KISAH TAUBAT BISYR AL-HAFI RA

Hb. Muhammad Vad’aq

Dikisahkan bahwa Bisyr Al-Hafi rahimahullah berada di rumahnya saat ia masih suka bermain-main. Ia bersama teman-temannya, mereka minum, bermain, dan bersenang-senang. Lalu ada orang saleh melintas dan mengetuk pintu. Seorang budak wanita kemudian keluar, lalu orang saleh itu bertanya, ‘ *Pemilik rumah ini orang merdeka ataukah budak?’* Wanita itu menjawab, ‘Orang merdeka.’ Orang saleh itu berkata, ‘ *Kau benar, karena andaikan ia seorang budak, tentu mengenakan adab kehambaan, meninggalkan permainan dan kesenangan.’*

Bisyr mendengar percakapan kedua orang tersebut, lalu ia segera menghampiri pintu tanpa mengenakan alas kaki dan tidak mengenakan penutup kepala, tapi orang saleh tersebut sudah pergi. Ia lantas berkata kepada si wanita, ‘Siapa yang berbicara denganmu di pintu tadi?’ Wanita itu memberitahukan kepadanya apa yang terjadi. Ia bertanya, ‘Ke arah mana orang tadi pergi?’ Wanita itu menunjuk ke suatu arah, lalu Bisyr mengikuti jejaknya hingga berhasil menemukaknnya.

Bisyr berkata, ‘Tuan! Apakah engkau yang tadi berdiri di depan pintu dan berbicara dengan si wanita itu?’ Orang saleh itu menjawab, ‘Ya.’ Bisyr berkata, ‘Tolong ulangi lagi kata-katamu!’ Orang saleh itu mengulangi kata-kata yang ia sampaikan kepada si wanita sebelumnya.

Akhirnya Bisyr menggosok-gosokkan pipinya ke tanah sambil berkata, ‘Bukan, aku ini seorang budak. Bukan, aku ini seorang budak. Bukan, aku ini seorang budak; putra hamba lelaki-Nya, dan putra hamba perempuan-Nya.’ Setelah itu ia berjalan tidak tentu arah tanpa mengenakan alas kaki dan tanpa mengenakan penutup kepala, hingga dikenal sebagai hafi` (lelaki tanpa alas kaki).

*Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Kenapa kau tidak mengenakan alas kaki?’ Ia menjawab, ‘Karena tuanku memperbaiki diriku saat aku tidak mengenakan alas kaki. Maka, aku tidak akan meninggalkan kondisi ini sampai mati’.” (Kisah ini disebutkan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah dalam At-Tawwabin, hal: 210-211)*

“`Hidup bebas tanpa aturan adalah cara salah yang ditempuh orang sombong, lalai atas pengahambaan pada Allah.
Sebebas apapun manusia pada saatnya dia akan menyerah dengan aturan Allah. Taat sekarang akan mendapat kemuliaan dan pasrah ketika tidak berdaya akan menghinakannya di dunia dan akhirat.“`

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *