Empat Kafir Quraisy Bapak Pluralisme Agama

MUI mendefinisikan Pluralisme Agama sebagai suatu faham yang mengajarkan semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, sedangkan agama lain salah.

Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.
Sepertinya, ide Pluralisme Agama bukanlah hal yang baru muncul di jaman now (sekarang).

Bibit Pluralisme Agama sudah pernah diusung dan ditawarkan oleh empat pentolan kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW. Namun ide itu ditolak dengan tegas oleh Rasulullah SAW.

Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Al-Anbari dalam kitab Al-Mashahif meriwayatkan dari Said bin Maina’ (budak Abil bukhturi) bahwa Walid bin Mughirah, Al-Ashi bin Wail, Aswad bin Muttalib dan Umayyah bin Kholaf datang menemui Nabi. Mereka berkata:

Wahai Muhammad, marilah kamu menyembah apa yang kami sembah. Dan Kami menyembah apa yang kamu sembah. Kita bergabung, kami dan kamu, dalam urusan kita bersama. Apabila yang ada pada kami lebih benar dari apa yang ada padamu maka kamu ikut ambil bagian dari hal itu. Dan apabila apa yang ada padamu lebih benar dari apa yang ada pada kami maka kami ikut ambil bagian dari hal itu.

Menjawab tawaran orang kafir quraisy itu, maka Allah menurunkan Al-qur’an surat Alkafirun. (Assuyuthi, Tafsir Addurrul Mantsur 8/655)
Mencermati tawaran empat kafir Quraisy di atas akan kita temui ide pluralisme agama di sana. Mereka menganggap sama dan tidak mempersoalkan saling melakukan ritual peribadatan antara pemeluk Islam dan ‘agama’ musyrik mereka. Pada kata kata mereka ‘Lebih Benar’ juga menunjukkan bahwa mereka menganggap kedua keyakinan itu benar atau setidaknya tidak mengklaim hanya dirinya yang benar.

Ide pluralisme agama ini sejak dini ditolak oleh Nabi. Allah menyuruh Nabi berkata kepada mereka, Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah diulangi dua kali. Artinya, aku sekarang dan di zaman yang akan datang tidak akan pernah menyembah apa yang kalian sembah. (tafsir Almunir 30/442).

Namun sayangnya, ada orang muslim yang justru memperjuangkan Pluralisme Agama, bahkan sampai didaulat sebagai ‘Bapak Pluralisme’. Wallahu A’lam. (*dyt)

https://free.facebook.com/story.php?story_fbid=202614740294617&id=100016382761167&refid=17&_ft_=top_level_post_id.202614740294617%3Atl_objid.202614740294617%3Athrowback_story_fbid.202614740294617%3Athid.100016382761167%3A306061129499414%3A2%3A0%3A1517471999%3A4464606103610919415&__tn__=%2As-R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *