GERAKAN HADASSAH OF INDONESIA. Waspadai…!!!

1. Hadassah merupakan organisasi internasional wanita Yahudi yang bersifat tertutup, pertama berdiri tahun 1928 dan mulai berkembang paska Perang Dunia I. Hadassah of Indonesia didirikan oleh Monique Rijkers (WNI) mantan jurnalis Internasional (CNN) dan dijalankan bersama dengan suaminya Gerard Rijkers (WNA, background belum diketahui). Kegiatan Hadassah Indonesia selama ini bersifat kegiatan sosial dan pendidikan dengan tema-tema utama seperti toleransi dan liberalisasi agama, yang djalankan secara tertutup dengan menggunakan komunitas dan organisasi-organisasi lokal sebagai penyelenggara. Salah satu kegiatan rutin Hadassah Indonesia yang terkenal adalah Tolerance Film Festival.
2. Paska pengakuan AS terhadap Jerussalem sebagai Ibukota Israel, Monique Rijkers muncul ke publik dengan membawa nama Hadassah of Indonesia dan melakukan penggalangan opini serta propaganda, khususnya di kalangan umat Kristen (Orthodox, Protestan, Katolik) dan beberapa kelompok Islam liberal yang selama ini memiliki kontak via orang ketiga dengan Hadassah Indonesia.
3. Dimulai dengan pemuatan konten-konten berita yang mengangkat opini tentang dukungan terhadap kebijakan Trump mengakui Jerussalem sebagai Ibukota Israel melalui media CNN, Monique Rijkers memainkan penggalangan opini dengan menggunakan identitas kristen, dibantu oleh seorang Rabbi Yahudi di Indonesia, Rabbi Ben. Salah satu link beritanya: http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42251271
4. Selain melakukan penggalangan melalui media, Hadassah Indonesia mensponsori beberapa kegiatan diskusi diantaranya:
5. Pada hari Selasa tanggal 19 Desember 2017 bertempat di Gedung GKJ Bandung Jl. Merdeka No. 28 Bandung, dari pukul 15.00-19.00, Hadassah Indonesia mensponsori kegiatan diskusi dengan tema “Tanah Yang Dijanjikan”. Pelaksana kegiatan adalah Jaringan Kerukunan Antar Umat Beragama (Jakatarub) Bandung. Menjadi Pembicara dalam diskusi tersebut adalah sebagai berikut:
6. Monique Rijkers (Founder Hadassah of Indonesia);
7. Risdo Simangunsong (Kristen Ortodhox);
8. Ekky Sabandi (Ketua Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI).
9. Kesimpulan dalam diskusi:
10. Dalam perspektif kristologi dan Jerussalem dan wilayah yang saat ini didiami oleh Palestina merupakan hak bangsa Israel, dengan demikian pengakuan terhadap Jerussalem sebagai ibukota Israel adalah hal yang wajar dan tepat. Tindakan ini merupakan penggenapan janji Tuhan atas Bani Israel;
11. Konflik Israel-Palestina adalah konflik agama, oleh karena itu posisi umat Kristiani harus jelas, karena lawan yang dihadapi pun jelas;
12. Keputusan Pemerintah Indonesia yang mengecam kebijakan AS terkait Jerussalem adalah tidak tepat.
13.
14. Pada hari Kamis tanggal 21 Desember 2017 bertempat di Kafe Libry-Toko Buku BPK Gunung Mulia, Jl. Kwitang Raya No. 22-23, Jakarta Pusat diselenggarakan diskusi dengan tema “Pro-Kontra Yerussalam dalam Berbagai Perspektif”. Kegiatan diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Kristen Indonesia (Pewarna) berkerjasama dengan Yakoma PGI. Kegiatan ini disponsori oleh Hadassah Indonesia melalui pihak ketiga. Menjadi pembicara dalam diskusi tersebut adalah:
1) Prof. Marthen Napang (Ahli Hukum Internasional Univ. Hasanudin Makassar)
2) Monique Rijkers (Founder Hadassah Indonesia)
3) Pdt. Gomar Gultom (Sekum PGI)
4) Pdt. Benjamin Obadiyah (Gereja Kehilat Mesianik Indonesia)
5) Pdt. Dr. Audy Wuisan (Persatuan Intelejensia Kristen Indonesia)
Kesimpulan dalam diskusi:
1) Bahwa di masa pemerintahan Orde baru, Suharto mengakui Jerussalem sebagai ibukota Israel;
2) Semua dalil dalam Alkitab sudah jelas, bahwa Israel berkuasa atas tanah Kanaan (wilayah Israel-Palestina hari ini) merupakan ketetapan Tuhan, maka ketika umat kristiani pun harus mengimani hal ini, dan mendukung segala proses yang menuju ke arah sana;
3) Pro-kontra Yerussalem di kalangan umat Kristen seharusnya sudah tidak ada, jikapun ada pro-kontra harusnya antara umat Kristen dan Islam, karena Islam memiliki pandangan yang berbeda terkait eksistensi Bani Israil.
4) Umat Kristen harus bersatu dalam iman ketika menyikapi permasalah Yerussalem, karena sesungguhnya upaya berikutnya adalah melakukan propaganda terhadap kelompok Islam.

a. Dalam setiap kemunculan dan propagandanya, Monique Rijkers selalu mengaku dirinya beragama Kristen, faktanya Monique Rijkers adalah seorang Yahudi.
b. Terindikasi kuat Monique Rijkers merupakan salah satu jaring Mossad yang sedang melakukan operasi di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari pola gerakan Hadassah Internasional yang sejak awal berdirinya Negara Israel, dijadikan sebagai salah satu organ taktis Mossad. Indikasi ini juga terlihat dari hubungan Monique Rijkers dengan Masshav Israel.
c. Pada tanggal 22 Desember 2017 Monique Rijkers melakukan komunikasi dengan jaring membahas diskusi yang baru saja diselenggarakan oleh Pewarna di Jakarta. Dalam komunikasi tersebut muncul gagasan untuk menyelenggarakan diskusi serupa di Bandung dalam waktu dekat dengan melibatkan lebih banyak keomponen Islam.
d. Untuk menindaklanjuti gagasan tersebut, Monique Rijkers meminta jaring untuk menghubungi seseorang bernama Nick Irwan (belum ditindaklanjuti oleh jaring).
e. Ke depan perlu dilakukan operasi kontra terhadap Hadassah Indonesia karena pola gerakannya hari ini semakin agresif dan berpotensi menimbulkan konflik, baik veritical maupun horizontal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *