Kopdar Lintas Ormas, Pentingnya Multi Metode Dakwah di Era Globalisasi.

Pada hari Ahad 28 Januari 2018, telah diadakan pertemuan beberapa elements ormas Islam untuk mengadakan kopdar persatuan ummat (wichdatul ummat), dengan tema ” POSISI PARA DA’I DI ERA GLOBALISASI DAN URGENSI PERSATUAN UMMAT DALAM PERSPEKTIF TASAWWUF” Yang diadakan di Pesantren Syariah Al-Jalil-Jember.

Acara ini dihadiri oleh puluhan peserta berbagai lintas Ormas Islam ( LPI, FPI, BANSER dan Santri) yang berfahamkan Aswaja dari berbagai wilayah, baik dalam maupun luar kota Jember. Bahkan hadir pula dari pulau Madura. Adapun visi-misi acara ini ialah “menjaga kemurnian ajaran Aswaja serta pengkaderannya sejak dini”. Menurut ketua Panitia Acara Ust Muhammad Fahim, dalam wawancaranya, mengatakan:

“Dengan semangat persatuan umat para aktivis muslim hadir dan menjalin silaturrahim mantapkan gerakan ukhuwah Islam”. Acara kopdar ini dihadiri dua Dua narasumber yaitu KH Lutfhi Bashori, pengasuh Ribath al-Murtadho sekaligus imam besar NU Garis Lurus dan KH Muhammad Jaiz Badri Masduqi dari Situbondo. Kedua Narasumber mengupas tuntas tentang bagaimana posisi seorang dai yang tidak harus dibatasi oleh forum dan podium, tapi kapanpun dan dimanapun kita bisa berdakwah dengan memanfaatkan kecanggihan teknology media sosial dan internet hari ini tentunya dengan strategi yang pas dalam menghadapi segala macam tantangannya.

Lebih jelasnya KH. Lutfhi Bashori menjelaskan pentingnya dakwah lintas metode di era sekarang. Hal ini didasarkan kutipan hadits Rasulullah Saw yg menggunakan bahasa Yaman ketika bertemu dg Sahabat dari Yaman. حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَرَأَى زِحَامًا وَرَجُلًا قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ مَا هَذَا فَقَالُوا صَائِمٌ فَقَالَ لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdurrahman Al Anshariy berkata; Aku mendengar Muhammad bin ‘Amru bin Al Hasan bin ‘Ali dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dalam suatu perjalanan melihat kerumunan orang, yang diantaranya ada seseorang yang sedang dipayungi. Beliau bertanya: “Ada apa ini?” Mereka menjawab: “Orang ini sedang berpuasa”. Maka Beliau bersabda: “Tidak termasuk kebajikan berpuasa dalam perjalanan”

Dari hadits ini, KH Lutfi Bashori menyitir pendapat sebagian ulama’, bahwa Rasulullah Saw melakukan media lintas bahasa yaitu menggunakan bahasa Yaman ketika berdialog dengan orang2 Yaman.

Hal ini senada dengan Firman Allah yg berbunyi: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ Artinya: Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (QS Ibrahim ayat 04). Dan juga di dasarkan pada kisah Sayyidina Umar Ra pernah dg karomahnya menyurati sungai Nil ketika terjadi banjir, melewati gubernur Mesir Amr bin Ash yg berbunyi: “Dari hamba Allah, Amirul Mukminin, Umar bin Khattab. Amma Ba’du. Jika kau (sungai Nil) mengalir karena dirimu maka janganlah engkau mengalir. Namun jika yang mengalirkanmu adalah Allah, maka mintalah kepada Allah yang maha kuasa untuk mengalirkanmu kembali”.

Jadi maksud dari penjelasan Imam Besar NU Garis Lurus ini ialah, bahwa da’i tidak boleh stagnan, harus menggunakan metode. Baik dalam bahasa maupun dalam startegi dakwah berupa karya tulis melalui kemajuan teknologi berupa sosmed. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Rasulullah Saw menggunakan lintas Bahasa dan Sayyidina Umar Ra menggunakan karya tulis (berupa surat).

Pengasuh Ribath al-Murtadho Singosari ini kemudian menganalogikan orang yg berdakwah hanya menggunakan satu metode saja semisal hanya mengajar di majlis taklim semata, tanpa dakwah lintas metode, itu sama halnya dengan orang sholat munfarid, maka pahalanya hanya satu. Berbeda dengan da’i yg berdakwah dg berbagai metode dan strategi, ia bagaikan orang sholat jamaah, yg pahalanya 27 kali dari orang sholat sendirian.

Di satu sesi yang berbeda Kyai Haji Muhammad Jaiz Badri Masduqi menyampaikan, bahwa sebuah keniscayaan jika orang baik akan dikumpulkan dengan orang baik pula, pejuang aswaja akan betkumpul dengan pejuang sejati aswaja pula dan begitupula sebaliknya.

Masih menurut penuturan Ust Fahim: “Selain puluhan saudara LPI dari FPI, kami juga mendapat kehormatan dengan hadirnya beberapa anggota BANSER JEMBER, sebenarnya kami juga mengundang saudara KOKAM dari Muhammadiah, karena bagi kami ormas hanyalah kendaraan, tapi hakikatnya umat islam tg harus saling bersatu dan bangun kekuatan umat islam yg dulu pernah ada pada zaman baginda nabi dan para sahabat” ujar Alumni Sidogiri ini yang pernah menjadi korban persekusi.

Acara kopdar ini diakhiri dengan Foto bersama sebagai bentuk keharmonisan persatuan umat islam tanpa harus menanyakan apa ormasmu, partaimu, golonganmu dlsb.?. Muhammad Saad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *