KONSEP KLASIFIKASI ILMU AL-GHAZALI, AZAS PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Muhammad Saad*

Adalah Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali al-Thusi atau biasa disebut Imam al-Ghazali, walaupun belakangan popular karena kehidupan dan ajaran sufistiknya, sebenarnya beliau telah melalui berbagai bidang ilmu yang diketahuinya, mulai dari ilmu fiqh, kalam, falsafah, hingga tasawuf.[1]

Meski begitu dalam satu karya al-Ghazali tidak melulu membahas satu bahasan keilmuan saja namun berbagai ilmu terkadang dibahas dalam satu kitab. Semisal Ihya’ Ulumuddin. Dalam kitab tersebut membahas  tentang konsep ilmu, konsep Aqidah,  fiqh dan lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa al-Ghazali adalah seorang representatif ulama’ integral dengan keilmuanya.

Pandangan terhadap fenomena pendidikan di atas memberikan inspirasi pada penulis untuk menguraikan pentingnya konsep klasifikasi ilmu al-Ghazali sebagai azas pendidikan Islam

Sepintas Gambaran Klasifikasi Ilmu al-Ghazali

Sebenaranya al-Ghazali masih memperinci lebih detail lagi tentang kalisifikasinya. Namun penulis menguraikan klasifikasi al-Ghazali dalam bidang-bidang pokok. Sebab hal tersebut cukup sebagai dasar azas pendidikan Islam. Pembagaian ilmu fardhlu ‘ain dan fardhlu kifayah tidak sama dengan dikotomi ilmu, sebab ia hanyalah pembagaian hirarki ilmu pengetahuan berdasarkan kepada tingkat kebenarannya. Kalsifikasi al-Ghazali ini tetap harus dilihat dalam sudut pandang yang integral, dimana yang pertama merupakan azas dan rujukan bagi yang kedua.[2]

Ilmu secara umum menurut imam al-Ghazali terbagi menjadi menjadi dua klasifikasi diantaranya: ilmu muamalah dan ilmu mukasyafah

Ilmu muamalah terdiri dari ilmu fardhlu ‘ain dan ilmu fardhlu kifayah. Ilmu fardhlu ‘ain sendiri hanya membahas ilmu syariah. Sedangkan ilmu fardhlu kifayah memiliki 4 klasifikasi yaitu: ilmu Syariah, ilmu ghoyru Syariah. Ilmu ghoyru syaii’yah terbagi menjadi mahmudah, madzmumah  dan ilmu mubah.

Ilmu fardhu kifayah ghoyru syariah ialah ilmu yang bukan syariah namun sangat dibutuhkan terkait dengan kemaslahatan dunia. Imam al-Ghazali memberikan contoh: Kedokteran , Matematika,  teknik, pertanian, pelayaran, politik, bekam, dan menjahit.[3]

Adapun ilmu Mukasyafah, Imam al- Ghazali menjelaskan bahwa ilmu ini adalah puncak dari semua ilmu karena berhubungan dengan hati, ruh, jiwa dan pensucian jiwa. Ilmu diibaratkan seperti cahaya yang menerangi hati seseorang dan mensucikan dari sifat-sifat tercela.  Dengan membuka cahaya itu, maka perkara dapat diselesaikan, didengar, dilihat dan dibaca yang pada akhirnya dapat membuka hakikat ma’rifat dengan dzatullah subhannahu wa ta’ala. Ilmu ini adalah puncak ilmu yang dimiliki para siddiqun dan muqarrabun.

Sebagai Azas Kurikulum

Dalam klasifikasi ilmu, al-Ghazali menghiraki ilmu menjadi dua bagian. Ilmu fardhlu ‘ain dan ilmu fardhlu kifayah. Menurut al-Attas, apa yang dilakukan al-Ghazali ini adalah mengutamakan muatan ilmu dari pada metode sendiri. Sebab menurut al-Attas manusia memiliki sifat dualistis, bagi mereka ilmu pengetahuan yang baik adalah dapat mengakomodir kebutuhan spiritual yang permanen dan sekaligus kebutuan material dan emosional.[4]

Namun hal ini bukan berarti al-Ghazali mengabaikan metode. Bagi al-Ghazali bahwa kemuliaan sebuah ilmu ditentukan oleh buahnya dan keaslian prinsip-prinsipnya,. Yang pertama itu lebih penting dari yang kedua. Sebagai contoh, walaupun tidak setepat matematika, ilmu kedokteran lebih penting bagi seseorang. Begitu juga ilmu agama, (ilmu al-din) adalah lebih mulia dari ilmu kedokteran.[5]

Artinya kurikulum pendidikan Islam bila merujuk kepada Imam al-Ghazali sesuai dengan konsep klasifikasinya, maka pembelajaran yang diutamakan adalah dari segi konten martabat ilmu itu sendiri. Bila begitu maka isi kurikulum pendidikan Islam dimulai dengan ilmu fardhlu ‘ain kemudian ilmu fardhlu kifayah.

Ilmu Fardhu Ain Sebagai Azas Kurikulum

Ilmu fardhlu ‘ain adalah ilmu yang wajib dituntut oleh semua muslim, yang berakal dan baligh.[6] Bagi al-Attas ilmu fardhlu ‘ain tidaklah ilmu pengetahuan yang kaku dan tertutup sebagaimana pengertian yang populer terjadi. Cakupan Fardhlu ‘ain sangat luas sesuai dengan perkembangan dan tanggung jawab spiritual, sosial, dan profesional seseorang. Hal ini berarti bahwa mencari ilmu tingkat tinggi secara keagamaan adalah wajib dan sarana yang lebih baik untuk memperolehnya merupakan syarat mutlak, maka wajib pula menguasai ilmu-ilmu yang membantu memperoleh ilmu yang lebih tinggi tersebut.[7]

Sebagimana definisi fardhlu ‘ain, bahwa yang wajib mempelajari ilmu ini adalah bagi mereka yang berakal dan baligh, maka pendidikan ilmu fardhlu ‘ain sudah dipelajari dan diamalkan ketika peserta didik menginjak masa tersebut. Menurut kholili hasib MA, pendidikan ilmu fardhlu ‘ain bisa dibebankan kepada anak setingkat kelas VI Madrasah. Sebab dalam usia itu peserta didik sudah menginjak pada masa baligh sehingga beban ilmu fardhlu ‘ain sudah bisa ditaklifkan kepada mereka.

Bagi al-Ghazali ilmu fardhlu ‘ain ilmu yang berdasakan pada wahyu meliputi: pertama: ilmu aqidah: ilmu yang membahas Tuhan, kemudian juga ilmu tentang para Nabi.[8]

Melihat betapa kompleks yang dibahas dalam ilmu aqidah, serta kebutuhannya begitu urgent bagi peserta didik muslim. Maka dalam pengaplikasian terhadap kurikulum pendidikan Islam, porsi yang diberikan kepada ilmu kalam hendaknya mendapatkan porsi yang lebih banyak. Pembahasan ilmu kalam tidak sebatas peserta didik faham dan hapal akan materi pelajaran namun peserta didik harus benar-benar mampu menghayati dan memanfaatkan ilmu tersebut.

Strategi al-Ghazali dalam penyampaian materi ilmu kalam bagi pemula ialah disyaratkan seorang pendidik untuk mentransfer langsung materi tersebut kepada peserta didik. Peserta didik tidak dibiarkan menela’ah ilmu kalam dengan otodidak baik memalaui bacaan, penelitian atau nash-nash dalil naqli.[9] Jika hal itu mampu diaplikasikan dalam diri peserta didik, maka ilmu kalam akan menjadi dasar cara pandang (worldview) terhadap setiap realitas yang ada dengan cara pandang tauhidi.

Ilmu fardhlu ‘ain yang kedua adalah ilmu fiqh. Menurut al-Attas ilmu fiqh merupakan ilmu prinsip-prinsip dan pengamalan Islam (Islam, Iman dan Ihsan) yang pengetahuan syariatnya adalah aspek yang penting dalam pendidikan Islam.[10]

Dalam hal ini al-Ghazali mengelompokkan ilmu fardhlu ‘ain dalam ilmu fiqh diantaranya: Bersuci, Sholat, zakat, puasa, dan haji, selebihnya termasuk pembahasan ilmu fardhlu kifayah. Kecuali bagi beberapa individu-individu yang kondisinya membutuhkan ilmu fiqh tersebut.

Merujuk kepada strategi pendidikan al-Ghazali. Maka ilmu Fiqh meliputi Thaharah, sholat, zakat puasa dan haji, hendaknya dimasukan kurikulum pendidikan dengan porsi lebih namun sedikit dibawah setelah ilmu kalam. Peserta didik tidak saja hanya diberikan penjelasan tentang tata cara, syarat-rukun ilmu fiqh. Namun juga harus bisa memberikan kepada peserta didik nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalam pembelajaran ilmu fiqh tersebut. Contoh: ketika membahas tentang sholat dihubungkan dengan fadhilah sholat dengan mengungkap rahasia-rahasia keistimewaan sholat berdasarkan  al-Qur’an dan sunnah.[11]

Ilmu fardhlu ‘ain ketiga adalah al-Qur’an; membaca dan tafsirannya. Al-Ghazali menekanan dalam studi al-Qur’an yang utama adalah bacaannya. Sebab dengan mempelajari bacaan adalah bagian dari menjaga kelestarian al-Qur’an.

Strategi al-Ghazali dalam mengaplikasikan studi al-Qur’an ialah, selalu menunjukkan rahasia keutamaan membaca al-Qur’an.[12]Kemudian peserta didik  dituntut menjaga adab ketika mempelajari al-Qur’an yaitu belajar dan mengamalkan bacaan al-Qur’an baik dhohir maupun.[13]

Ilmu fardhlu ‘ain keempat bagi al-Ghazali adalah ilmu tashawwuf. Dengan ilmu tersebut seorang peserta didik dapat membersihkan penyakit hati serta dapat membedakan ciri-ciri Allah dengan ciri-ciri setan.[14]

Peserta didik diberikan wawasan tentang ilmu jiwa diantaranya tentang konsep diri (nafs), ruh, hati dan aqal adalah bagaian dari strategi menyampaikan ilmu tasawwuf. Dalam mentrasfer ilmu keempat fakultas tersebut harus dalam satu paket, dan memberikan penjelasan akan hubungan satu sama lainnya.

Suatu strategi pendidikan yang luar bisa yang diajarkan oleh al-Ghazali sebab dengan demikian maka telah terjadi integrasi ilmu syariah dan aqliyah. Hal ini yang kemudian bisa membangun jiwa peserta didik bahwasannya konsep ilmu dalam Islam adalah integral dan sinergis.

Pendidikan tashawwuf  ini harus benar-benar mendapat perhatian serius, sebab pembentukan karakter seorang murid bersumber dari pendidikan tasawwuf. Al-Ghazali menuturkan bahwa seorang guru dalam bidang tasawwuf seperti seorang dokter, dimana ia harus mendiagnose setiap pasienya untuk mengetahui penyakit yang diderita, agar obat yang diberikan sesuai dengan penyakit pasien tersebut.[15]

Ilmu Fradhu Kifayah Sebagai Azas Kurikulum

Untuk mengaplikasi ilmu fardhu kifayah dalam kurukulum pendidikan Islam. Untuk ilmu syariah semisal ilmu fiqh tetap satu paket dengan ilmu fiqh fardhlu ‘ain, namun porsi waktu bisa dikurangi, dan pembahasan tidak se-intens pembahasan ilmu fiqh yang fardhl ‘ain. Cukup bagi peserta didik hanya memahami ilmu fiqh tersebut. Sedangkan ilmu fardhlu kifayah ghayru syariah, semua dipelajari namun dengan porsi dan durasi waktu di bawah ilmu fardhlu ‘ain.[16]

Namun bila ternyata ilmu-ilmu fardhlu kifayah  itu sekiranya dibutuhkan untuk mencapai ilmu fardhu ain, atau tanpa ilmu fardhu kifayah, ilmu fardhu ain tidak bisa dicapai, maka ilmu-ilmu fardhu kifayah yang dibutuhkan tersebut berubah menjadi ilmu fardhlu ‘ain. Contoh: dalam pelajaran ilmu al-Qur’an untuk bisa memabaca al-Qur’an secara fashih maka diperlukan ilmu tajwid, karenanya ilmu tajwid menjadi ilmu fardhlu ‘ain.

Sebagai Azas Pendidikan Itegral

Kaitannya dengan pendidikan integral berbasis klasifikasi ilmu, ialah menjadikan konsep ilmu fardhu ain sebagai landasan dari ilmu fardhu kifayah ghoyru syar’iyah seperti ilmu biologi, matematika, ekonomi, dsb. Juga yang dimaksud dalam penjelasan ini adalah menggunakan ilmu ghoyru syar’iyah sebagai bagian dari metode penjelasan tentang ilmu fardhlu ‘ain.

Tentunya ilmu fardhlu kifayah ghoyru syar’iyah yang menjadi mata pelajaran terlebih dahulu mengghilangkan pengaruh nilai-nilai Barat yang penuh humanistik, sekuleristik dan dikotomis.[17] Nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu pengetahuan tersebut menurut al-Attas harus dihilangkan sebab tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam.[18]

Langkah awal dalam pengaplikasian kalsifikasi ilmu al-Ghazali sebagai azas pendidikan integral ialah mendudukan niat dengan niatan semata-mata ibadah kepada Allah. Betapa urgent sebuah niat, sampai-sampai Rasul Saw memerintahkan kepada umatnya agar setiap menata niat beribadah dalam melakukan segala kegiatan.

Dalam mengaplikasikan konsep al-Ghazali sebagai azas pendidikan integral, ialah menjadikan ilmu fardhu ain sebagai landasan ilmu fardhu kifayah.

Contoh, dalam Ilmu biologi pespektif pendidikan integral berbasik fardhu ain dapat ketika menjelaskan tentang fase embrio. Fase-fase embrio mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Penjelasan ini disampaikan dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur’an QS, Azzumar : 06 [19]

Pengaplikasian pendidikan integral ini bisa diterapkan kepada semua mata pelajaran pada ilmu fardhu kifayah. Wallahu a’lam bi shawwab

 

 

*Penulis adalah alumni PP. Aqdaamul Ulama’-Pandaan-Pasuruan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1]Biografi Imam al-Ghazali, http://imamalghazali.com,  (online), (diaksespada 20- Agustus-2013)

[2] Hamid Fahmi Zarkasy, Peradaban Islam, Makna dan Strategi pembangunannya, (Ponorogo: CIOS-ISID –Gontor, 2010), hal. 63

[3]Ibid, hal. 27

[4] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, (Bandung: Mizan, 2003), hal. 269

[5] Ibid, hal. 269

[6] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin”, ( Kuala Lumpur, ISTAC,  2001), Hal. 60

[7] Wan Daud, Op, Cit,  hal.  274

[8] Abdul al-Rahman assegaf, al-‘Aqaid al-Diniyyah, (Surabaya: Muhammad bin ahmad al-Nabhan, 2000), hal. 19-20

[9] Abu Hami Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulmumuddin, (Bayrut : Dar  al-Fikr, 1991),  jilid I, hal. 25

[10] Wan Daud, Op, cit. Hal 276

[11] Ibid, hal. 209-210

[12] Muhammad al-Qasimi al-dimisqi, Mau’idhzotu al- mu’minin min Ihya’ Ulumuddin, (Sindopura : Dar a-Ulum al-Ilmiyah), hal. 76

[13] Ibid, hal. 76-78

[14] Abu hamid Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, (Bayrut: Dar al-Fikr, 1991) , hal.25

[15] Abu hamid Muhammad al-Ghazali, Op, Cit, hal. 175

[16] Wan daud, Op, Cit, hal. 282

[17] Rosnani Hasim, Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer: Sejarah Perkembangan dan Arah Tujuan, (Jakarta : ISLAMIA, 2004), Edisi VI,  hal. 06

[18] Ibid, hal. 06

[19] Kajian Biologi Menurut Islam `fase embrio`, artikel, (Online), (www.keajaibanalquran.com/biology_08.html,, diakses 02 Agustus 2013)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *