Birrul Walidayn Setelah Orang Tua Wafat

KH. Luthfi Bashori

Arti birrul walidain adalah berbakti kepada kedua orang tua. Ini termasuk perintah Alquran, wa bilwaalidaini ihsaanan (dan hendaklah berbakti kepada kedua orang tua dengan baik). Tentunya secara pemahaman umum, yang namanya berbakti kepada orang tua itu adalah berbuat baik kepada beliau berdua di saat keduanya masih hidup.

Namun pemahaman ini ternyata tidak seratus persen benar, karena Nabi SAW pernah ditanya oleh seorang lelaki : Saya mempunyai dua orang tua yang saat beliau berdua hidup, saya berbakti kepada keduanya, lantas bagaimana caranya saya berbakti setelah beliau berdua wafat ? Nabi SAW menjawab : Sesungguhnya termasuk dari birrul walidain setelah beliau berdua wafat adalah engkau shalat bersama shalatmu (yang sunnah dan pahalanya engkau kirim) kepada beliau berdua, dan engkau puasa bersama puasamu (yang sunnah dan pahalanya engkau kirim) kepada beliau berdua. (HR. Addaruquthni)

Betapa mulia ajaran Nabi SAW yang tidak pernah membatasi pahala amalan ibadah kebaikan bagi pelakunya, hanya dapat diraih di saat hidup saja, tapi dengan memiliki kerabat, handai taulan dan kawan-kawan baik, ternyata dengan bantuan mereka dapat juga mendulang pahala bagi yang sudah wafat alias yang hidup di alam kubur.

Perolehan pahala bagi si mayyit ini tentunya adalah pada saat para kerabat, handai taulan dan kawan-kawan itu mengirim pahala amalan shalihnya kepada mayyit yang bersangkutan.

Nabi SAW juga menginfokan masalah ini dengan sabda beliau SAW yang lain :Barangsiapa melewati pemakaman kuburan, dan membaca Qulhuwallahu ahad sebelas kali, lantas menghadiahkan pahalanya kepada para mayyit, maka ia akan mendapatkan pahala se banyak jumlah mayyit yang ada. (HR. Addaruquthni).

Pahala bacaan surat Al-ikhlas, bukan sekedar dapat dikirimkan oleh seorang anak kepada orang tuanya yang telah meninggal dunia, dengan tujuan birrul walidain secara istiqamah, yang dimulai sejak orang tuanya hidup hingga berada di alam kubur, namun pengiriman pahala bacaan surat Al-ikhlas inu, juga berlaku untuk umum, yaitu boleh dilakukan oleh siapa saja di antara umat Islam, dan pahalanya dikirimkan kepada siapa saja di antara para penghuni pemakaman kuburan muslim.

Masih banyak hadits Nabi SAW yang senada dengan uraian di atas, salah satunya bahwa, seorang lelaki bertanya kepada Nabi SAW: Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah wafat, apakah ada manfaat untuknya jika aku bersadaqah atas nama beliau ? Nabi SAW menjawab : Ya. (HR. Abu Dawud).

Ini senada juga dengan firman Allah : Walladziina jaa-u min ba`dihim yaquuluuna rabbanaghfir lanaa wa li-ikhwaaninal ladziina sabaquuna bil iimaan (dan orang-orang yang datang setelah generasi mereka mengatakan, Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami (yang telah wafat) yang terlebih dahulu beriman dari pada kami).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *