Keberadaan Syiah di Pandaan Bukan Isu

Keberadaan Syiah di kota Pandaan-Pasuruan, tidak lepas usaha penyebaran Syiah yang dilakukan tokoh Syiah YAPI di Bangil.

Adalah ust Husain al-Habsyi, sebagai tokoh utama Syiah di wilayah Pasuruan, bahkan juga sebagai tokoh Syiah skala Nasional, yang memiliki pesantren YAPI. Pengaruh ke-Syiah-nya ini sangat terasa di sektitar wilayah Bangil semisal Pandaan dan kota Pasuruan sendiri. Banyak tokoh-tokoh Sunni yang termakan propaganda Syiah. Hal ini sangat wajar, sebab sebelumnya, ust Husein al-Habsyi adalah tokoh Sunni yg alim pada saat itu. Sehingga ketika ia “memasarkan” ajaran Syiah (tentunya dengan Aqidah taqiyyah-nya), serta propaganda yang halus, tidak sedikit orang-orang Sunni menjadi “korbannya”.

Di Pandaan, ajaran Syiah sampai hari ini masih ada. Bahkan sekarang mereka membuat instansi pendidikan di wilayah tersebut.

Jadi tidaklah benar jika Syiah di wilayah Pandaan kini telah lenyap, apalagi hanya dianggap sebuah isu. Hal ini ditegaskan oleh Ustadz Kholili Hasib, peneliti dan penulis buku tentang Syiah, sekaligus ketua Cabang Ahlussunnah Wal Jamaah wilayah Pandaan.

Putra Kyai Ahmad Hasib, seorang tokoh Sunni yang getol memerangi Syiah di wilayah Pandaan semasa hidupnya ini menuturkan sebagai berikut:

SYIAH PANDAAN BUKAN SEKEDAR ISU

“Syiah adalah sekte yang sudah sangat lama usianya. Para ulama salaf, khalaf dan modern membahasnya dalam bentuk fatwa, kitab dan risalah-risalah. Artinya, mengkaji dan meneliti syiah sebagai suatu sekte adalah hal biasa dilakukan ulama, sarjana dan lain-lain.

Sampai saat ini, masih ada yang salah paham ketika ada buku atau kitab yang membahas aliran Syiah. Sebetulnya tidak perlu salah paham bila kajian dalam kitab dan buku itu sesuai kenyataan, dalam konteks ilmiyah bisa dipertanggung jawabkan.

Kota Pandaan dan Bangil termasuk wilayah yang di dalamnya ada lembaga Syiah. Bahkan masyhur menjadi tempat kaderisasi dai Syiah.

Tahun Sembilan puluhan, ramai permasalahan Syiah. Dipicu sejumlah pemuda mengkultuskan Khomeini, tokoh revolusi Iran.

Maka, di Pandaan pada masa itu, dibuka pengajian Ahlussunnah mengundang KH. Bashori Alwi, yang khusus bahas ke-Ahlussunnah wal Jama’ahan dan tantangan aktualnya.

Pengajian Kiai sepuh NU Jatim tersebut membawa efek yang positif bagi masyarakat Pandaan. Gejolak mulai meredam, masyarakat jadi tenang, karena merasa tercerahkan oleh pengajian tersebut.

Namun, masih ada pemudah salah paham. Menuduh pengajian tersebut memecah belah. Padahal, jika diamati, sejak ada orang bawa syiah, kota Pandaan menjadi gaduh, antar keluarga pecah. Gara-garanya, pengikut syiah fanatic mengolok-olok ahlussunnah. Di sinilah perang pengajian Ahlussunnah zaman itu yang meredam semuanya. Alhamdulillah didukung pemerintah.

Jika ada hari ini ada orang yang masih menyatakan “jangan bahas syiah di Pandaan karena bisa memecah belah umat”, maka ini omongan orang jahil. Atau orang yang termakan isu-isu yang salah. Semoga dia sadar, kasihan, sebab jka tidak sadar dia akan keliru terus dan salah paham terhadap ulama-ulama sepuh”.

(bersambung)

Oleh: Kholili Hasib, ketua cabang Aswaja Pandaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *