*MUKJIZAT NABI TIDAK TAMPAK BAGI ORANG YANG MERAGUKAN-NYA*

Hb. Muhammad Vad’aq

Dalam Al-Musnad dari Abu Rafi’ bahwa ia mengatakan; Rasulullah SAW diberi hidangan berupa domba panggang. Setelah domba panggang disajikan, beliau berkata, “Hai Abu Rafi’, ambilkan lengan untukku.” Aku pun mengambilkannya.

Kemudian beliau berkata, “Ambilkan lengan untukku.” Aku mengambilkan untuk beliau.
Kemudian beliau berkata, “Ambilkan lengan untukku.” Abu Rafi’ berkata; wahai Rasulullah SAW, bukankah domba hanya mempunyai dua lengan?!
Beliau SAW mengatakan, ” _Seandainya kamu diam niscaya kamu dapat mengambilkannya untukku berupa lengan sebagaimana yang aku minta._ ”

Perkataan beliau SAW, “Ambillkan lengan untukku” pada ketiga kalinya – padahal sudah tahu bahwa domba mempunyai dua lengan – itu tidak lain beliau maksudkan untuk menunjukkan suatu mukjizat yang mengindikasikan kemuliaan ilahi, petunjuk, dan penyaksian secara langsung, akan tetapi lantaran tidak mendapatkan tempat yang layak, maka mukjizat pun tidak muncul.

Maka dari itu *Al-Hafizh Az-Zarqani* mengatakan terkait perkataan beliau SAW, “Seandainya kamu diam niscaya kamu dapat mengambilkan lengan untukku, satu demi satu lengan selama kamu diam.” Yakni selama kurun waktu kamu diam. Karena Allah SWT menciptakan lengan-lengan saat itu, sebagai bentuk mukjizat bagi beliau SAW, namun faktor emosional dalam diri manusia membuatnya tergesa-gesa untuk mengatakan; domba hanya mempunyai dua lengan, akibatnya terputuslah anugerah ilahiah tersebut, karena itu tidak lain merupakan anugerah dari Allah Yang Maha Mulia Maha Suci, sebagai bentuk pemuliaan terhadap makhluk pilihan-Nya SAW.

Seandainya manusia menerimanya dengan memperhatikan adab, diam seraya menyimak keajaiban itu, niscaya sikap yang demikian sebagai bentuk syukur darinya yang berimplikasi pada kemuliaan bagi dirinya lantaran dapat merasakan adanya anugerah ilahi ini dengan perantara dirinya.

Akan tetapi ia menyikapinya dengan pemungkiran sehingga kemuliaan pun beralih arah lantaran tidak menemukan tempat yang layak. Sebab, ia tidak layak untuk dapat menyaksikan mukjizat besar ini, kecuali bagi orang yang telah sempurna kepasrahan dirinya dan tidak tersisa padanya ambisi sedikit pun tidak pula hasrat.

*Catatan:*

Mukjizat akan diraih dan disaksikan seluruh orang yang tidak meragukan.
Al-Quran adalah mukjizat Nabi terbesar, tidak akan bisa dipahami dan mengerti oleh hati manusia yang meyakini bahwa ada aturan yang lebih baik dari aturan Allah Swt.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *