JANGANLAH SALAH PAHAM (Jawaban untuk Ustadz Ja’far Umar Thalib)

 

Oleh : Faris Khoirul Anam, Lc., M.H.I.
(Aswaja NU Center Jatim, Wakil Katib Syuriah PCNU Kota Malang)

Ada dua poin utama yang disampaikan oleh Ustadz Ja’far Umar Thalib, ustadz asal Malang pendiri Lasykar Jihad dulu, yang konon selama beberapa bulan pernah mengenyam pendidikan di Darul Hadits Yaman. Apabila diperhatikan, pernyataannya itu sama dengan yang dilontarkan oleh ustadz-ustadz sejenis, yakni lebih banyak karena salah paham sehingga menghasilkan paham salah.

Runyamnya, produk “gagal paham” itu tentang akidah Asy’ariah – Maturidiyah yang menjadi keyakinan mayoritas umat Islam sepanjang zaman ini.

Berikut dua poin utama pernyataannya sekaligus jawaban kami – nas-alullahat taufiq wal-qabul.

PERTAMA, MENURUT ASY’ARIYAH – MATURIDIYAH SIFAT ALLAH HANYA DUA PULUH

Secara lantang JUT menyebut bahwa Asya’irah – Maturidiyah mengatakan sifat Allah hanya dua puluh. Selain sifat dua puluh tidak ada.

Inilah kesalahpahaman pertama JUT dan kelompoknya. Asya’irah yang mengajarkan sifat 20 bukan berarti hanya membatasi sifat Allah pada jumlah itu. Sifat 20 adalah sifat-sifat utama, yang sifat-sifat lain pasti akan berhubungan dengannya. Sifat 20 secara jelas memiliki dalil naqli dan ‘aqli. Sementara Asya’irah memiliki adab untuk membahas sifat Allah yang memiliki dalil naqli tersebut, lalu diberi penjelasan secara ‘aqli.

Al-Hudhudi dalam Syarh al-Sanusiyah al-Shughra (Ummul Barahin) – karya Imam Muhammad bin Yusuf al-Sanusi (w. 895), salah satu kitab penting tentang akidah Asy’ariyah – menjelaskan:

(فممّا يجب لمولانا جل وعز عشرون صفة) من بمعنى بعض فهي للتبعيض أي من بعض ما يجب، لأن صفات مولانا جل وعز الواجبة له لا تنحصر في هذه العشرين، إذ كمالاته لا نهاية لها، ولم يكلفنا الله إلا بمعرفة ما نصب لنا عليه دليلاً وهي هذه العشرون.

“Maka di antara sifat yang wajib untuk Allah Jalla wa ‘Azza ada dua puluh sifat. Kata ‘min’ di sini bermakna ‘sebagian’. Artinya dari sebagian sifat yang wajib bagi-Nya, karena sifat Allah Jalla wa ‘Azza yang wajib bagi-Nya tidak terbatas pada dua puluh ini. Kesempurnaan Allah tidak ada batasnya, sedangkan Allah tidak membebani kita kecuali hanya mengetahui yang telah Dia jelaskan dalilnya, yaitu 20 sifat ini.” (al-‘Allamah al-Hudhudi, Syarh al-Hudhudi ‘Ala Ummi al-Barahin – al-‘Aqidah al-Sanusiyah al-Shughra, hal 47).

Keberadaan sifat 20 sebagai sifat utama tanpa menafikan sifat lain dijelaskan pula oleh Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi. Ulama bergelar Syahid al-Mihrab ini menjelaskan:

يجب أن تعلم في كلمة جامعة مجملة أن الله عز وجل متصف بكل صفات الكمال ومنزه عن جميع صفات النقصان إذ إن ألوهيته تستلزم اتصافه بالكمال المطلق لزوماً بيناً بالمعنى الأخص. ثم إن علينا بعد ذلك أن نقف على تفصيل أهم هذه الصفات، ونبين معناها وما تستلزمه من أمور ومعتقدات. وقد وصف الله تعالى نفسه في كتابه الكريم بصفات كثيرة مختلفة إلا أن جزئيات هذه الصفات كلها تلتقي ضمن عشرين صفة رئيسية ثبتت بدلالة الكتاب وبالبراهين القاطعة.

“Wajib kau ketahui mengenai kalimat inklusif secara global bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memiliki sifat-sifat sempurna dan bersih dari sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan. Allah sebagai Tuhan pasti bersifat sempurna secara mutlak – absolut jelas dengan makna yang paling khusus. Kemudian setelah itu kita wajib memahami rincian sifat-sifat ini yang paling penting. Kita jelaskan maknanya serta dampaknya pada berbagai hal dan keyakinan. Allah Ta’ala telah memberikan sifat untuk-Nya dalam al-Qur’an dengan sifat-sifat yang banyak. Namun satuan-satuan sifat-sifat itu semuanya terkumpul di bawah 20 sifat utama yang telah terbukti melalui senarai dalil al-Qur’an dan bukti-bukti konklusif.” (al-Buthi, Kubra al-Yaqiniyat, hal 108).

Dalil naqli dari al-Qur’an dan hadits oleh Asya’irah dilengkapi penjelasannya dengan dalil ‘aqli, di mana dalil ‘aqli ini ibarat mata yang mampu menangkap pemahaman berbagai hal. Al-Qurthubi menjelaskan:

فَمِثَالُ الشَّرْعِ الشَّمْسُ، وَمِثَالُ الْعَقْلِ الْعَيْنُ، فَإِذَا فُتِحَتْ وَكَانَتْ سَلِيمَةً رَأَتِ الشَّمْسَ وَأَدْرَكَتْ تَفَاصِيلَ الْأَشْيَاءِ .

“Permisalan syariat adalah matahari dan permisalan akal adalah mata. Jika mata itu membuka dan memang normal, ia akan mampu melihat matahari dan memahami penjelasan-penjelasan rinci tentang berbagai hal.” (al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Vol 10, 294)

Bukti bahwa sifat 20 tidak bersifat membatasi adalah hubungan kuatnya dengan Asmaul Husna dan al-Baqiyat al-Shalihah. Nyatanya, tak ada satupun ulama dan pengikut Asya’irah yang mengingkari Asmaul Husna dan al-Baqiyat al-Shalihah itu. Bahkan dapat disimpulkan bahwa akidah Asy’ari ini mencakup seluruh makna yang dikandung Asmaul Husna dan al-Baqiyat al-Shalihat, yaitu kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.

Kalimat Subhanallah (Maha Suci Allah) mencakup makna mensucikan (tanzih) dan menghilangkan segala bentuk kekurangan dan catat dari Dzat dan Sifat Allah, seperti nama “al-Quddus” (Yang Maha Suci). Dengan kalimat ini kita wajib menafikan semua kekurangan yang terlintas dalam benak dan pikiran kita.

Kalimat Alhamdulillah (Segala Puji Bagi Allah) mencakup penetapan (itsbat) segala bentuk kesempurnaan untuk Dzat dan Sifat Allah, seperti nama-nama “Al-‘Alim” (Yang Maha Mengetahui), “al-Qadir” (Yang Maha Berkehendak), “al-Sami’” (Yang Maha Mendengar), “al-Bashir” (Yang Maha Melihat). Dengan kalimat ini kita wajib menetapkan seluruh sifat kesempurnaan yang kita ketahui.

Kalimat Allahu Akbar (Allah Maha Besar) mencakup semua nama yang mengandung makna pujian di atas apapun yang kita ketahui dan di atas apapun yang kita pahami, seperti nama “al-A’la”, “al-Muta’ali” (Yang Maha Tinggi). Artinya, Allah lebih Agung dari apa yang kita nafikan dan kita tetapkan.

Kalimat La Ilaaha Illallah (Tiada Tuhan Selain Allah) mengandung arti bahwa Uluhiyah kembali kepada makna berhaknya Allah untuk disembah. Sedangkan sesuatu berhak disembah pasti karena Dia memiliki seluruh sifat yang telah kita sebutkan, yang keseluruhannya mengandung kesempurnaan, seperti sifat “al-Wahid” (Yang Maha Tunggal), “al-Ahad” (Yang Maha Esa), “Dzul Jalali Wal-Ikram”(Yang Maha Pemiliki Kebesaran dan Kemuliaan). Dengan ini kita nafikan dalam wujud ini sesuatu yang menandingi dan menyamai-Nya.

Rumus-rumus pemahaman semacam ini kita dapatkan dalam kitab-kitab Asya’irah, terutama saat membahas rincian sifat 20. Maka sangat naif bila dikatakan Asya’irah hanya membatasi sifat-sifat pada jumlah itu, atau misalnya seperti yang dikatakan JUT bahwa Asy’ariyah – Maturidiyah menafikan sifat ‘Uluw karena tidak ada dalam sifat 20. Kitab-kitab Asy’ariyah – Maturidiyah menjadi saksi atas penjelasan ini.

KEDUA, ASYA’IRAH – MATURIDIYAH MENGINGKARI SIFAT-SIFAT ALLAH

Ustadz Ja’far Umar bin Thalib menuduh Asy’ariyah – Maturidiyah menafikan sifat-sifat Allah. Ini rupanya sudah menjadi amunisi andalan dia dan kelompoknya untuk memfitnah Asy’ariyah – Maturidiyah.

Asya’irah itu melakukan takwil, bukan ta’thil atau menafikan sifat-sifat Allah. Sudah maklum bahwa sekian sahabat, tabi’in, para ulama salaf juga melakukan takwil – beberapa contohnya telah kami sebutkan dalam jawaban kami terhadap ceramah Ustadz Firanda Andirja yang juga mengatakan Akidah Asya’irah sesat. Tuduhan bahwa Asya’irah melakukan ta’thil karena melakukan takwil adalah hasil produk salah fikir dan gagal paham.

Pertama, seandainya takwil disamakan dengan ta’thil, maka tuduhan sebagai mu’aththilah atau peniada sifat-sifat Allah juga akan menyasar para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama kesohor umat ini.

Kedua, takwil adalah sesuatu yang berbeda dengan ta’thil. Mengenai hal ini, Hamad al-Sinan dan Fauzi al-Anjari dalam Ahlussunnah al-‘Asya’irah Syahadatu ‘Ulama al-Ummah wa Adillatuhum menegaskan:

إِنَّ التَّعْطِيْلَ كَمَا هُوَ وَاضِحٌ مِنْ تَعْرِيْفِهِ نَفْيُ صِفَاتِ البَارِي سُبْحَانَهُ، وَالأَشَاعِرَةُ لَمْ يَنْفُوْا صِفَةً لله تَعَالَى ثَبَتَتْ بِطَرِيْقٍ صَحِيْحٍ، وَمُؤَلَّفَاتُهُمْ تَشْهَدُ بِهَذَا، غَايَةُ مَا فَعَلُوْهُ أَنَّهُمْ حَمَلُوْا هَذِهِ النُّصُوْصَ الَّتِي تَقْتَضِي ظَوَاهِرُهَا وَحَقَائِقُهَا تَشْبِيْهُ اللهِ تَعَالَى بِخَلْقِهِ عَلَى وَجْهٍ تَعْرِفُهُ العَرَبُ لاَ يُنَافِي تَنْزِيْهَ اللهِ تَعَالَى، وَفَرْقٌ كَبِيْرٌ بَيْنَ نَفْيِ مَا أَثْبَتَهُ اللهُ تَعَالَى كَمَا فَعَلَ الجَهْمِيَّة، وَبَيْنَ إِثْبَاتِهِ ثُمَّ حَمْلِهِ عَلَى مَعْنًى لاَئِقٍ بِاللهِ تَعَالَى مَشْهُوْرٍ فِي اللِّسَانِ العَرَبِي بَعْدَ أَنِ اسْتَحَالَ الظَّاهِرُ.

“Sesungguhnya ta’thil, sebagaiman sudah jelas dari pengertiannya, adalah menafikan sifat-sifat Al-Bari Subhanah. Sedangkan Asya’irah tidak menafikan satu pun sifat Allah yang telah ditetapkan melalui jalur shahih. Karya-karya ulama Asya’irah menjadi saksinya. Tujuan dari apa yang mereka lakukan adalah membawa teks-teks yang zhahirnya meniscayakan penyerupaan Allah dengan makhluk (tasybih), menuju suatu sisi yang dikenal oleh bangsa Arab sebagai hal yang tidak menafikan kesucian Allah Ta’ala (tanzih). Adalah beda besar antara menafikan hal yang sudah ditetapkan Allah Ta’ala sebagaimana dilakukan oleh Jahmiyah dengan menetapkannya, lalu membawanya pada suatu makna yang sesuai dengan Allah Ta’ala, yang masyhur dalam Lisan Arab, setelah kemustahilan diartikan secara zhahir.” (Hamad al-Sinan dan Fauzi al-Anjari, Ahlussunnah al-‘Asya’irah Syahadatu ‘Ulama al-Ummah wa Adillatuhum, hal 103)

Ustadz Ja’far Umar bin Thalib lalu menyebut sederat nama ulama yang dia sebut sebagai “da’i-da’i yang mendakwahkan bid’ah Asy’ariyah”, karena mereka berkeyakinan Asy’ari.

Analoginya, ratusan ulama sejak berabad-abad lalu yang berpaham Asy’ariyah juga akan divonisnya sesat, seperti Al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani, Imam al-Haramain al-Juwaini, Hujjatul Islam al-Ghazali, Abu al-Fath al-Syahrastani, Fakhruddin al-Razi, Sulthanul ‘Ulama Izzuddin bin Abdissalam, Taqiyyuddin al-Subki. Bila ditarik ke masa-masa berikutnya tuduhan sesat itu akan menyasar pula ulama-ulama kesohor seperi Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syaikh Nawawi al-Bantani, Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, dan lainnya.

Ratusan atau bahkan mungkin ribuan ulama yang telah berjasa pada umat, keilmuan, dan peradaban Islam itu sesat?

Silakan disimpulkan sendiri.

Wallahul-Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *