JIKA BERTEMU TUKANG PENCACI, TINGGALKAN SAJA

 KH. Luthfi Bashori

Judul di atas adalah potongan dari kalimat sebuah hadits Nabi SAW, yang arti lengkapnya adalah : Jika engkau bertemu tukang pencaci, maka tinggalkan saja, dan jika engkau bertemu orang yang mulia, maka pergaulilah dengan akrab.

Tukang pencaci yang dimaksud, adakalanya berasal dari kalangan masyarakat awam yang tidak berpendidikan, seperti sebagian penghuni pasar, terminal, jalanan, dan tempat-tempat mangkal serta keramaian lainnya, yang tak jarang terdengar di sana suara umpatan maupun omong kotor dan jorok yang terlontar dari mulut mereka.

Tukang pencaci juga sering muncul dari penganut aliran sesat, seperti penganut Syiah Imamiyah, ajaran resmi negara Iran. Mereka selalu menjadikan para shahabat Nabi SAW dan para ulama Islam sebagai sasaran caci-maki, baik dalam pergaulan sehari-hari di kalangan mereka, maupun dalam diskusi dan tulisan buku-buku pedomannya.

Caci maki yang dilakukan penganut Syiah Imamiyah terkadang berupa kritikan halus, seperti dengan cara mempertanyakan status salah seorang shahabat, misalnya mempertanyakan kredibiltas Shahabat Abu Hurairah seorang perawi utama hadits-hadits Nabi SAW yang dijadikan rujukan pokok bagi umat Islam.

Ada juga caci maki Syiah Imamiyah dengan terang-terangan menyalahkan ke tiga Alkhulafaur rasyidun Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman dengan bebagai tuduhan keji. Bahkan penganut Syiah Imamiyah tidak segan-segan mengkafirkan para shahabat Nabi SAW secara umum.

Tukang pencaci juga dapat lahir dari kalangan berpendidikan karena dipicu hati yang tidak bersih, sehingga timbul rasa iri kepada sesama teman seprofesi yang lebih maju dari pada dirinya. Maka dalam mengungkapkan kedengkian hatinya sering kali keluar kata-kata berkonotasi caci maki.

Caci maki juga sering terjadi dalam konflik rumah tangga dan keluarga. Bahkan tak jarang merambah dunia infotaiment, dunia olah raga, dunia politik, hingga terjadi antar kepala negara.

Untuk menghindari pergaulan dengan para tukang caci, agar tidak ikut terjerumus dalam dunia caci maki mereka, maka perlu kiranya memperhatikan beberapa trik berikut :

Seorang penyair menyarankan dengan gubahan syairnya :

Idzaa nathaqas safiihu falaa tujibhu * fa khairu min ijaabatihis sukuutu

Artinya : Apabila tukang caci telah mengeluaran caci makiannya, maka sebaik-baik jawaban adalah mendiamkannya.

Penyair lain mengatakan :

Idzaa jaaraita fi khuluqin laiiaman * fa anta wan tujaariihi sawaau 

Artinya: Apabila engkau membalas cacian tukang pencaci, maka engkau dan tukang caci itu sama saja tiada beda.

Lebih memperbanyak teman pergaulan dari kalangan ahli ilmu yang berakhlak mulia, yang setiap saat dapat mengingatkan kesalahan dan kekeliruan, baik secara langsung sebagai nasehat antar sesama muslim, maupun lewat majelis-majelis yang diasuhnya, atau karya-karya tulis yang digubahnya.

Imam Ghazali mengatakan : Jika ada seorang tokoh yang menjadi panutan masyarakat, sedangkan orang tersebut berbuat maksiat (baik maksiat fisik maupaun aqidah) di depan publik, dan dikhawatirkan para pengikutnya mencontoh perilaku kemaksiatan tokoh itu, maka bolehlah kita mengungkap perilaku kemaksiatannya itu di depan publik, dengan tujuan agar masyarakat tahu dan tidak ikut terjerumus ke dalam kemaksiatan yang sama dengan perilaku tokoh idolanya tersebut.

Metode dakwah semacam ini, bukanlah termasuk kategori mencaci maki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *