JIWA-JIWA YANG BERPENYAKITAN

KH. Luthfi Bashori

 Banyak orang Indonesia yang sedang sakit, namun tidak banyak dokter yang mampu menyembuhkannya secara tuntas. Baik itu penyakit ringan maupun penyakit kronis, terutama penyakit jiwa dan aqidah yang sedang marak menggerogoti bangsa Indonesia.

Teringat fenomena Ponari. Dalam kasus Ponari, kita tidak akan menyoroti figur sang dukun kecil Ponari, bahkan dari sisi tinjauan agama sekalipun. Namun yang ingin kita cermati, justru kedatangan ribuan manusia berpenyakitan yang menyerbu kediaman Ponari.

Dikatakan bangsa Indonesia ini berpenyakitan, karena yang datang kepada Ponari saat itu hampir dari segala pelosok negeri. Andaikata saja aparat tidak sigap menutup parktek Ponari, tentu para manusia berpenyakitan akan semakin membludak. Alhamdulillah, berkat kesigapan aparat, maka bangsa Indonesia rupanya mulai sadar, bahwa hakikatnya kesaktian Ponari hanyalah berkat bollow-up semu dari media massa, sehingga sedikit demi sedikit mereka tinggalkan fenomena Ponari, dan mereka mulai hidup normal seperti hari-hari sebelumnya.

Kini yang perlu diwaspadai dan dicegah, adalah timbulnya Ponari-Ponari berikutnya yang dapat `menyihir` masyarakat yang sehat menjadi bangsa yang berpenyakitan. Seperti kesalahan sebagian masyarakat yang meyakini tanah kuburan seorang tokoh idola untuk obat penyakit, hingga mereka berebut mengambilnya.

Jika hal ini dibiarkan, apalagi dibollow-up oleh media massa, bisa-bisa penyakit bangsa Indonesia yang sudah berangsur sembuh akan timbul lagi, dan akan berjibun kembali manusia-manusia berpenyakitan yang tampil ke permukaan.

Tapi, bagaimanapun juga bangsa Indonesia ini, memang bisa dikatakan sedang sakit jiwa, karena mereka tidak lagi takut terhadap segala macam ancaman, termasuk ancaman Allah akan pedihnya siksa neraka bagi ahi maksiat.

Bahkan kini bermacam-macam kemaksiatan semakin merejalela saja di negeri yang berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Bangsa Indonesia juga tampaknya sedang diserang penyakit krisis kepercayaan hingga krisis kepemimpinan yang adil dan beradab.

Para pemimpin di negeri ini sudah tidak malu lagi melakukan tindak pidana semacam korupsi dan lainnya.

Bisa juga bangsa ini dikatakan sakit aqidah. Karena sudah banyak orang yang tidak tahu batas-batas mana yang diperbolehkan oleh agama dan mana yang tidak.

Kini upaya pengaburan batasan agama semakin marak, dan upaya pencampuradukan ajaran-ajaran dari agama-agama yang berbeda semakin vulgar.

Seorang muslim ada juga yang dengan senang hati menghadiri ritual agama lain atas nama kemanusiaan, sebut saja menghadiri ritual natalan. Sebaliknya karena hubungan persaudaraan antar manusia tanpa batas agama, mengharuskan ada muslim pluralis yang mati, maka para pelayatnya justru datang juga dari kalangan non muslim, mereka ikut mendoakan si muslim, tentunya dengan bahasa agama mereka masing-masing, yaitu dengan memohon kepada tuhannya masing-masing.

Tentu saja malaikat Mungkar dan Nakir akan semakin marah terhadap si mayyit tatkala mendengar kesyirikan dan kekafiran doa non muslim yang dilantunkan di atas tanah makam si muslim peganut pluralisme itu.

Tatkala Mungkar dan Nakir bertanya kepada mayyit: man rabbuka / siapa Tuhanmu ? Maka silih berganti para pelayat mendikte si mayyit dengan jawaban : Allah Tuahnku…, Yesus Tuhanku…, Sidharta Gautama Tuhanku…, Wisnu Tuhanku…., Shiwa Tuhanku… dst.

La haula walaa quwwata illaa billaah…

Jiwa-jiwa yang berpenyakitan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *