Larangan Cadar dan Liberalisasi Kampus

Muhammad Saad

Terkait pelarangan penggunaan cadar bagi mahasiswi di Perguruan Tinggi Islam yang diberitakan di media (https://news.detik.com/…/alasan-mahasiswi-uin-yogya-keberatan-lar.). Hal ini adalah bagian dari strategi liberalisasi global dalam dunia pendidikan Islam.

Sejatinya Liberalisasi dalam dunia pendidikan Islam sudah lama diguangkan oleh pihak-pihak liberalis. Adalah Harun Nasution, salah satu tokoh yang dianggap memasukkan pemikiran liberal dalam dunia kampus. Dr. Adian Husaini pakar dunia pemikiran, dalam artikelnya “ Liberalisasi Pendidikan Tinggi”  yang mengutip buku  ” IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia, (Jakarta: Logos, 2002)”. menjelaskan hal tersebut. Lebih jelasnya Adian Husaini mengatakan:

“sebenarnya telah berlaku sebuah proses liberalisasi secara sistematis terhadap Perguruan Tinggi Islam. Dan itu diakui sendiri oleh para pelaku dan pengambil kebijakan dalam Pendidikan Islam. Simaklah sebuah buku berjudul: IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia, (Jakarta: Logos, 2002). Buku ini diterbitkan atas kerjasama Canadian International Development Agency (CIDA) dan Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Islam (Ditbinperta) Departemen Agama.

Menurut buku ini, kepulangan para dosen IAIN dari pusat-pusat studi Islam di Barat telah mengubah metodologi dalam mempelajari Islam, sebagaimana yang diajarkan guru-guru mereka (para orientalis) di Barat. Metode itu sangat berbeda dengan metode belajar Islam yang dikembangkan oleh para ulama Islam di masa lalu. Disebutkan lebih jauh: “Salah satu yang menonjol adalah tradisi keilmuan yang dibawa pulang oleh kafilah IAIN (dan STAIN) dari studi mereka di McGill University secara khusus dan universitas-universitas lain di Barat secara umum. Berbeda dengan tradisi keilmuan yang dikembangkan oleh jaringan ulama yang mempunyai kecenderungan untuk mengikuti dan menyebarkan pemikiran ulama gurunya, tradisi keilmuan Barat, kalau boleh dikatakan begitu, lebih membawa pulang metodologi maupun pendekatan dari sebuah pemikiran tertentu. Sehingga mereka justru bisa lebih kritis sekalipun terhadap pikiran profesor-profesor mereka sendiri. Disamping aspek metodologis itu, pendekatan sosial empiris dalam studi agama juga dikembangkan.” (hal. xi).

Kemudian, sebagaimana diceritakan dalam buku ini pula, liberalisasi Islam yang dimulai dari pasca sarjana UIN Jakarta – yang dipimpin oleh Prof. Harun Nasution –juga dikembangkan ke Perguruan Tinggi Umum melalui dosen-dosen agama yang diberi kesempatan untuk mengambil S2 dan S3 di IAIN Jakarta. “Dosen-dosen mata kuliah agama di perguruan tinggi umum dipersilakan mengambil program S2 dan S3 di IAIN Jakarta, dimana Harun Nasution bertindak sebagai direktur. Dari sinilah kemudian paham Islam rasional dan liberal yang dikembangkan Harun Nasution mulai berkembang juga di lingkungan perguruan tinggi umum.”

Masih menurut Dr Adian Husasini bahwa Karena dianggap berjasa besar dalam meliberalkan IAIN itulah – seperti pengakuan buku yang ditulis oleh sejumlah dosen UIN Jakarta ini — maka di UIN Jakarta, sosok dan pemikiran Harun Nasution terus dipuja. Buku-bukunya dijadikan pegangan. Jangan heran, jika paham Islam Rasional, liberal, atau progresif, terus diajarkan, digaungkan, dan disebarluaskan ke tengah masyarakat.

Rupanya liberalisasi dalam dunia kampus mengalami puncak ekstrimnya. Jika pada masa awalnya, liberalisasi dalam dunia kampus dilakukan dengan cara masuk dalam dunia pemikiran semata, yaitu dengan mengubah dan memasukkan pemikiran pluralistik  serta metodologi rasionalis-positifistik. Kini liberalisasi tersebut dilakukan dengan tindakan seta dijadikan alat sebagai kebijakan kampus yang notabenenya adalah kampus Islam.

Dengan alih-alih mencegah terorisme dan menimbulkan perselisihan antar mahasiswa, cadar yang hakikatnya adalah bagaian dari syariat Islam, dipaksa dihilangkan. Hal ini disampaikan oleh wakil Rektor III Universitas Islam Negeri (UIN) Kalijaga, Yogyakarta, Dr. Waryono Abdul Ghafur yang dikutip Eramuslim.com. Lebih tegasnya ia mengatakan “Memakai cadar itu tidak adil. Dia bisa melihat dan mengenali wajah kita, tapi kita tidak bisa melihatnya. Kalau dibiarkan orang-orang akan saling curiga,” tandas Waryono.

Liberalisasi yang katanya mengusung kebebasan dalam segala bidang terumata yang bersifat asasi, termasuk bebas untuk tidak beragama, rupanya hanya tidak berlaku pada pemberlakuan kewajiban beragama. Hal ini tidak aneh, sebab awal lahirnya liberalisme di Barat adalah karena trauma sejarah bangsa Barat terhadap Agama (baca Buku Dr Adian Husaini “Wajah Peradaban Barat”). Intinya, dalam dunia liberal, anda boleh melakukan apa saja, namun jangan urusan agama.

Fakta sikap “Kasar” ideology liberal-sekuler terhadap agama dan orang yang beragama ini sekaligus membantah pandangan euphoria (baca pembelaan) Sumanto Qurtuby si pengasong liberal dengan mengatakan “Sekulerisme jauh lebih baik lebih baik ketimbang Islamisme. Karena sekulerisme melindungi, menghormati dan toleran terhadap kaum agama termasuk Islam. Sementara kaum Islamisme tidak mampu melindungi, menghormati dan toleran terhadap kaum sekuler dan terhadap kaum agama itu sendiri”.

Padahal Islam adalah Agama paling toleran, ini terbukti dalam ajran dan fakta sejarahnya. Sekedar untuk diketahui, bahwa yang dimaksud toleransi oleh kaum liberal sekuler menurut Dr Anis Malik Toha dalam bukunya “Trend Pluralisme Agama” adalah pluralisme. Pluralisme dalam pandangan Islam adalah mutlak haram.

Cadar adalah Bagian Syariah.

Meski masuk dalam ranah furu’, penggunaan cadar bagi seorang muslimah adalah sebuah tuntutan syariah bagi sebagaian madzhab.  Menurut madzhab 4 (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali), hokum cadar adalah sebagai berikut:
Dalam madzhab Hanafi dikatakan bahwa wajah wanita memang bukan aurat, namun anjuran memakai cadar adalah sunnah dan wajib apabila hal itu untuk menghidari fitnah. Pendapat para ulama Hanafi sebaga berikut :

Asy Syaranbalali mengatakan : Seluruh anggota tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan baik dalam maupun luar, pendapat ini adlaah shahih dan pilihan madzhab kami” (Matan Nuurul Lidhah)

Al Imam Muhammad ‘Alaa-uddin mengatakan : “Semua badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan maupun luar. Pun juga suaranya, namun apabila di depan sesama wanita adala bukan aurat. Akan dilarang menampakkan wajah di depan para lelaki apabila hal itu menyebabkan fitnah” (Ad Durr Al Muntaqa, 81)

Al Allamah Al Hashkafi mengatakan : “Aurat wanita jika dalam shalat sama seperti lelaki dengan wajah yang dibuka namn kepalanya tidak. Apabila wanita menggunakan sesuatu di wajah yang menutupinya adalah boleh dan dianjurkan” (Ad Durr Al Mukhtar, 2/189).
Sama seperti madzhab Hanafi, dalam madzhab Maliki dikatakan bahwa wajah wanita bukan aurat, namun memakai cadar adalah sunnah dan wajib apabila memang menjadi fitnah.

Az Zarqaani mengatakan : “Aurat wanita adalah seluruh tubuh bahkan suara indahnya kecuali wajah dan telapak tangan baik itu dalam maupun luar. Kedua anggota tubuh tersebut boleh ditampakkan kepada lelaki baik sekedar dilihat atau untuk pengobatan. Namun apabila menimbulkan fitnah, maka hukumnya haram seperti melihat amraad” (Syarh Mukhtashar Khalil, 176)

Ibnul Arabi mengatakan : ”Seluruh tubuh wanita adalah aurat baik badan atau suaranya. Mereka tidak boleh menampakkan wajah kecuali ada kebutuhan mendesak misalnya dalam persaksian atau pengobatan badan” (Ahkaamul Qur’am, 3/1579)

Al Qurthubi mengatakan : “Seorang ulama besar Maliki yaitu Ibnu Juwaiz Mandad mengatakan : seorang wanita cantik yang khawatir jika wajah dan telapak tangannya adalah fitnah, maka menutup wajah adalah kewajiban. Jika ia wanita tua dan tidak khawatir, maka ia boleh menampakkan wajahnya” (Tafsir Al Qurthubi. 12/229).

Adapun Madzhab Syafii berpendapat bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat di depan laki-laki bukan mahram sehingga memakai cadar adalah wajib.

Asy Syarwani mengatakan : “Ada tiga jenis aurat wanita yaitu aurat dalam shalat, aurat pada pandangan lelaki yaitu seluruh tubuh baik itu wajah da telapak tangan dan aurat ketika bersama yang mahram yakni sama dengan laki-laki antara pusar dan paha “ (“Hasyiah Asy Syarwani’Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)

Syaikh Sulaiman Al Jamal mengatakan : “Maksud pendapat An Nawawi adalah aurat wanita dalam shalat yaitu wajah dan telapak tangan sedanglan aurat wanita di depan lelaki mahram adalah pusar hingga paha, namun di depan lelaki bukan mahram, aurat wanita adalah seluruh badan” (Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj, 411)

Syaikh Muhammad bin Qassin Al Ghazzi, penulis Fathul Qaarib mengatakan : “Seluruh anggota badan wanita dalam shalat adlaah kecuali wajah dan telapak tangan, namun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (Fathul Qaarub, 19).

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan : “Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, pun termausk kukunya” (Dikunil dalam Zaadul Masiir, 6/31)

Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al’Anqaari, penulis Raudhul Murbi’ mengatakan : “Bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, pun termasuk sudut kepalanya. Kecuali wajah, karean wajah bukan aurat dalam shalat, namun ketika di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat walaupun di hadapan banci sekalipun, sedangkan sesama wanita auratnya adalah pusar hingga paha “ (Raudhul Murbi’, 140)

Ibnu Muflih mengatakan : “Imam Ahmad berkata, janganlah wanita menampakan perhiasan mereka kecuali orang yang disebutkan pada ayat. Abu Thalib mengambil penjelasan dari Imam Ahmad bahwa kuku wanita adalah aurat, apabila keluar maka ia tidak boleh menampakkan apapun bahkan khuf (jenis kaus kaki) sekalipun dan aku lebih suka jika mereka membuat kancing tekan bagian tangan” (Al Furu’, 601-602).

Jadi intinya, dari 4 madzhab, cadar adalah bagian syariah, meski ada yang berpendapat sunnah atau wajib. Dan yang lebih jelas lagi, cadar bukanlah budaya Arab, apalagi simbul terorisme. Melarang penggunaan cadar dengan alasan pemberantasan bahaya teroris, sama saja menganggap ajaran Islam adalah bagian teroris. Ini adalah pernyataan yang sering dilontarkan oleh kaum orientalis. Stigma demikian adalah bagian dari perang wacana-perang pemikiran akhir ini antara Barat dengan Islam.

Akhir tulisan, pelarangan cadar di dunia Kampus adalah bagian liberalisasi dunia pendidikan. Sedangkan liberalisasi adalah bagian penjajahan peradaban Barat kepada  ideology dan negara lain, terutama idologi Islam. Hal ini Barat lakukan demi untuk melanggengkan eksistensi peradaban mereka. Wallahu a’lam bi shawwab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *