Konsep Tauhid Syiah

 Oleh: Kholili Hasib

Pendahuluan

Dalam dunia pemikiran teologi, Syiah termasuk salah satu sekte di luar Ahlus Sunnah (Sunnah) yang gerakannya paling eksis hingga kini. Di banding firqahlainnya seperti Khawarij, Mu’tazilah, Jabariyah, dan lain-lain, penyebaran Syiah lebih massif. Bahkan kini mendirikan pemerintahan, yaitu Iran. Doktrin yang paling terkenal dan mendasarnya adalah Imamah. Akidah imamah adalah kepercayaan paling sentral. Sistem pemerintahan, konsep teologi, konsep hadis termasuk konsep ketauhidan –seperti yang akan dijelaskan nanti – berkait erat dengan konsep imamah ini[1]. Bisa dikatakan imamah merupakan worldview (pandangan hidup) aliran Syiah. Tulisan ini akan mengkaji salah satu konsep penting, yaitu konsep tauhid Syiah. Kajian ini menjadi penting ketika berkembang asumsi konsep Tuhan tidak ada perbedaan prinsipil dengan Ahlus Sunnah. Dengan pehamaman bahwa Imamah merupakan worldview Syiah, maka kajian ringkas ini akan membuktikan bahwa konsep tahudi Syiah berbeda dengan tauhid Sunnah.

 

Konsep Ke-Esa-an dan Absolusitas Imamah

Secara sekilas konsep tahid Syiah dengan Ahlus Sunnah tidak menunjukkan perbedaan mendasar. Syiah  meyakini ke-Esa-an Allah subhanahu wa ta’ala.Allah adalah Tuhan yang satu, tiada duanya dan Allah tidak memiliki anak. Ulama’ Syiah kontemporer, al-Khomeini, dalam bukunya Kasf al-Asrar mengutip beberapa ayat al-Qur’an tentang ke-Esa-an Allah dan mengecam kaum musyrik yang meyakini Tuhan lebih dari satu. Ia mengutip surat al-Anbiya’: 22 dan 24. Menjawab para penyembah berhala, Khomeini mengutip surat Yunus: 19, dan menjawab ketuhanan orang Kristen yang tiga ia berhujjah dengan dalil surat al-Nisa’: 181, al-Ma’idah: 19, dan al-Taubah: 30[2].

Kitab al-Kafi, kitab hadis Syiah yang paling utama, memuat riwayat tentang syarat Islamnya seorang muslim, yakni dengan membaca Syahadah. “Dari Samma’ah, dia berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah as: ajari aku tentang Islam dan iman, apakah keduanya berbeda? Abu Abdilllah menjawab: ‘Sesungguhnya iman masuk dalam kata-kata Islam, sedangkan Islam tidak masuk dalam kata-kata iman’. Aku berkata: ‘Terangkanlah padaku lebih lanjut. Beliau menjawab: ‘Islam adalah bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan membenarkan Rasulullah, dengan Islam inilah darah dilindungi dan di atas kalimat ini pulalah pernikahan dan warisan bisa dianggap sah, dan pada dzahir dari pengakuan itulah semua manusia”[3].

Menyimak keterangan tersebut di atas, tidak ditemukan berbedaan mendasar dalam konsep ketuhanan dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Syiah meyakini bahwa Allah adalah Tuhan satu-satunya yang patut disembah. Menolak keyakinan-keyakinan yang menyatakan bahwa Allah memiliki anak atau diperanakkan. Syiah juga meyakini bahwa Syahadat menjadi syarat Islamnya seseorang.

Akan tetapi jika dipandang dari worldview konsep Islam, yang selama ini diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, konsep ke-Esa-an Allah yang diyakini Syiah seperti tersebut di atas akan tampak ketidakmurnian pengesaannya kepada Allah. Pertama, Syiah menyematkan sifat bada’ kepada Allah. Bada’ adalah membatalkan keputusan yang telah diputuskan sebelumnya karena ada pemikiran baru. Mamduh Farhan al-Buhairi, seorang peneliti Syiah dari Ummul Qura Makkah, menjelaskan tentang akidah Bada’; Syiah meyakini bahwa Allah menciptakan makhluk, dan Dia tidak mengetahui apakah mereka itu baik atau buruk[4]. Dengan kata lain, ilmu Allah itu akan berubah dan menyesuaikan fenomena yang terjadi.

Akidah bada’ pertama dikumandangkan oleh Mukhtar al-Tsaqafi, seorang ulama Syiah klasik. Ia pernah mengaku mengetahui hal-hal ghaib. Jika terjadi suatu peristiwa yang berbeda dengan apa yang ia beritahukan, maka dia berdalih:”Telah timbul pikiran baru bagi Tuhan kamu”[5]. Pandangan al-Tsaqafi inilah yang menjadi embrio kepercayaan bada’. Oleh sebab itu, banyak peneliti seperti al-Buhairi dan al-Salus, berhujjah bahwa latar belakang dari akidah bada’ ini adalah untuk memberi jalan keluar atau menutupi pernyataan-pernyataan para imam Syiah yang ma’sum yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Seperti diyakini Syiah, ilmu Imam tidak terbatas. Mereka mengetahui hal-hal yang belum terjadi, sebagaimana Allah ketahui. Tetapi, ketika, ia berkata, kemudian perkataannya tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, maka Syiah berdalih, bahwa ternyata Allah memiliki pemikiran baru yang berbeda dengan apa yang telah dikatakan oleh Imam, sehingga  kema’suman mereka terjaga.

Dalam akidah Syiah, bada’  termasuk  bagian dari konsep tauhid. Seperti tertulis dalam kitab al-Kafi, kajian akidah bada’ dimasukkan ke dalam Kitab al-Tauhid.Menurut keterangan al-Kafi, semua nabi mengakui akidah bada’, bahkan tidak ada nabi yang diangkat kecuali ia meyakini akidah bada’. Diriwayatkan dari Marazim bin Hakim dia berkata: ‘Aku mendengar Abu Abdillah mengatakan;’Seorang Nabi tidak remsi menjadi Nabi hingga mengakui lima perkara karena Allah, mengakui bada’,masyi’ah, sujud, ubudiyah dan taat”[6].

Al-Kulaini, penulis al-Kafi menukil sebuah riwayat tentang nisbat bada’ kepada Allah. “Allah mengalami bada’ tentang Abu Muhammad setelah Ja’far, sesuatu yang belum Dia ketahui untuknya”[7]. Riwayat Syiah ini menilai bahwa Allah sebelumnya telah memutuskan Ja’far sebagai imam. Namun ketika Ja’far meninggal sebelum jadi imam, segera Allah memutuskan lain, Abu Muhammad sebagai imam. Di sini artinya, Syiah meyakini bahwa pengetahuan Allah tidak luas, Dia tidak mengetahui bahwa Ja’far akan meninggal sebelum menjadi imam. Ini tentu berbeda dengan kepercayaan Ahlus Sunnah. Padahal ilmu Allah itu luas tak terbatas. Seperti firman Allah: “Tidak ada yang tersembunyi daripada-Nya sebesar dzarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada pula yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan telah tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh al-Mahfudz)”[8]. Allah mengetahui kunci-kunci yang ghaib. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelau daun pun yang jatuh melainkan Dia mengetahuinya”[9] .Akidah bada’ ini sekaligus menyimpulkan bahwa pengetahuan dan keputusan Allah tergantung dari sebuah peristiwa. Ini menafikan kemandirian Allah dalam memutuskan perkara.

Selain akidah bada’ konsep ke-Esan-an dalam Syiah menjadi rancu ketika dikaitkan dengan konsep imamah. Akidah Imamah diposisikan sebagai akidah penyerta dalam konsep ketuhanan. Secara elementer, konsep imamah berbeda jauh dengan yang dipahami Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beriman kepada imamah sebagai prasyarat untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak sah keimanan seseorang – meskipun secara tulus beriman kepada Allah dan Rasul –Nya jika tidak diberengi oleh kepercayaan terhadap keimamahan Syiah. Dari sinilah konsep Imamah Syiah merupakan konsep murni teologis, tidak sekedar konsep politis.

Imamah merupakan jabatan ilahi, kedudukannya tidak diperoleh melalui musyawarah akan tetapi ditunjuk olah Allah. Ulama’ kontemporer Syiah, Husein Ali Kasyif al-Ghita’ mengatakan: “Yang dimaksud Imamah adalah suatu jabatan Ilahi. Allah yang memilih berdasarkan pengetahuan-Nya yang azali menyangkut hamba-hamba-Nya, sebagaimana Dia memilih Nabi. Dia memerintahkan kepada Nabi untuk menunjuknya kepada umat dan memerintahkan mereka mengikutinya. Syiah percaya bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menunjuk Ali dengan tegas dan menjadikannya tonggak pemandu bagi manusia sesudah beliau”[10].

Lebih ekstrim lagi, para Imam memiliki kuasa seperti Allah. Imam Khomeini mengatakan: “Ini kerana bagi imam itu kedudukan-kedudukan maknawi yang tersendiri, terpisah dari keududukan pemerintahan. Imamah merupakan kedudukan Kekhalifahan yang menyeluruh bersifat ketuhanan, yang telah tersebut oleh para Imam a. s,  dimana seluruh hal-hal yang paling kecil yang ada ( di bumi) tunduk kepada mereka”[11]. Pemikiran ini diperkuat dengan riwayat dalam al-Kafi yang menyatakan : “Tidakkah engkau tahu bahawa dunia dan akhirat itu untuk Imam, dia mengurusnya sesuai sekehendaknya dan dia memberinya kepada sesiapa yang dia hendaki, yang demikian itu dari (anugerah) Allah”[12]. Bisa disimpulkan, alam semesta ini diatur oleh Allah dan para Imam. Para Imam memiliki hak kuasa yang tidak dimiliki para Nabi sekalipun.

Dengan landasan seperti itu, poisis imamah menjadi absolut. Dalam epsitemologi Syiah, imamah merupakan sumber ilmu yang pasti. Alasannya cukup ekstrim; para imam diyakini tidak pernah lupa dan mengantuk. Seperti dikatakan oleh Imam Khumaini; “Para Imam dimana kita tidak bisa memandangnya tidak mengantuk dan lalai”[13]. Oleh karenanya, imam dalam pemikiran Syiah itu ma’sum (terbebas dari dosa). Bahkan, imamah menjadi salah satu rukun Syiah. Imam Khumaini menjadikannya seperti syahadat, para mayit biasanya dibacakan talqin dengan menyebut-nyebut kewajiban meyakini para Imam[14].

 

Ta’wil Ayat-Ayat Tentang Syirik

Keyakinan-keyakini seperti tersebut di atas memperkuat asumsi, bahwa akidah imamah menjadi salah satu aspek penting dalam praktik keyakinan Syiah. Salah satunya, penafsiran ayat-ayat al-Qur’an berbasis Imamah. Argumentasi yang dikedepankan adalah hujjah berdasarkan konsep prinsipil imamah Syiah. Untuk itu, ayat-ayat yang berkaitan dengan tauhid, syirik dan sebagainya dita’wil dengan konsep Imamah sebagai landasannya.  Umumnya ayat yang berkaitan dengan konsep syirik misalnya, ditafsirkan secara konstan tidak lepas dari kepercayaan kepada para imam Syiah.

Salah satu di antaranya, surat al-Zumar ayat 65. Terjemahan ayat tersebut adalah: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelum kamu. Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. Al-Kulaini dalam kitab al-Kafi  menjelaskan bahwa yang dimaksud menyekutukan dalam ayat tersebut adalah mempersekutukan imam Ali dengan kepemimpinan orang lain[15]. Keyakinan seperti ini telah dipertegas oleh ulama’ klasik kenamaan Syiah, al-Majlisi dalam karyanya, Bihar al-Anwar.  Ia mengatakan: “Ketahuilah bahwa memutlakkan kalimat syirik dan kufur dalam teks-teks Syiah terhadap orang-orang yang tidak mempercayai keimamahan Ali dan para imam setelah beliau dan mengutamakan orang lain daripada mereka, menunjukkan bahwa orang-orang itu kafir dan kekal di neraka”[16].

Surat al-Baqarah ayat 36 yang menjelaskan tentang persaksian keimanan kepada Allah dan Rasulullah diselewengkan menjadi keimanan terhadap imam dan Ahlul Bait. Terjemahan ayat tersebut adalah :  “Katakanlah (wahai orang-orang mukmin) ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami”. Ayat ini ditafsirkan oleh al-Kulaini secara keliru. Menurutnya, yang dimaksud beriman kepada yang diturunkan Allah adalah beriman kepada Ali, Fatimah, Hasan, Husein dan para imam setelah mereka[17]. Dengan demikian, tafsir al-Qur’an terlalu jauh diselewengkan dimana tafsir seperti tersebut tidak pernah dijumpai pada ulama’-ulama salaf. Metodologi tafsir berbasis imamah inilah yang menyalahi metode baku tafsir para ulama’ salaf.

Tanpa perlu penjelasan yang rumit, kita bisa menyimpulkan bahwa konsep syirik dalam Islam telah dibongkar sedemikian rupa dengan memasukkan konsep Imamah sebagai dasarnya. Syirik, yang dalam pemahaman Islam adalah mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain selain-Nya, diperluas maknanya sehingga menjadi orang yang mempersekutukan Allah dan yang mempersekutukan imam Ali. Jadi pemahaman tentang syirik berkait dengan kepercayaan terhadapa imamah. Bahkan akidah imamah menjadi syarat  untuk membersihkan dari kesyirikan.

Konsep syirik tidak sekedar penyekutuan terhadap Tuhan, tapi juga kepada imam yang notabene adalah manusia. Konsep seperti ini tampak telah terjerumus kepada paham ‘antroposentrisme’ –yaitu paham yang meyakini manusia sebagai kebenaran. Meski bukan persis sama dengan antroposentrisme yang berasal dari tradisi Barat. Akan tetapi, konsep akidah Syiah yang menjadikan imamah sebagai sentral keyakinan. Konsep akidah tauhid Syiah dengan menjadikan para imam  sebagai asasnya, dapat dikatakan memiliki unsur paham antroposentrisme. Apalagi, seperti tersebut dalam riwayat di atas, imamah seperti kedudukan nubuwwah (kenabian) yang memiliki sifat uluhiyyah. Menempatkan manusia (yaitu para imamnya) pada level sifat-sifat ketuhanan. Dalam konsep Islam, seluruh manusia memiliki kesalahan, hanya para nabi yang dijamin kema’shumannya (tidak berbuat salah/dosa). Seperti keterangan Imam Fakhruddin al-Razi dalam kitabnya Ishmah al-Anbiyabahwa hanya para nabi yang ma’shum dari dosa besar maupun kecil dengan sengaja. Adapun lupa, para nabi bisa melakukan kelupaan. Namun langsung diberi ingatan oleh Allah[18]. Sedangkan para imam, hampir memiliki sifat seperti sifat Allah, tidak lupa dan mengetahui hal-hal ghaib di alam semesta ini. Akidah yang demikian menjadikan para imam memiliki sifat-sifat rububiyyah yang semestinya tidak tepat disematkan kepada manusia.

 

Pentutup

Dengan keterangan singkat di atas dapat disimpulan bahwa secara prinsip, konsep tauhid Ahlussunnah wal Jamaah berbeda dengan konsep tauhid Syiah. Perbedaan itu berasal dari pemahaman yang ghuluw (ekstrim) dari Syiah tentang konsep imamah. Konsep tauhid kepada Allah, ternyata tidak dapat berdiri sendiri dalam Syiah. Tauhid Syiah ternyata perlu ditopang dengan kepercayaan kepada para imam. Sehingga syarat seorang muslim menjadi muwahhid (orang yang bertauhid) dalam aliran Syiah adalah harus percaya kepada imam beserta teori-teorinya tentang imamah. Pehamaman ini berimplikasi terhadap konsep syirik. Syirik diperluas maknanya menjadi mempersekutukan kepada Allah, dan mempersekutukan Ali dan para imam dengan orang lain dalam hal kepemimpinan. Implikasi berikutnya, konsep ini berpengaruh terhadap konsep-konsep lainnya, seperti konsep pemerintahan, konsep ilmu, konsep keselamatan dan lain sebagainya. Pemerintah yang sah harus dikendalikan oleh imam. Pengetahuan pera imam menjadi pengetahuan yang pasti benar dan imam merupakan salah satu syarat jalan keselamatan. Dengan demikian, kita bisa katakana bahwa konsep imamah menjaadi pandangan hidup syiah, termasuk menjadi elemen mendasar dalam konsep tauhid. Pemahaman ekstrim inilah yang sangat berpotensi menciptakan keresahan dalam interaksi Sunnah-Syiah.[]

 

Daftar Pustaka

Abdullah Muhammad al-Gharib,Al-Khumaini baina al-Tathorruf wa al-I’tidal, (Pakistan: tanpa tahun)

Ali Ahmad al-Salus,Ensiklopedi  Sunnah-Syiah Jilid I,[terj] (Jakarta: Pustaka al-Kautsar,1997)

Fakhruddin al-Razi,Ishmah al-Anbiya’, (Kairo: Maktabah al-Tsaqafah al-Diniy, tt)

Mamduh Farhan al-Buhairi,Gen Syiah Sebuah Tinjauan Sejarah, Penyimpangan Aqidah dan Konspirasi Yahudi [terj],(Jakarta: Darul Falah, 2001)

Muhammad al-Husein Ali Kasyif al-Ghita,Asl al-Syiah wa Ushuliha, hal. 134

Muhammad bin Ya’kub bin Ishaq Al-Kulaini,Al-Kafi juz II, (Teheran:Dar al-Kutub al-Islami,1389 H)

Ruhullah Khumaini,al-Hukumah al-Islamiyah, (Teheran: Dar Kutub Islamiyah, tt)

Ruhullah Khumaini,Kasf al-Asrar, (Amman: Dar ‘Imad, 1408 H/1987 M)

Tim Penulis Buku Sidogiri,Mungkinkah Sunnah Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban Atas Buku Dr. Quraisy Shiah (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan!Mungkinkah?),(Pasuruan: Pustaka Sidogiri, 2007)

 


[1] Menurut Khumaini, usaha-usah pendirian Negara Syiah merupakan bagian dari aplikasi iman terhadap wilayah (keimamahan). Lihat Ruhullah Khumaini,al-Hukumah al-Islamiyah, (Teheran: Dar Kutub Islamiyyah, tt) , hal.20

[2] Ruhullah Khumaini,Kasf al-Asrar, (Amman: Dar ‘Imad, 1408 H/1987 M), hal. 37 dan 38

[3] Muhammad bin Ya’kub bin Ishaq Al-Kulaini,Al-Kafi juz II, (Teheran:Dar al-Kutub al-Islami,1389 H), hal. 25

[4] Mamduh Farhan al-Buhairi,Gen Syiah Sebuah Tinjauan Sejarah, Penyimpangan Aqidah dan Konspirasi Yahudi [terj],(Jakarta: Darul Falah, 2001), hal. 192

[5] Ali Ahmad al-Salus,Ensiklopedi  Sunnah-Syiah Jilid I,[terj] (Jakarta: Pustaka al-Kautsar,1997), hal. 327

[6] Al-Kulaini,Al-Kafi  juz I,….. hal. 148

[7] Al-Kulaini,Al-Kafi  juz I,…… hal. 40

[8] QS. Saba’: 3

[9] QS. Al-An’am: 59

[10] Muhammad al-Husein Ali Kasyif al-Ghita,Asl al-Syiah wa Ushuliha, hal. 134

[11] Ruhullah Khumaini,al-Hukumah al-Islamiyah, (Teheran: Dar al-Kutub Islamiyah, tt), hal. 84

[12] Muhammad bin Ya’kub bin Ishaq Al-Kulaini,Al-Kafi juz IV,…. 350

[13] Ruhullah Khumaini,al-Hukumah al-Islamiyah, ….. hal. 52

[14] Abdullah Muhammad al-Gharib,Al-Khumaini baina al-Tathorruf wa al-I’tidal, (tanpa tahun), hal. 37

[15] Muhammad bin Ya’kub bin Ishaq Al-Kulaini,Al-Kafi juz I,…. 427

[16] Al-Majlisi,Bihar al-Anwar 23, hal. 390

[17] Muhammad bin Ya’kub bin Ishaq Al-Kulaini,Al-Kafi juz I,…. 415

[18] Fakhruddin al-Razi,Ishmah al-Anbiya’, (Kairo: Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, 1986), hal. 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *