KERAMAT IMAM HASAN AL-BASHRI

KH. Luthfi Bashori

Beliau wafat di Bashra Iraq pada tahun 110 Hijriyah. Jenazah beliau dishalati dan dimakamkan setelah pelaksanaan salat Jumat. Tepatnya beliau wafat pada hari Kamis menjelang malam. Sedangkan pada hari Rabu malamnya, sebagian auliya (para wali Allah), menyaksikan pintu-pintu langit terbuka, dan terdengar suara memanggil: Ketahuilah, bahwa Hasan Albashri akan menghadap Allah,  dan Allah telah ridla kepadanya. Riwayat ini diberitakan oleh Imam Alhkhani.

Imam Hasan Albashri  terkenal sebagai pemimpin kalangan zuhhad atau para ahli zuhud yang menjauhi kehidupan dunia, kalangan ahli ibadah, kalangan ulama, dan kalangan sastrawan Arab.

Tatkala Imam Hasan Albashri mendengar bahwa Hajjaj bin Yusuf, hulubalangnya Yazid bin Muawiyah membunuh shahabat Said bin Jubair, maka Imam Hasan Albashri berdoa: Wahai Dzat yang dapat melemahkan pelaku kedurjanaan, balaslah Hajjaj! Maka tidak selang tiga hari, terjadilah pembusukan pada badan Hajjaj bin Yusuf dan keluar ulat dari tubuhnya, lantas mati.

Sayyidina Hasan Albashri termasuk kekasih Allah yang mendapat banyak keistimewaan, antara lain Allah melipat bumi untuk beliau, artinya jarak yang jauh menjadi sangat dekat tatkala beliau mendatanginya.

Seringkali para ulama Makkah menemukan beliau shalat di Masjidil Haram, padahal beliau menetap di Bashra Iraq yang jaraknya ribuan kilo meter. Peristiwa semacam itu bukanlah di saat beliau menjalankan ibadah umrah.

Tentu saja, kejadian semacam ini adalah salah satu bentuk keramat Imam Hasan Albashri yang diberkan oleh Allah. Karena beliau adalah salah satu dari para auliya kekasih-kekasih Allah.

Jika para Nabi diberi mu`jizat oleh Allah berupa suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya, contohnya mu`jizat Nabi Musa yang mampu membelah lautan hanya menggunakan sebuah tongkat, dan Nabi Sulaiman dapat memahami serta dapat berbicara dengan semua jenis  binatang, sedangkan Nabi Muhammad SAW diberi kemapunan untuk menjawab ucapan salam dari pepohonan dan bebatuan, maka para wali Allah sebagai pengganti dan pewais para Nabi, juga diberi kelebihan oleh Allah berupa keramat, yaitu kemampuan lebih di luar kebiasaan manusia pada umumnya. Seperti halnya kemampuan lebih yang diberikan oleh Allah kepada Imam Hasan Albashri.

Nabi SAW telah menyiratkan masalah ini dalam sabda beliau SAW yang artinya: Para Ulama dari kalangan ummatku, kedudukannya seperti para Nabi di kalangan Bani Israel.

Mudah-mudahan kita dapat menjadi salah satu dari para ulama yang sekaligus sebagai auliya kekasih-kekasih Allah, atau jika belum mampu, maka semoga kita dapat berkhidmat  kepada para ulama, jika belum mampu, mudah-mudahan kita dapat selalu mengikuti petunjuk para ulama, jika belum mampu maka setidaknya dapat menghormati para ulama, jika belum mampu, maka jangan sampai kita menyakiti para ulama, jika belum mampu, maka sekali-kali janganlah melawan para ulama apalagi sampai memusuhi mereka. Karena para ulama itu adalah pewaris para Nabi.

(kisah disadur dari kitab Jami`u Karamatil Auliya karangan Syaikh Yusuf Annabhani).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *