Dr Ugi Suharto; “Jangan Reduksi Islam, Belajarlah pada Guru, Bukan Internet”

Kritik ilmiah tentang penyempitan ajaran Islam hanya berkutat pada hadist shohih saja datang dari Dr. Ugi Suharto. Dr kelahiran Jakarta 22 February 1966 ini mengatakan bahwa Islam kini direduksi hanya pada persoalan fiqih yang kemudian menjadi hanya sunnah, dan Sunnah hanya menjadi hadits shohih saja. Ini kemudian akan melahirkan ajaran bid’ah dan takfir.

Doktor yang mengajar di University College of Bahrain ini menegaskan:

“Ada yang mereduksi Islam menjadi fiqih, kemudian fiqihdireduksi menjadi sunnah, sunnah direduksi menjadi haditsdan hadits direduksi pula menjadi hadits shahih,” ujar Ugi.

Sebenarnya, Islam bukan hanya mencakup aspek fiqih, melainkan juga kalam dantashawwuf. “Banyak hal yang tidak dibahas dalam fiqih. Hal-hal seperti konsep sabar,tawadhu’, tawakkal dan semacamnya, apakah bisa dimasukkan dalam ranah fiqih?” ungkap Ugi. Masalah-masalah seputar keimanan menjadi domain ilmu kalam, sedangkanihsanmenjadi bahasan dalam tashawwuf. “Susahnya, banyak yang malah dengan mudahnya mengharamkan kedua ilmu ini, semata-mata karena kesalahpahaman semata,” kata beliau.

Karena Islam direduksi menjadi fiqih, maka yang kemudian dijadikan bahan perdebatan hanya masalah-masalah fiqih saja. Lebih parahnya lagi, yang diperdebatkan justru masalah-masalah fiqihyang sebenarnya sudah selesai dibahas oleh para imam madzhab yang empat. Hal ini kemudian menciptakan masalah-masalah baru.

“Masalah baru muncul ketika seseorang mereduksi fiqihmenjadi sunnah, padahalsunnah adalah salah satu bahan pertimbangan yang digunakan oleh parafuqaha’untuk menjelaskan fiqih. Sunnah itu sendiri tidak sama dengan hadits, sebab sesuatu itu disebut sunnah setelah dilakukan penilaian fiqih terhadapnya. Kemudian ketika berbicara hadits, seolah-olah hanya haditsshahih-lah yang bisa digunakan. Padahal, sejak dahulu ulama haditstak ada yang menolak hadits-hadits dha’if. Hadits dha’ifmemiliki tempatnya sendiri, dan penggunaannya sudah dijelaskan oleh para ulama,” ungkap Ugi panjang lebar.

Sekarang, menurut Dr. Ugi, muncul kesan bahwa segala yang tercantum dalam hadits shahih maka ia adalah sunnah, dan selebihnya adalah bid’ah. Sebaliknya, semua yang tercantum dalam hadits dha’if tidak dapat digunakan atau tidak bermanfaat sama sekali. “Sejak dahulu, para ulama muhaddits tidak mengabaikan hadits-hadits dha’if. Imam Bukhari dan Muslim menulis kitab shahih-nya semata-mata karena ingin mengumpulkanhadits-hadits shahih dalam satu kitab saja. Ketika menyusun kitabnya tentang akhlaqyang diberi judul Adabul Mufrad, Imam Bukhari banyak mencantumkan hadits-hadits dha’if,” kata Ugi.

Karena kesalahpahaman tentang posisi hadits ini, ada sekelompok orang yang kemudian memberikan kritik keras kepada para imam madzhab, semata-mata dengan bermodalkan beberapa hadits shahih saja. “Para imam madzhab itu bukan hanya ahli dalam masalah fiqih, mereka bahkan membangun ushul fiqih-nya sendiri. Ushul fiqihini tentu saja mempertimbangkan haditssebagai salah satu unsur penting dalam fiqih, namun bukan satu-satunya. Masih ada pertimbangan-pertimbangan lain seperti kemaslahatan, situasi-kondisi, dan sebagainya. Oleh karena itu, tidak pada tempatnya jika seorang ahli hadits, apalagi yang belum ahli, untuk membongkar kembali bangunan fiqih yang sudah dibangun oleh para imam madzhab,” ungkap Ugi lagi,

Menurut Dr. Ugi, sangatlah berlebihan jika menyangka bahwa para imam madzhab itu kurang memahami hadits. Para ulama memberikan penilaian yang sangat tinggi kepada para imam tersebut, khususnya Imam Syafi’i dalam soal hadits. Lebih jauh, Ugi pun mengingatkan bahwa madzhab-madzhab fiqihsebenarnya lahir duluan, dan para ulama ahlihadits semuanya mengikuti madzhab-madzhab tersebut. “Imam Bukhari tidak diragukan lagi sangat ahli dalam masalahhadits, namun ia tidak membangun madzhab sendiri. Ia mengikuti madzhab Syafi’i. Hampir semua ulama muhaddits mengikuti madzhab Syafi’i. Sejak dulu, para ahli hadits tidak melangkahi domainnya dan memasuki wilayah fiqih, sebab bidang ini membutuhkan keahlian yang lebih komprehensif,” katanya.

Sebelum menutup kajiannya, Dr. Ugi mengingatkan agar umat Muslim tidak mudah terprovokasi sehingga tidak mudah terpecah-belah, tidak melibatkan diri dalam perdebatan seputar masalah-masalah furu’iyyah, dan menjaga adabnya kepada para ulama terdahulu. Khazanah pemikiran Islam yang pernah berjaya selama 1.000 tahun lamanya itu tidak mungkin diabaikan begitu saja, apalagi sampai mengabaikan kontribusi imam madzhab yang empat itu.

“Kepada madzhab yang mana pun kita mengikut, itu boleh-boleh saja. Yang tidak boleh adalah mengecam dan menjelek-jelekkan madzhab lain, mudah memberi capbid’ah atau menuduh yang tidak-tidak kepada para imam madzhab,” Ujar Ugi.

Ia juga menasihati, bahwa belajar yang betul bukan melalui media sosial atau mengambil dari internet.

“Belajar betul-betul itu tidak cukup dengan mengambil dari internet atau sosmed, tapi harus berguru dan belajar secara sistematis seperti kita sekolah”, tambah alumnu ISTAC Malaysia tersebut.

Maka, bagi orang yang tidak tahu madzhabnya apa harus belajar dalam bimbingan guru. “Jawaban melalui sosmed tidak akan mencukup”, imbuhnya kepada inpasonline.

Ia mengibaratkan ilmu agama seperti belajar ilmu kedokteran. Seorang tidak akan menjadi dokter jika tidak belajar dengan disiplin.

“Ilmu agama persis seperti ilmu kedokteran, gak akan jadi dokter orang yang tidak belajar dengan disiplin dan dibawah bimbingan dokter yang lebih pakar”, tegasnya.

Ugi Suharto juga menjelaskan orang yang tidak bermadzhab jangan mencela yang bermadzhab. Dan yang bermadzhab juga tidak boleh fanatik dengan madzhabnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *