BERDIRILAH UNTUK MENGHORMATI PEMIMPIN KALIAN

 

KH. LUTHFI BASHORI

Judul di atas adalah maknawi dari sebuah hadits Nabi SAW. Tepatnya saat Beliau duduk bersama kaum Anshar Madinah, tiba-tiba Sayyidina Sa`ad salah seorang pemimpin dan tokoh masyarakat kota Madinah datang menghampiri mereka, lantas Nabi SAW memerintahkan kaum Anshar : Quumuu ilaa sayyidikum (Berdirilah untuk menghormati pemimpin kalian) HR. Bukhari – Muslim.

 

Menghormati orang yang memang layak untuk dihormati ternyata sunnah Nabi. Misalnya keharusan seorang anak menghormati orangtuanya, seorang murid menghormati gurunya, seorang anak muda menghormati orang yang lebih tua, masyarakat umum menghormati pimpinan masyarakat, kaum awam menghormati para ulama dan tokoh masyarakat.

Adapun bentuk penghormatannya dapat dilakukan dengan berbagai macam, antara lain bagi orang yang semula duduk maka menghormatinya dengan cara berdiri, sedangkan yang sudah berdiri bisa saja menyongsong kedatangan pemimpinnya.

 

Seorang anak bisa mencium tangan orang tuanya, demikian juga jika ada seorang murid ingin menghormati gurunya maka bolehlah dengan mencium tangan. Bahkan banyak masyarakat awam mencium tangan tokoh ulama karena untuk menghormati keilmuan dan dan ketokohan serta kepemimpinannya. Perilaku ini sudah tepat karena sesuai dengan perintah Nabi SAW.

 

Perilaku penghormatan semacam di atas, sangat tepat pula karena sesuai dengan ayat wa idz qulnaa lil malaaikatis juduu li aadama (Tatkala Kami (Allah) mengatakan kepada para Malaikat: Sujudlah kalian kepada Adam…!)

Tentunya dalam pandangan penganut madzhab Dhahiri (segala sesuatu diterjemahkan sesuai dhahir lafadz), maka arti sujud dalam ayat ini adalah layaknya sujudnya orang yang sedang shalat, hanya saja niatan para Malaikat itu bukan sujud menyembah Nabi Adam, tetapi sujud yang hanya diniati menghormati Nabi Adam.

 

Namun, dalam pandangan ulama salaf Ahlussunnah wal Jamaah, yang dimaksud dengan lafadz sujud dalam ayat ini adalah menghormat, bisa saja lafadz sujud diartikan membungkukkan badan, atau menundukkan kepala yang kedua sifat ini mempunyai arti menghormat.

 

Jadi, subtansi dari ayat di atas adalah perintah Allah yang senada dengan hadits Nabi SAW, bahwa sudah sepatutnya umat Islam itu selalu menghormati orang-orang yang semestinya dihormati. Adapun tata cara menghormatinya ini sangat bervariatif.

 

Jika ada seseorang yang sedang membaca biografi seorang tokoh pejuang Islam dalam peristiwa kemerdekaan Indonesia, lantas sampailah bacaannya itu pada fase tertentu, yang ternyata apa yang dibacanya itu sangat mempengaruhi jiwanya.

 

Misalnya saja saat sang tokoh dalam buku biografi itu sedang menembakkan peluruh kepada seorang penjajah berpangkat komandan, tiba-tiba si pembaca secara spontan meneriakkan: ALLAAAAHU AKBAR !!! Nah, bolehkah menurut syariat Islam tentang perilaku si pembaca ini ?

 

Jawabannya sangat mudah : Yaa boleh-boleh saja, karena tidak bertentangan dengan syariat Islam dalam bab manapun.

Bagaimana jika si pembaca tadi tiba-tiba berdiri, karena jiwanya merasa hanyut oleh kalimat-kalimat yang ada di dalam buku biografi tersebut, misalnya: Maka, berdirilah seluruh pasukan muslimin saat Pangeran Diponegoro datang dengan teriakan ALLAHU AKBAR, seraya beliau mengangkat bambu runcing pertanda perang fisik akan segera dimulai….!

Si pembacapun ternyata ikut berdiri karena dirinya sangat menjiwai isi buku biografi itu, sehingga serasa dirinya adalah salah satu dari pasukan perang yang dipimpin Pangeran Diponegoro itu.

 

Di samping ia juga merasa tegang karena merasa dirinya sedang berada di depan tokoh yang sangat berwibawa dan sangat disegani baik oleh kawan maupun lawan, yaitu Pengeran Diponegoro, maka si pembaca ini lantas berdiri karena mengingat hadits: Berdirilah untuk menghormati pemimpin kalian !

 

Nah, bagaimana pandangan syariat Islam tentang perilaku berdirinya si pembaca biografi tokoh pejuang Islam ini ? Yaa, boleh-boleh saja. Bahkan jika ia berniat mengamalkan hadits Nabi SAW dalam berdirinya itu, maka ia akan mendapatkan pahala sunnah.

 

Para pembaca, bagaimana kiranya jika yang dibaca itu ternyata biografi dari seorang yang paling mulia di jagad raya ini, seorang yang laling dicintai oleh Allah sejak diciptakan Nabi Adam hingga hari Qiyamat nanti, yaitu biografi Nabi Muhammad SAW. Lantas si pembacanya terpengaruh karena sangat menjiwai apa yang dibacanya.

Misalnya, tatkala bacaannya sampai pada fase riwayat kelahiran Nabi SAW, maka secara spontan ia berdiri karena teringat hadits: Berdirilah untuk menghormati pemimpin kalian!

 

Si pembaca biografi Nabi SAW inipun tiba-tiba berdiri karena merasa dirinya ikut menyaksikan peristiwa besar, yaitu peristiwa kedatangan, kehadiran, dan kelahiran bayi calon seorang Nabi di muka bumi ini, bayi calon seorang tokoh dunia bahkah tokoh akhirat yang kehebatannya tidak ada bandingannya dari kalangan makhluq manapun.

 

Jadi, bagaimana pandangan syariat Islam tentang perilaku berdirinya si pembaca biografi Nabi Muhammad SAW semacam ini ? Tentu saja jawabannya: Sangat sangat sangat boleh, bahkan dianjurkan dan disunnahkan, mengingat Allah saja memerintahkan para malaikat untuk sujud menghormat Nabi Adam, dan kaum Anshar diperintahkankan oleh Nabi untuk berdiri menghormati Sayyidina Sa`ad.

 

Maka, tentunya segala macam bentuk penghormatan selagi tidak diniati penyembahan, sangatlah layak diperuntukkan bagi Nabi Muhammad SAW.

 

Ya nabii salaam alaika # Ya rasuul salaam alaika
Yahabiib salaam alaika # Shalawaatullaah alaika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *