BEDA KUALITAS MUSLIM & KAFIR

KH.Luthfi Bashori

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang mukmin ibarat tanaman yang masih muda, tampak lembut diombang-ambingkan angin. Kadang-kadang miring dan kemudian tegak kembali, demikian seterusnya sampai datang ajal (menjemput). Sedangkan orang kafir itu ibarat pohon beringin yang akar-akarnya mati kekeringan, tampak dari luar begitu kokoh, tetapi dengan satu tiupan angin kencang ia dapat ditumbangkan.” (HR, Muslim)

Umat Islam yang hakiki itu, terkenal dapat berlemahlembut terhadap sesamanya, lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan, ramah terhadap semua orang yang tidak mengganggu, tak mudah goyah oleh pengaruh yang menggerogoti aqidahnya, namun mereka tetap tegas terhadap kekafiran dan pihak-pihak yang memusuhinya. Mereka berani berkorban jiwa dan raga dalam melawan kedhaliman, baik bagi dirinya maupun bagi saudara sesamanya.

Sifat-sifat ini sangat cocok dengan gambaran Alquran yang artinya:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allâh dan keridhaan-Ny, pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya lalu tunas itu menjadikan tanaman itu kuat kemudian menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath, 29).

Sedangkan orang kafir itu, sekalipun sering kali tampak kokoh dari luar dan terkesan digdaya, namun hakikatnya di hadapan Allah, mereka itu sangatlah rapuh dan lemah, sebagaimana gambaran Alquran yang artinya:

“Perumpamaan orang-orang (kafir) yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah) yakni berhala-berhala yang mereka harapkan dapat memberi manfaat kepada diri mereka adalah seperti laba-laba yang membuat rumah untuk tempat tinggalnya. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah/rapuh itu adalah rumah laba-laba (karena tidak dapat melindungi diri dari panas matahari dan dari dinginnya udara, demikian pula berhala-berhala itu, mereka tidak dapat memberikan manfaat apa pun kepada para penyembahnya) andaikata mereka mengetahui (hal itu tentu mereka tidak akan menyembahnya).” (QS, Al-Ankabut, 41).

Suatu saat, orang-orang yang kafir kepada Allah itu akan dijungkirbalikkan dari keadaan yang mereka dapatkan saat di dunia, hingga mereka tidak mampu menghindar sedikitpun.
Sy. Anas bin Malik RA menuturkan ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin orang kafir di kumpulkan pada hari kiamat (berjalan) di atas muka mereka?”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bukankah (Dzat) yang telah memperjalankan (orang kafir) di atas kakinya itu sanggup pula memperjalankan di atas mukanya, kelak pada hari kiamat?”
“Benar, demikian kekuasaan Tuhan kita.” (HR. Muslim).

Di kalangan orang-orang kafir yang hatinya rapuh itu, terkadang memang tampak bersatu padu satu dengan lainya, namun hakikatnya hati mereka justru bercerai berai, sebagaimana disindir dalam Alquran yang artinya:

“Mereka tidak akan memerangi kamu dalam Keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti”. (QS. Al-Hasyr, 14 ).

Karena orang-orang kafir itu, memiliki tuhan yang berbeda-beda, jadi mereka juga tidak dapat fokus dalam perkumpulan dan persatuan mereka.

Sy. Anas bin Malik RA mengutarakan Nabi Muhammad SAW bersabda, bahwa Allah SWT kelak bertanya kepada penduduk neraka yang siksaannya lebih ringan, “Seandainya dunia seisinya menjadi milikmu, maukah engkau menebus dosamu dengan semua milikmu itu?”
“Mau!” jawab mereka.

Allah berfirman, “Aku telah meminta tebusan paling ringan dari itu kepadamu ketika kamu masih di dalam tulang sulbi Adam AS, yaitu agar kamu tidak menyekutukan-Ku. Itu telah memadai, namun kamu tetap saja musyrik (menyekutukan-Ku).” (HR. Muslim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *