Bencana; Karena Kita Kehilangan Cinta

Kholili Hasib

Duka tak kunjung usai. Indonesia seperti belum bisa lepas dari musibah alam, banjir, longsor, gunung meletus, gempa dan longsor diberbagai daerah. ada sebuah pertanyaan dalam hati kita, tidakkah kita belum mengenal ayat-ayat-Nya? sehingga negeri ini perlu ditampakkan gamblang.Manusia takkan berdaya saat Allah tampilkan kekuasaan-Nya. “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” (QS Al-Ahzab: 17).

Setelah itu, bencana apa lagi? ilmuan tak bisa menentukan, tapi memiliki prediksi. Air mata duka belum sepenuhnya kering. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperkirakan masih akan ada gempa lagi yang menyusul di daerah Sumatera. Akan kemanakah kita?  tak bisa kemana, kecuali berlindung kepada-Nya. Kita mestinya menangkap tanda yang telah terberikan kepada manusia.

Ini bisa peringatan, adzab, ataupun rahmat. Namun apapun itu, tanda-tanda tersebut merupakan ‘komunikasi’ Allah kepada makhluk-Nya. Kita lemah, kita nakal, jahil, lalai dan dzalim, sehingga perlu ‘dituntun’ dengan bentuk ‘komunikasi’ yang seperti ini. Manusia telah lalai, cinta pada-Nya begitu dicampakkan, direndahkan bahkan dibuang. “Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran) (QS Al-A’raaf :168).

Cinta telah terabaikan. Sehingga kita perlu ditegur akan kembali menjalin cinta itu. Kata para pengusung liberalisasi pemikiran, “Agama ini bukan lagi yang penting. Ilmu itu yang perlu saja bagi kemanusiaan.” Walhasil,  banjir liberalisme telah menggerus sendi-sendi cinta kita pada Islam. Rasa sayang kita pada Rasulullah SAW mendadak hilang. Kita tidak lagi cinta, tapi benci. Jika sudah benci, manusia merasa gerah memakai baju agama. sumber semua kebencian itu adalah ilmu yang salah. Nikmat itu bukan saja tak mampu dihitung, bahkan kita tak mampu lagi melihat nikmat-Nya. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” [QS. Ibrahim : 7]. Karena telah benci, kita tidak bersyukur.

Cara pandang skeptisisme dan relativisme ada disekitar kita. “Kebenaran itu relatif, manusia tak bisa capai kebenaran, hanya Tuhan yang absolut” teriak-teriak macam itu bebas menggema. Kita pun diam, lidah kaku enggan mengingatkan. Apalagi soal ini; pornografi. Terlalu naif jika kita masih saja memperdebatkan wanita berbikini  atau setengah telanjang itu porno apa tidak. Seni apa bukan. Virus postmodernisme terlaku kuatkah?

Sebenarnya bukan soal kuatnya cara pandang filosof ateis itu, tapi lidah-lidah kita yang enggan mengingatkan sejak dini. Itu penyakit ilmu, bukan kemajuan ilmu. Sebab nyatanya ia melemahkan dan merancukan cara berpikir. Relativisme ternyata juga terjebak pada lubang sendiri, absolutisme tak mampu ia lari darinya.

Pernyataan “kebenaran itu relatif” adalah statemen self contradiction. Sebab, jika demikian maka pernyataan itu sendiri juga termasuk relatif alias belum tentu benar. Karena pernyataan: “kebenaran itu relatif” juga belum tentu benar bisa diterima statemen itu. Maka dimungkinkan ada pernyataan lain yang berbunyi:”kebenaran itu bisa absolut dan bisa juga relatif” dan pernyataan ini juga dapat dianggap benar. Logika relativisme bisa disebut ‘roda berputar’. Berputar-putar tak berujung. Walhasil seorang relativis tak akan temukan kebenaran. Semakin jauhlah ia dari Allah.

Rasulullah SAW telah mengingatkan “Sesungguhnya menjelang hari Kiamat terdapat tahun-tahun yang menipu, orang yang berkhianat diberi amanat, orang yang terpercaya dianggap khianat, orang yang berdusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, dan ruwaibidhah akan berbicara,” para sahabat bertanya,”Apakah ruwaibidhah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Seorang yang hina dan bodoh berbicara tentang urusan orang banyak” (HR Abu Dawud no. 4586).

Sebab kesalahan ilmu inilah, seseorang tidak mencintai lagi Syari’at Allah. Tidak sekedar berkata tidak suka, tapi menghina bahwa Syari’at itu kejam dan kuno. Benarlah petuah Prof. Al-Attas, kemungkaran terbesar itu adalah kemungkaran ilmu. Ilmu yang salah akan menghasilkan ‘ijtihad’ yang keliru. Problem kita bukanlah krisis ekonomi, dan politik, akan tetapi krisis ilmu. Ilmu telah dikorup, untuk kepentingan pragmatisme. Karena kehilangan ilmu kita manjadi tidak merasa telah bermaksiat. Sebab itu, cinta pada Allah dan Rasul-Nya lenyap. Seorang liberalis takkan sakit hati jika Allah dan Rasul-Nya dihina.

Oleh karena itu, ilmu merupakan batu pertama untuk melakukan ishlah. Melindungi diri dari maksiat, dan kemungkaran. Dengan ilmu kita menjadi pecinta yang baik. Jika tidak Allah tak segan menunjukkan ‘komunikasi’-Nya. “Sesungguhnya manusia, jika mereka melihat kemunkaran, sedangkan mereka tidak mengubahnya, maka datanglah saatnya Allah menjatuhkan siksa-Nya secara umum” (HR Abu Dawud).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *