Cinta Dunia Berujung Petaka

 

Muhammad Saad

Akhir zaman ini menghadirkan manusia-manusia yang dibius dengan keinginan yang tidak kunjung selesai. Setelah berhasil dengan keinginan yang satu, muncul syahwat memburu keinginan lain yang lebih nikmat dari keingin yang awal. Hal ini berlangsung terus menerus hingga pada akhirnya diberhentikan oleh sesuatu yang mengejutkan.

Sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam akal fikiran, hingga mengejutkan manusia pemburu nikmat dunia ini. Kejutan itu datang dari malaikat Izrail dengan membawa kematian. Kematian ini tidak bisa diprediksi dan  tidak bisa ditawar (laa yas ta’khiruna sa’atan wa laa yastaqdimun).

Disaat itulah, manusia sadar dari buaian mimpinya. Ternyata apa yang ia buru di dunia, hanyalah fatamorgana semata, tidak ada satupun yang ia dapatkan menemaninya dalam kematian.  Harta yang ia kumpulkan ia jaga setiap saat, kini jadi rebutan hak warisnya.  Rasulullah Saw bersabda:

“Manusia (pada umumnya) tertidur yenyak terlena, apabila maut menjemputnya, barulah dia terbangun”

Sebelum hal itu terjadi pada kita, marilah kita benahi diri kita masing-masing. Bermuhasabah atas selama ini kita lakukan. Benarkah kita ini terolgong orang-orang yang terjaga dari buaian impia dunia, atau justru kita adalah penikmat mimpi-mimpi tersebut.

Islam memberikan tips kepada umatnya agar mereka tidak terlena dengan biusan kenikmatan dunia yang bisa menggelincirkan kedalam jurang kesengsaraan ahirat.

Dalam Qs Attaubah 24 Allah berfirman:

قل إن كان آباؤكم وأبناؤكموإخوانكم وأزواجكم وعشيرتكم وأموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره والله لا يهدي القوم الفاسقين

Artinya: Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Sebuhungan dengan ayat ini, KH. Ahmad Ilham Masduqie Allahu yarham (Guru penulis) menjelaskan bahwa agar seorang muslim senantiasa meminta pentunjuk hidayah kepada Allah dalam setiap langkah kehidupan. Adapun hidayah senantiasa didapatkan, maka syaratnya-pun harus dipenuhi, yaitu mencintai Allah, Rasulullah Saw dan cinta kepada jihad dijalan Allah harus diutamakan melebihi cinta segala-galanya.

Jika syarat tersebut tidak dipenuhi, maka mustahil manusia mendapatkan hidayah dari Allah kecuali dengan kehendak Allah. Tidak berhenti disitu saja, selain hidayah tidak didapat, adzab-pun menanti (hatta ya’tiyallahu bi amrih).

Keputusan (adzab) dari Allah ini tidak saja di akhirat, namun di duniapun diberikan. Meski harta melimpah ruah, keluarga tidak kekurangan kebutuhan dunia dan keturunan yang nyaris sempurna. Namun dibalik harta yang seolah tak punah itu terdapat kegersangan hati, tak pernah puas untuk memilki, takut yang berlebihan untuk kehilangan. Bisa juga, anak-anak yang dengan fisik perfek, namun selalu menjadi fitnah bukan anak-anak yang shalih-shalihah.

Harta yang ada bukanlah anugerah namun menjadi siksa di dunia. Dengan keberadaan harta, justru menjadikan gelisah, tidak menemukan keenangan hidup, memikirkannya siang dan malam sehingga menimbulkan tersiksanya jiwa. Ini adalah bukti bahwa adzab dunia itu telah diberikan oleh Allah melalui  dunia.

Untuk menanamkan rasa cinta kepada Allah, Rasulullah dan berjuang dijalan Allah adalah dengan mengakaji ilmu-ilmu Allah melalui guru yang benar mengajak ikhlas mencintai Allah. Sebagimana sabda Rasulullah Saw:

لا تجلس عند كل عالم الا الذي يدعواكم من الخمس الي الخمس من الشك الي اليقين ومن التكبر الي التواضع ومن الاذواة الي الناصحة ومن الرياء الي الاخلاص ومن الرغبة الي الزهد

Artinya: janganlah kalian duduk di sanding orang yang berilmu kecuali ia mengajak kalian dari 5 hal menuju ke 5 hal yang lain; yaitu dari ragu manuju yakin, sombong menuju merendahkan diri, dari permusuhan menuju nasehat, dari pamrih menuju ikhlas, dan dari cinta materi secara berlebih menuju zuhud (tidak mencintai materi).

Sebelum hati keras, menutup dari kebenaran-kebenaran dari Allah, yang kemudian disusul dengan kematian. Marilah segera kita menuju ampunan dan rahmat-Nya. Sebab, siksaan dunia yang paling dahsyat ialah, kematian yang hadir disaat hati terasing dari Allah. Wal iyadzu Billah

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *