BAGAIMANA SEHARUSNYA WANITA MENSYIARKAN AGAMA?

Hb. Muhammad Vad’aq

Mensyiarkan agama, mengahadiri pengajian, maulid, haul dan majlis ilmu sangatlah dianjurkan. Manun demikian agama Islam sangat melarang IKHTHILATH bercampur tanpa batas lelaki dengan wanita. Dalam atsar disebutkan,”

باعدوا بين انفاس الرجال وانفاس النساء
*Jauhkan lah nafas lelaki dan nafas wanita.”*
Qadhi Iyyadh RA berkata,” Kita diperintahkan untuk menjauhkan antara lelaki dan wanita, dan kebiasaan Nabi SAW adalah menjauhkan wanita. Maksudnya tidak bercampur dengan lelaki ajnabi.

“`Al-Faqih Al-Allamah al-Habib Zen bin Sumaith berkata ,” Dimana lagi peringatan Nabi tentang hal ini? Wanita keluar dengan perhiasan yang sangat indah di tengah-tengah lelaki, terkadang memakai baju tipis yang transparan. Ditambah dengan wewangian semerbak yang memancing syahwat lelaki, sekalipun untuk menghadiri majlis adalah dosa. Semua itu dikarenakan kebodohan yang merata di dalam rumah dan masyarakat serta minimnya rasa takut pada Allah SWT.“`

Meninggalkan yang dilarang jauh lebih baik daripada memaksakan diri melakukan ibadah yang tercapur dengan larangan. Wanita di dalam rumah lebih afdhal dan lebih mudah mendapat berkah wali atau syafaat Nabi SAW dibanding wanita yang berdesakan dengan lelaki di majlis atau menjadi tontonan lelaki ketika mereka berlalu lalang.

Terkecuali memang ada tempat yang layak dan tertutup bagi wanita insyaAllah tidak masalah, namun jika percampuran itu ada, maka duduklah di rumah karena itu lebih bermartabat dan lebih menyenangkan hati Nabi SAW.

Diriwayatkan dari Asma binti Yazid bahwa ia menemui Nabi SAW lantas berkata; aku utusan jamaah perempuan umat Islam yang ada di belakangku, mereka semua sependapat denganku, dan sepakat denganku:

Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada kalangan laki-laki dan kalangan perempuan. Kami pun mengimanimu dan mengikutimu. Kami seluruh kaum perempuan mendapatkan pembatasan dan tertutup, kami tinggal di dalam rumah, sementara kaum laki-laki diberi keutamaan dengan salat-salat jamaah, mengiring jenazah, dan jihad. Jika mereka keluar untuk berjihad maka kami menjaga harta mereka, dan kami mendidik anak-anak mereka. Apakah kami turut mendapatkan pahala sebagaimana yang mereka dapatkan, wahai Rasulullah?

Rasulullah SAW menolehkan wajah beliau kepada sahabat-sahabat beliau lantas bertanya, “Bukankah kalian telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan pertanyaan yang sangat bagus ini?”
Benar, wahai Rasulullah, jawab mereka.

Rasulullah SAW pun bersabda:

انْصَرِفِي يَا أَسْمَاءُ، وَأَعْلِمِي مِنْ وَرَاءِكِ مِنَ النِّسَاءِ أَنَّ حُسْنَ تَبَعُّلِ إِحْدَاكُنَّ لِزَوْجِهَا وَطَلَبَهَا لِمَرْضَاتِهِ وَاتِّبَاعَهَا لِمُوَافَقَتِهِ، يَعْدِلُ كُلَّ مَا ذَكَرْتِ لِلرِّجَالِ.

*”Bergegaslah hai Asma, dan beritahukan kepada kaum perempuan yang ada di belakangmu bahwa mematuhi suami dengan sebaik-baiknya bagi seseorang dari kalian, menggapai keridhaannya, dan mengikuti persetujuannya, setara dengan semua yang kamu sebutkan bagi kaum laki-laki.”*

Semoga bermanfaat untuk kaum wanita dan para isteri dalam mentaati perintah Nabi Muhammad SAW dan suami. Jika kita tidak mengindahkan perintah Nabi SAW, lalu perintah siapa yang kita ikuti?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *