IDENTIFIKASI HADIST KEUTAMAAN BULAN RAJAB

Diterjemahkan oleh : Abbas Rahbini Mawardi

PERSOALAN

1. Terdapat sebuah Hadist menyebutkan, dari sayyidina Anas Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :_

_Sesungguhnya di surga terdapat sebuah sungai, disebut sebagai Sungai Rajab, airnya lebih putih daripada susu, dan lebih manis daripada madu, barangsiapa yang berpuasa satu hari di bulan rajab niscaya Allah minumkan dia dari air sungai tersebut.

2. Juga Hadist dari Anas Radhihallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alihi wa sallam bersabda :

Barangsiapa berpuasa di bulan haram, pada hari kamis, jumat, dan sabtu, niscaya Allah tulis baginya Ibadah 700 tahun.

3. Hadist Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

Barangsiapa berpuasa satu hari dibulan Rajab maka dia seperti berpuasa satu bulan, dan barangsiapa berpuasa tujuh hari dibulan rajab, maka Allah tutup darinya tujuh pintu neraka jahannam. Dan barangsiapa berpuasa delapan hari dibulan rajab niscaya dibuka untuknya delapan pintu-pintu surga, dan barangsiapa berpuasa sepuluh hari dibulan rajab, maka Allah ganti dosa-dosanya dengan kebaikan.

Apakah Hadist-hadist tersebut Hadist Palsu?? Dan apa perbedaan Hadist dhaif dan Hadist Gharib??

JAWAB :

Hadist -hadist tersebut bukan Hadist palsu melainkan bagian dari Hadist dhaif yang boleh diriwwyatkan untuk keutamaan amal.

1. Hadist pertama dikeluarkan oleh Abu As-syeikh ibn Hayyan dalam kitab Puasa, dan Asbihani, dan ibn shahin, keduanya dalam kitab At-targib, juga imam Al-baihaqi dan yang lain nya.

Berkata Al-hafidz ibn hajar, dalam sanadnya tidak ada orang yang perlu dipertimbangkan keadaan nya kecuali Mansur bin Za’idah Al-asdi, segolongan Ulama’ telah meriwayatkan hadist darinya, tapi saya tidak melihat sifat adil darinya. Ad-dzahabi telah menyebutkan didalam kitab Al-mizan dan mendha’ifkan hadist ini.

2. Hadist kedua dikeluarkan oleh Imam At-thabrani, dan abu nu’aim dan lain nya, sebagian Jalurnya menyebutkan lafadz Ibadah dua tahun.

Berkata Ibnu Hajar, hadist ini lebih menyerupai dan takhrij nya lebih bagus, dan sanad hadist nya lebih semisal dengan Hadist Dhaif mendekati Hasan

3. Hadist ketiga dikeluarkan oleh Al-baihaqi, dalam Fadha’ilul Awqat, dan lain nya, juga mempunyai jalur lain, serta penguat yang dhaif, status Hadist naik dari status hadist palsu. “`

Adapun perbedaan antara Hadist Dhaif dan Hadist Gharib, antara keduanya terdapat Umum dan khusus dari satu sisi, terkadang menjadi Hadist Gharib dan bukan hadist dhaif disebabkan oleh sanad yang sahih, atau sanadnya hasan.

Terkadang juga menjadi Hadist Dhaif bukan hadist gharib, disebabkan oleh berbilang-bilangnya sanad, serta tidak memenuhi syarat untuk mencapai kepada syarat yang qabul (diterima),sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Ilmu Hadist.

[Al-hawi lil Fatawa imam shuyuthi 1/339]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *