Hutang Mahar Dibayar Mengajar Ilmu

 

Cinta Kasih dalam bahtera rumah tangga Abdullah dan Ummu Ikrimah semakin padu, meski hidup dalam keterbatasan. Sekian lama Abdullah sebenarnya gelisah. Ia belum mampu membahagian istrinya secara materi. “Aku bukan mencari Dirham, tapi aku bahagia engkau mampu menjadi Imam. Bahtera kita adalah ladang subur, yang bisa kita tuai bersama-sama di akhirat” hibur Ummu saat Abdullah mengungkapkan kegelisahannya.

Ummu Ikrimah mengikhlaskan semua keterbatasan material. Bahkan mahar pernikahannya belum terbayar. Ia pun tidak pernah menanyakan hutang mahar suaminya itu. Ia tidak kecewa dengan kemiskinan suaminya. Sebab ia yakin Allah pasti akan memberi jalan dalam cobaan ini suatu saat nanti.

Janji Allah ia mantapkan dalam qalbunya, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Bahkan ia bangga, karena Abdullah sabar dan telaten membimbingnya menjadi shalihah. Satu-satunya harta yang ia kagumi dari Abdullah adalah, ilmu.

Akhirnya, kegelisahan Abdullah memuncak, ia merasa berdosa jika hutang mahar tidak segera dibayar. Ia mendiskusikan dengan istri. Sang istri penyabar itu tetap pada sikap semula, tidak terlalu memikirkannya. Suatu hari ia menghadap dengan Syekh Abdul Qadir al-Jilani, meminta solusi.

Ummu Ikrimah menceritakan semuanya. Ia menawarkan kepada Syekh al-Jilani agar suaminya mengajar untuk beberapa bulan di Madrasah al-Qadiriyah milik Abdul Qadir al-Jilani. Ia merelakan itu sebagai pembayaran mahar suaminya kepada Ummu. Sang Syekh mengiyakan solusi Ummu yang cerdas dan penuh ridla itu.

Mahar, adalah hak istri yang diberikan suami sebagai pernyataan kasih sayang dan tanggung jawab. Dalam Islam, besar mahar tidak ditentukan, tergantung kedua pihak dan urf di masyarakat. Akan tetapi, pihak wanita boleh menentukan.

Meski begitu, Rasulullah SAW menganjurkan agar tidak berlebihan dalam memberi mahar. “Sebaik-baik wanita adalah yang ringan maharnya” sabda Rasulullah SAW (HR. Ahmad dan Hakim). Dalam Islam, sebuah pernikahan memang dipermudah. Karena ia adalah ibadah sunnah Rasul SAW. Jika ada satu jalan mudah kenapa mencari sulit, demikian kira-kira prinsipnya. Akan tetapi Islam tidak mengajarkan meremehkan nikah dan wanita. Keduanya adalah agung.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menikahkan seorang shahabat dengan perempuan yang menyerahkan dirinya kepada beliau, ia bersabda.

“Artinya:“Carilah sekalipun cincin yang terbuat dari besi”. [Riwayat Bukhari]

Ketika shahabat itu tidak menemukannya, maka Rasulullah menikahkannya dengan mahar “mengajarkan beberapa surat Al-Qur’an kepada calon istri”.

Dalam bahtera suci dibutuhkan keikhlasan. Cobaan terbesar justru saat jalinan suci telah terikat. Duapuluh empat jam dua insan berbeda hidup bersama, sisi-sisi kelemahan yang tak terungkap akan diketahui saat itu. Menerima apa adanya, inilah prinsip ikhlas itu.

Ikhlas dan takwa akan membuka jalan setiap kerumitan yang menghimpit. Ummu Ikrimah dan Abdullah dalam kisah di atas akhirnya mendapatkan ‘pelita’ kehidupan. Tidak saja pahala luar biasa beramal ilmu akan tetapi, materi pun ia dapatkan. Sebab Syekh al-Jilani akhirnya menjamin kehidupan keluarganya, dan Abdullah ditetapkan sebagai Guru Madrasah al-Qadiriyah dengan bayaran lumayan.

Janji Allah telah tertetapi, Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang memperbanyak beristighfar, maka Allah pasti akan selalu memberikannya jalan keluar dari setiap kesempitan dan kelapangan dari segala kegundahan serta Allah akan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka-sangka.”

Satu buah amal ikhlas saja akan berbuah surga. Itulah mengapa ikhlas itu tidak mudah, kesulitan itu perlu dipecahkan dengan ilmu. Berilmu tapi tidak ikhlas, sebenarnya keilmuannya memiliki problem konseptual.

Dalam sebuah hadis dikisahkan tentang balasan ikhlas, meski amal itu terbilang remeh sederhana. Diceritakan bahwa ada zaman dahulu ada seseorang yang telah membunuh 99 bahkan 100 orang. Kemudian orang tersebut hendak bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi akhirnya orang tersebut meninggal sebelum beramal kebajikan sedikitpun. Namun Allah subhanahu wata’ala terima taubatnya karena keikhlasan dia untuk benar-benar bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala, dan dia pun tergolong orang yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah (Riyadhush Shalihin hadits no. 20).

Allah berfirman: “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *