Komunitas ‘Aswaja Garis Lurus’ Ajak Teladani Ketegasan Pendiri NU

Komunitas ‘Aswaja Garis Lurus’ Ajak Teladani Ketegasan Pendiri NU
Hidayatullah.com–Sejumlah habaib, kiai muda dan aktivis Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), pada Ahad (24/11/2014) lalu mengadakan silaturahim Nasional di Hotel Utami Surabaya untuk menyikapi berbagai kondisi yang dialami umat Islam secara keseluruhan dan umat Aswaja di Indonesia secara khusus.

KH. Luthfi Bashori Alwi, yang memimpin pertemuan nasional tersebut menegaskan bahwa para hadirin yang datang ke Silaturahim Nasional ini memiliki tujuan sama yaitu memperjuangkan Aswaja dari aliran-aliran yang menggerogoti.

Beliau menyebut komunitas ini dengan nama “Aswaja Garis Lurus”, karena perjuangannya untuk meluruskan aliran-aliran di luar Aswaja sekaligus meluruskan intern Aswaja yang bengkok, jelas Kiai Lutfi menerangkan alasan pentingnya pertemuan ini.

“Ada yang mengaku Aswaja tetapi condong kepada aliran sesat yang diimpor. Ini garis bengkok yang harus diluruskan,” tambahnya.
Komunitas yang akan ia bangun jelas Kiai asal Singosari ini pada prisipnya meneruskan estafet perjuangan KH. Hasyim Asy’ari yang ia kenal merupakan figur kiai NU yang tegas terhadap kemungkaran akidah.

“Syiah Zaidiyah yang oleh para sebagian ulama sebelumnya masih ada beda pendapat, tapi oleh Kiai Hasyim Asyari dinilai haram untuk diikuti warga NU,” tambahnya.

Karena itu, Kiai Luthfi mengharapkan komunitas ini tidak ragu-ragu mengikuti ciri khas perjuangan (Alm) Kiai Hasyim Asyari.

“Ternyata, KH. Hasyim Asy’ari adalah kiai yang luar biasa tegas. Saya pernah berkesempatan masuk ruang perpustakaan pribadinya. Dari risalah-risalah yang beliau tulis, saya temukan kita seperti ini tidak ada apa-apanya dengan ketegasan beliau.”

Kata Kiai Luthfi, ketegasan Kiai Hasyim inilah yang harus diteruskan perjuangannya.

Silaturahim “Aswaja Garis Lurus” ini akan merumuskan bentuk-bentuk perjuangan sesauai dengan garis pemikiran pendiri NU.

Silaturahim Nasional yang dihadiri oleh 75 peserta dari berbagai kota di Indonesia selanjutnya membentuk komisi-komisi untuk menangani isu-isu dan permasalahan dihadapi. Seperti komisi liberalisme, Syiah, Wahabi, pendidikan, dan media.*/Kiriman Ahmad KH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *