ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN ADALAH ISLAM YANG TAAT SYARIAT

Hb. Muhammad Vad’aq

Kata “Islam” sudah cukup menunjukkan bahwa agama ini benar dan diturunkan dari Allah.
Islam artinya menyerahkan seluruh fenomena, gerakan, dan urusan kepada Allah.
Mari kita sama-sama membayangkan makna ungkapan menawan ayat Al-Qur`an berikut;
“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).” (QS. Al-An’am: 162-163)

Gambaran Islam dalam ayat ini sangat menawan.
Berserah diri kepada Allah maksudnya masuk ke dalam lingkup ilahi dan menjauhi hawa nafsu serta setan. Islam adalah berserah diri kepada Allah. Pasrah, taat, tidak ada ganjalan di hati akan ketentuan-Nya. Tentu saja berbeda antara Islam dan penyimpangan dari lingkup ilahi melalui komunisme atau liberal.

Muslim yang baik meyakini rezeki dan ajal sudah ditentukan, namun demikian kita dilarang bermalas-malas untuk ikhtiyar. Menyalahkan kemalasan kepada ajaran agama Islam adalah tindakan orang tidak adil mengungkap kebenaran.

Gambaran ideal dalam hal ini adalah gambaran yang nampak pada sosok Sayyidina Muhammad saw., dalam perjuangannya yang tidak kenal lelah dan jihadnya yang tidak pernah berhenti. Beliau adalah gambaran yang wajib ditiru oleh siapapun yang meneladani beliau.

Satu risalah yang dibawa beliau adalah menebar rahmat,
Risalah Islam ini digambarkan oleh ayat; “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya`: 107)

Rahmat bagi umat manusia adalah mengeluarkan manusia dari lingkaran setan menuju lingkaran Allah, mengeluarkan mereka dari peperangan dan pertikaian demi materi, menuju keluhuran cakrawala persaudaraan dan rahmat yang merata. Membiarkan manusia mempercayai dewa dan dewi, patung, kelenik, LGBT, mengumbar aurat bukan lah bentuk rahmat.

Risalah rahmat ini telah ditentukan Islam melalui aturan dan prinsip-prinsipnya, dan yang dibebankan kepada kita. Kita adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk risalah itu. Maka jika kita tidak menunaikan risalah ini untuk menghadapi peradaban modern, berarti kita bukan muslim yang baik.

Atau paling tidak kita tidak termasuk di antara mereka yang meneladani pemilik risalah Islam Habibina Muhammad SAW. Jika sudah demikian, kita tidak akan memiliki kebanggaan sebagai pembawa risalah rahmat yang dihadiahkan untuk umat manusia.

Dinukil dari beberapa sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *