LIBERALISME PAYUNG PELINDUNG ALIRAN SESAT

 

Oleh: Muhammad Saad

Judson Taylor tokoh besar Missionaris menulis dalam artikel berjudul The Evil of Liberalism bahwa ciri-ciri liberalisme keagamaan ada enam: Pertama banyak mengingkari firman Tuhan. Kedua mengakui berbagai kesalahan di zamannya dan juga kebenaran. Tapi lebih banyak mengakui kesalahan. Ketiga, mengakui Tuhan hanya sebatas untuk kepentingan kemanusiaan, ketika ajaran Tuhan tidak dapat diterima maka akal manusia dimenangkan. Keempat, tidak ada yang mutlak dan pasti tentang Tuhan. Kelima, mempromosikan keraguan beragama yang tidak berarti. Keenam, mendukung keyakinan keagamaan dan prakteknya yang popular.

Orang yang berfikir liberal umumnya hanya ingin menghargai pemikiran bebas. Bebas dari kepercayaan yang dianggap membelenggu. Aroma humanisme begitu menonjol. Sebab manusia menjadi ukuran segala sesuatu (man is a measure of everything).

Gejala liberalisme di alam pikiran Kristiani abad ke 19 itu sudah nampak jelas kesamaannya dengan liberalisasi pemikiran Islam di dunia Islam saat ini. Pertama, Muslim liberal menggugat al-Qur’an. Kedua Muslim liberal membela aliran sesat. Ketiga, Muslim liberal mendahulukan akal dan kemanusiaan daripada Tuhan. Keempat, Muslim liberal mendukung faham relativisme. Kelima, Muslim liberal mempromosikan faham skeptisisme. https://insists.id/liberalisme/

Relativisme ada jauh-jauh hari sebelum peradaban Barat itu sendiri lahir. Dalam buku “Tren Pluralisme Agama”, Dr. Anis Malik Toha menjelaskan bahwa keberadaan Relativisme jika ditelusuri, berakar dari pemikiran Protagoras pada paruh kedua abad ke 5 SM yang bercirikan “antropocentris”, dimana manusia menjadi sentralitas segalal sesuatu. Ini juga disebut dengan Humanisme sekuler. Filosof ini mengandaikan bahwa “manusia adalah satu-satunya standar bagi segala sesuatu”. Jika terjadi perbedaan opini diantara mereka, maka tidak ada yang disebut “kebenaran obyektif”. Oleh karenanya tidak boleh dikatakan yang satu benar dan lainnya salah. Oleh karenanya tidak ada kebenaran yang absolut, semua adalah relative.

Humanisme sekuler menurut F.C.S Schiller adalah sebuah metode filosofis yang mana hampir semua baik filsafat, teori, dan ideology modern bernaung dibawahnya semisal liberalisme, positivisme, pragmatisme, nasionalisme dan demikrasi. Intinya semua pemikiran baik filsafat maupun ideology ini menjadikan humanisme sekuler yang mana manusia menjadi pusat sentralitas sebagai ruhnya.

Maka tidak heran jika para liberalis kemudian selalu menyuarakan dan melindungi pluralisme, baik pluralisme antar agama atau pluralisme sekte dalam Agama itu sendiri. Sebab bagi para pemuja liberalisme, nilai relativisme itu absolut tidak bisa diganggu gugat (meski mereka menolak absolutisme, mebingungkan).

Dari sinilah kemudian aliran sesat yang ada dalam tubuh Islam seolah mendapat angin segar. Atas nama Hak Asasi Manusia, semua aktifitas aliran sesat boleh berjalan. Maka tidak heran jika kemudian tiba-tiba bermunculan para nabi palsu semisal Lia Eden, Dedi Mulyana alias Eyang Ended, Ahmad Musaddeq alias Abdul Salam, Ashriyanti Samuda, Sutarmin dari Gunung Lawu dan masih banyak lainnya. Belum lagi kasus LDII, Ahmadiyah, dan Syiah yang hari ini masih menyisahkan PR bagi kaum muslimin di Indonesia.

Maka solusi untuk membendung aliran sesat yang ada, ialah menumbangkan aliran pemikiran  liberalisme  tumbuh dalam Islam. Sebab liberalisme dengan nilai “ruh” relativisme menjadi paying pelindung dari berbagai aliran sesat yang ada. Karena liberalisme adalah sebuah pemikiran, maka harus dilawan dengan pemikiran pula. Kesesatan tidak memiliki kehebatan yang sempurna, Liberalisme lahir dari kebencian (baca Barat benci terhadap Keristen), tentunya sebuah kebencian memiliki kecacatan dan penuh kelemahan. Di satu sisi, Islam adalah Agama Haq dan sempurna, Islam memiliki segudang argumentasi untuk mengahdapinya. Wallahu a’lam bi ssawwab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *