar gunung, tapi nyatanya mereka diseret kedalam api neraka. Sahabat bertanya, apakah mereka sholat wahai Nabi, dijawab iya dan bahkan mereka rajin berpusa dan rajin sholat malam. Hanya saja ketika dunia datang padanya maka ia akan mengerahkan segala upaya untuk mendapatkannya dengan tidak memperdulikan lagi apakah itu halal atau haram

“Iniah potret masyarakat kita hari ini. Meskipun berilmu sekalipun, ketika melihat uang maka ia akan mudah goyah. Banyak diantaranya oramg alim dan pintar ternyata ikut dengan perbuatan syirik seperti dukun pengganda uang bukan karena orang tersebut tidak berilmu, namun karena ilmunya kalah dengan tamaknya. Percuma orang yang beramal namun ia tidak mengetahui hakikat tentang dunia”. Begitulah Dai Muda ini menggambarkan hinanya orang yang dikuasai hawa nafsunya.

Oleh karenanya Imam Abdulloh al Haddad berkata bahwa orang yang merasa cukup dengan pemberian Allah ia akan bisa istirahat dengan tenang. Sementara orang yang memlihara tamak maka ia telah gila.

Sebagai penutup beliau mengingatkan agar kita menjauhi tamak dalam hidup lewat sebuah sabda Nabi yang berbunyi “Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya.” (HR. Tirmidz) Inilah kekayaan muslimin yang sesungguhnya, yaitu qonaah menerima apa yang telah dijatahkan Allah dalam hidup ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *