Muslim, Ahlul Kitab dan Kafir Menurut Al-Qur’an

Oleh Kholili Hasib

Sekitar bulan Oktober 2005, Ahmad Dani – personel grup musik Dewa mengadakan dialog agama yang bertema “Mencari Islam Yang Benar”. Hadir dalam dialog yang disiarkan oleh Metro TV itu Jalaluddin Rahmad, Gus Dur, Emha ‘Ainun Najib. Masalah pokok yang diperbincangkan dalam diskusi ini adalah mempermasalahkan Fatwa MUI – yang menetapkan bahwa Ahmadiyah, Pluralisme dan Liberalisme adalah paham sesat. Tidak terima dengan Fatwa MUI, dengan sedikit olok-olok para tokoh ini mengecam fatwa tersebut. Salah satu tema menarik adalah mempermasalahkan keimanan Yahudi dan Nasrani menurut al-Qur’an.

Jalaluddin Rahmad mengatakan bahwa Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang yang selamat, karena mereka adalah Ahlul Kitab sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 62 dan Ali Imran ayat 113-114. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa agama apapun – Hindu, Budha, Konghucu – termasuk Ahlul Kitab, sebab mereka juga mempunyai kitab suci.

Pernyataan ini kemudian diperkuat oleh Gus Dur, dengan mengatakan bahwa orang kafir itu sebenarnya tidak ada, yang ada adalah Ahlul Kitab, mereka masuk jaminan Allah sebagai golongan selamat karena beriman kepada Allah dan hari Akhir.

Pernyataan kedua tokoh ini harus diluruskan, karena menyangkut masalah Akidah. Mereka juga keliru dalam menafsiri al-Qur’an – terutama surat Al-Baqarah ayat 62 dan Ali Imran ayat 113-114.

Pertama-tama perlu dipahami bahwa menafsiri Al-Qur’an haruslah sesuai dengan penjelasan-penjelasan yang telah dijabarkan oleh Nabi Muhammad SAW melalui hadis-hadis beliau. Kita tidak boleh seenaknya saja menafsiri Al-Qur’an menurut kemauan kita dengan dalih apapun.

Hanya Rasulullah SAW saja yang berhak menafsiri Al-Qur’an. Beliaulah yang diberi mandat untuk menjelaskan isi kandungan Al-Quran. Allah SWT berfirman: “Dan kami turunkan kepadmu (Muhammmad) Al-Qur’an supaya engkau menjelaskan kepada manusia apa yangtelah diturunkan kepada mereka(An-Nahl: 44).

Maka dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an haruslah merujuk pada kitab-kitab tafsir yang otentik serta mengetahui asbabun nuzulnya. Allah SWT mengancam orang-orang yang menafsiri Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri. Sebagaomana Nabi SAW menjelaskan dalam hadisnya:”Barang siapa menafsiri Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri maka hendaklah ia mempersiapkan diri untuk menempati tempat duduknya di neraka (HR. Ibnu Daud dan Ibnu Majah).

Untuk meluruskan pendapat kontroversial ini, berikut akan kami bahas ayat-ayat yang digunakan untuk menjustifikasi argumentasinya

Ayat-ayat tersebut adalah; 1. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, Yahudi, Nasrani, dan orang orang Sabi’in, yaitu siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah SWT dan hari akhir dan beramal sholeh, maka mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka dan tidak(pula) mereka bersedih hati”(QS.Al-Baqarah:62). Ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan pertanyaan salah satu sahabat Nabi SAW yaitu Salman Al-Farisi kepada Nabi SAW mengenai orang-orang Yahudi, Nasrani dan Sabi’in yang tetap berpegang teguh kepada Taurat dan Injil yang asli pada zaman sebelum diutusnya Nabi SA. Mereka beriman akan datangnya Nabi akhir zaman (Nabi Muhammad SAW), yang mana hal ini tertera dalam kitab suci mereka namun mereka meninggal sebelum datangnya Nabi Muhammad SAW (Ibnu Katsir I:103).

Orang-orang yang sedemikian ini oleh ayat Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 62 diberi predikat sebagai orang yang beriman kepad Allah dan Hari Akhir. Dismping juga beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Adapun yang tidak beriman kepada Nabi SAW maka mereka adalah kafir (masuk neraka).

Dalam Tafsir Al-Munir juga dijelaskan bahwa, yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah mengenai status kaum Yahudi dan Nasrani yang hidup di zaman fatroh seperti; Qossi bin Saidah, Zaid bin Umar bin Nufail, Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al- Ghifari. Mereka semua beriman kepada Allah dan hari akhir juga beriman kepada Nabi Muhammad SAW (Al-Munir I : 17).

2. Surat Ali Imran 113-114: “Mereka itu tidak sama, diantara Ahlul Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud(bersembahyang ). Mereka beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan berserah diri (mengerjakan) berbagai kebajikan mereka itu termasuk orang-orang yang sholeh.

Ayat ini diturunkan berkenaan ketika sekelompok orang Yahudi yaitu Abdullah bin Salam, Sa’labah bin Sa’ya, Usaid bin Sa’ya dan Asad bin Ubaid masuk Islam. Para pendeta  Yahudi kemudian berkata;”Tidaklah beriman kepada Muhammad SAW kecualai hal itu adalah sejelek-jelek kita”. Kemudian turun ayat ini sebagai jawaban, bahwa tidak sama antara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman (Tafsir Munir I : 114).

Dari penjelasan ayat-ayat tersebut diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hanya golongan Ahlul Kitab yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW saja yang selamat dan mendapat pahala dari Allah SWT. Memang ada sebagian Ahlul Kitab yang beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad setelah mereka menyaksikan bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW, tetapi konteknya adalah Yahudi-Nasrani pada zaman dahulu (sebalum diutusnya Nabi SAW). Dan mereka termasuk orang-orang sholeh seperti yang difirmankan Allah dalam ketiga ayat tersebut.

Lantas, bagaimanakah orang-orang Yahudi-Nasrani saat ini? Sebagaimana kita maklumi bahwa Yahudi – Nasrani sekarang tidak ada yang beriman kekpada Nabi Muhammad SAW, otomatis mereka bukan termasuk golongan yang selamat.

Surat Ali Imran tersebut sasarannya adalah kepad Ahlul Kitab yang telah menyaksikan kebenaran Nabi Muhammad SAW dan mereka mendapat balasan di surga. Kalau kaum Yahudi-Nasrani sekarang menyatakan bahwa mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, tentunya mereka harus beriman kkepada semua Nabi yang diutus Allah SWT, termasuk Nabi Muhammad SAW. Beriman kepada Allah tidak bisa dipisahkan dengan beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan semua Nabi sebelumnya.

Bila seseorang tidak beriman kepada salah satu Nabi, maka sungguh ia telah menjadi kafir, walaupun ia mengaku beriman kepada Allah. Yang berarti keimanannya cacat, dan hal itu tidak akan diterima imannya oleh Allah.

Aspek teologi merupakan dasar pokok dari suatu agama. Teologi Islam dibangun atas enam prinsip dasar, yaitu rukun iman – iman kepada Allah, iman kepada Malaikat Allah, iman kepada Rasul-Rasul Allah, iman kepada Kitab-Kitab Allah, iman kepada hari Akhir, dan iman kepada Qadha’ dan Qadar. Maka siapa saja mengingkari salah satu dari keenam prinsip dasar tadi, maka ia telah merobohkan konstruksi dasar-dasar teologi Islam, yang berarti ia termasuk berpredikat kafir.

Prinsip-prinsip dasar inilah yang harus dipegang erat-erat oleh orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT. Atas dasar inilah, maka Yahudi dan Nasrani menyandang predikat kafir. Artinya pernyataan Jalaluddin Rahmad dan Gus Dur adalah tidak benar dan menyesatkan.

Al-Qur’an sendiri dalam beberapa ayat menyebut Yahudi-Nasrani adalah kafir. Mereka adalah termasuk golongan Musyrik. Yahudi berkeyakinan bahwa Allah SWT mempunyai anak yang bernama Uzair (QS. At-Taubah: 30). Orang Nasrani juga meyakini bahwa Isa adalah putra Allah, serta menempatkannya sebagai tuhan yang ketiga (QS. Al-Ma’idah: 72-73).

Dikarenakan kekufurannya, Yahudi-Nasrani termasuk Ahlu an-Naar (Penghuni Neraka) yang kekal. “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik (akan) masuk neraka Jahannam dan mereka kekal di dalamnya” (QS. Al-Bayyinah:6). Dan bagi mereka diharamkan masuk surga, selama mereka tetap bertahan dengan keyakinannya. “Barang siapa menyekutukan Allah maka sesungguhnya Allah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka” (QS. Al-Ma’idah: 72).

Adapun mengenai kaum Konghucu, Hindu, Budha dan lain-lainnya sama sekali tidak ditemukan dalam al-Qur’an bahwa mereka adalah Ahlul Kitab.  Al-Qur’an hanya menyebut Yahudi dan Nasrani sebagai Ahlul Kitab. Selama mereka (Yahudi dan Nasrani) tetap berpegang teguh pada keyakinannya, selama itu pula mereka termasuk orang-orang kafir, karena agama yang diridhoi oleh Allah adalah hanya agama Islam. Dan agama inilah yang dipeluk oleh para Nabi-Nabi sebelumnya. Walaupun tidak ditemui dalam kitab-kitab mereka nama Islam, tetapi para nabi tersebut dan pengikutnya oleh Allah disebut Muslim.

Pandaan, september 2005

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *