Pengikut Syafii Berbeda Pendapat dengan Imam Syafii

 

Banyak beredar pertanyaan tentang perbedaan antara Ashhabu al-Syafii dengan Imam Syafi’i dalam mencentuskan hokum. Bahkan ironisnya ada yang mengatakan hal itu bid’ah dan su’ul adab kepada Imam Syafi’i sebagai seorang panutan dalam bermadzhab. Apakah benar demikian?.

Kyai Nawawi

KH. Nawawi Abdul Djalil Pengasuh Ma’had Sidogiri dalam buku “Dimanakah Allah, Bungah Rampai Dialog Iman dan Ihsan” menuturkan sebagai berikut:

Dalam berpendapat, memang ada potensi untuk berbeda pendapat pada setiap orang, dan perbedaan pendapat itu tidak menyesatkan. Kalau direnungkan, kadangkala perbedaan itu bisa membawah hikmah bagi umat ini. Nabi Muhammad Saw sendiri bersabda yang artinya “Perbedaan dalam umatku adalah rahmat (dari Allah SWT).

Sementara perbedaan antara Ashhabu al-Syafi’i dengan Imama Syafi’I, kalau dikaji lebih mendalam, bukanlah perbedaan sesungguhnya. Karena Imam Syafi’i sendiri menyatakan, “jika hadits itu betul-betul dinyatakan Shahih, maka isi Hadits itu adalah Madhzabku”. Oleh karenanya, jika ditinjau dari perkataan Imam Syafi’i ini, bisa kita simpulkan bahwa perbedaan antara Ashhabu al-Syafi’i dengan Imam Syafi’i untuk kasus seperti ini bukanlah perbedaan. Karena apa Ashhabu al-Syafi’i menelorkan perbedaan itu berlandaskan dalil Hadits yang mereka pandang lebih Shahih.

Atau Ashhabu al-Syafi’i berpendapat itu masih tetap bertendensi pada cara Istinbath atau Qiyas memalalui kaidah Imam Syafi’i, maka pendapat itu tetap digolongkan Madzhab Imam Syafi’i. hal ini juga bukanlah perbedaan yang sesungguhnya, karena yang menjadi acuan masih nalar Ushu al-Fiqh dan Kaidah Imam Syafi’i.

Dan kadangkala perbedaan itu dikarenakan pendapat Imam Syafi’i dianggap sulit untuk diamalkan oleh umat, seperti dalam pemberian harta zakat yang batas minimalnya diberikan pada tiga golongan saja, maka Ashhabu al-Syafi’i mempunyai inisiatif dengan mengadakan pengkajian ulang pendapat Imam Syafii itu, sehingga ada Ashhabu al-Syafii yang berpendapat menganggap cukup zakat diberikan pada satu golongan saja.

Ibn aji al-Yamani menyatakan, Ashhabu al-Syafii berbeda pendapat secara mencolok dengan Imam Syafii dalam tiga hal. Pertama, memindah zakat dari suatu daerah ke daerah yang lain. Kedua, memberikan pada satu orang saja. Ketiga, memberikan pada satu golongan saja dari delapan golongan yang berhak menerima zakat. Untuk tiga hal ini, Imam Syafii berpendapat tidak boleh. Sedangkan Ashhabu al-Syafii boleh. Bahkan Ibn Aji al-Yamani sendiri menambahkan, anadaikan Imam Syafii masih hidup, niscaya beliau akan berfatwa seperti Ashhabu al-Syafii.

Dan kadangkala Ashhabu al-Syafii berpendapat tidak sama dengan Imam Syafii, karena melihat pada qaul qadim Imam Syafii (fatwa lama beliau pada waktu berada di Iraq). Hal itu bisa terjadi jika mereka melihat qaul qadim dari sisih dalil lebih unggul dari qaul jadid (fatwa baru Imam Syafii waktu menetap di Mesir). Maka dari situ, mereka memandang qaul qadim-lah yang alayak diamalkan.

Intinya, perbedaan Ashhabu al-Syafii dengan Imam Syafii bukanlah perbedaan yang dipandang tercela atau melanggar adab. Karena ada tiga kemungkinan, 1) bisa melihat dalil yang lebih unggul, 2) bisa melihat pada kaidah Istimbath dari Imam Syafii, dan 3) bisa memandang pada kemaslahatan umat yang dirasa sulit mengamalkan pendapat Imam Syafii. Tentu hal ini bukan hal yang dilarang sehingga su’u al-Adab pada Imam Syafii.

Imam Syafii bijak, neliau tidak menyatakan dirinya paling benar. Menurut beliau, orang selain beliau pun pendapatnya bisa saja benar. Hal ini dilihat dari pernyataan beliau, “Pendapatku benar, tapi dimungkinkan salah, dan pendapat selain aku salah, tapi dimungkin benar”. Dan Allah SWT mengetahui kebenaran sesuatu.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *