MUSIM REBUTAN KEKUASAAN

KH. Luthfi Bashori

Malu rasanya bangsa Indonesia, yang mana akhir-akhir ini hampir setiap saat masyarakat disuguhi film drama kolosal, bertema PEREBUTAN JABATAN di beberapa lingkungan instansi, baik di kalangan swasta semacam ormas, LSM, hingga tempat pendidikan, maupun di kalangan instansi pemerintah semacam partai politik, Dewan Perwakilan Rakyat, jabatan Pilkada bahkan hingga merambah kepada jabatan Presiden beserta perangkat-perangkatnya.

Bagi seseorang yang ingin menjadi pejabat publik, tentunya banyak cara untuk mendapatkannya, baik secara halal, misalnya berusaha berkarir dari bawah dalam bidang yang diinginkannya, maka berusaha menampilkan kemampuan yang dimilikinya, hingga timbul kepercayaan masyarakat kepadanya, hingga pada akhirnya ia pun mendapatkan jabatan publik yang dicita-citakannya itu secara halal.

Tapi ada juga orang yang ingin menjadi pemimpin dengan jalan pintas, yaitu dengan menghalalkan segala cara untuk menduduki jabatan yang selalu diimpi-impikan.

Bahkan sering kali terjadi dalam perebutan jabatan itu, ada pihak yang sengaja menggunakan cara-cara kotor, politik uang, politik curang hingga berusaha pembunuhan karakter terhadap rival-rivalnya.

Sungguh peristiwa-peristiwa yang demikian rancau ini, sangat merusak akhlaq dan moral bangsa, khususnya bagi generasi penerus bangsa ke depan.

Kewibawaan jabatanpun sudah semakin luntur di mata masyarakat, dan yang tersisa hanyalah sifat kediktatoran dan egoisme para pemimpin, yang kira-kira jika diungkapkan kepada masyarakat, para pemimpin itu seakan mengatakan: “Kalau kamu taat, kamu akan selamat, tapi kalau kamu tidak taat, kamu bakal kiamat.”

Hal semacam itu sudah hampir berlaku untuk umum, baik dalam urusan yang positif serta sejalan dengan nurani masyarakat, maupun dalam urusan kebijakan yang negatif serta berlawanan dengan hukum agama dan hukum adat ketimuran. Demikian juga berlaku terhadap kebijakan yang pro rakyat maupun yang kontra kepentingan rakyat, maka masyarakat seakan-akan diharuskan untuk patuh dan tunduk kepada keputusan para ‘pejabat’ publik.

Tentunya kondisi yang demikian ini sangat kontradiksi dengan tata cara para pemimpin Islam di jaman dahulu, yang mana mereka cukup terkenal bijaksana dan dapat memberikan tauladan yang baik kepada masyarakat, bahkan nyaris sempurna dalam tinjauan dunia kepemimpinan dalam Islam.

Sebut saja ketika Sayyidina Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, beliau memanggil Imam Salim bin Abdullah, Imam Muhammad bin Ka`ab Al-Qardhi, Imam Raja bin Haiwah, beliau berkata kepada mereka, Aku telah diberi cobaan ini (memegang kekuasaan), maka nasihatilah aku.

Subhanallah, Sayyidina Umar bin Abdul Aziz mengangggap jabatan khilafah itu sebagai cobaan.

Maka Imam Salim bin Abdullah berkata kepada beliau, Jika engkau ingin selamat dari siksa Allah, puasalah dari kesenangan dunia dan berbukalah ketika datang kematian.

Sedang Imam Muhmmad bin Ka`ab Al-Qardhi berkata, Jika engkau ingin selamat dari siksa Allah, jadikan orang muslim yang besar sebagai ayah bagimu dan muslim yang sedang sebagai saudaramu serta muslim yang kecil sebagai anakmu. Maka hormatilah ayahmu, muliakan saudaramu, dan sayangilah anakmu.

Adapun Imam Raja bin Haiwah berkata kepada beliau, Jika engkau ingin selamat dari siksa Allah, cintailah kaum muslim seperti engkau mencintai dirimu, dan bencilah apa yang engkau tidak sukai pada mereka seperti engkau membenci apa yang engkau tidak suka terjadi pada dirimu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *