AJARKAN ANAK MENCINTAI ULAMA'

Oleh: Muhammad Saad

Mengenalkan ajaran agama dan menanamkan benih-benih keimanan di hati sang anak pada usia dini seperti ini sangat penting sebagai pondasi kehidupan beragamanya kelak. Anak di usianya dini tertarik untuk meniru semua tindak-tanduk ayah ibunya, termasuk yang menyangkut masalah beribadah.

Dan salah satu penanaman iman adalah diajari cinta ulama’ dengan cara berkumpul dengan mereka. Hal ini telah dilakukan oleh para salafuna asshalih:

فقد قال انس بن مالك : كانوا يعلمون أولادهم محبة الشيخين كما يعلمونهم السورة من القران .(السنة للخلال)

Anas bin Malik berkata, “Para sahabat mengajari anak-anak mereka mencintai Abu Bakar dan Umar sebagaimana mereka mengajarkan suatu surat dalam Al Qur’an”.

*قال صالح بن الأمام احمد بن حنبل: كان أبى يبعث خلفي اذا جاءه رجل زاهد أو متقشف لأنظر اليه يحب أن أكون مثله, (سير إعلام النبلاء للذهبي 12/ 529)

Sholeh bin Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Ayahku sering mengutus seseorang kepadaku jika datang kepadanya seorang yang zuhud, agar aku bisa menjadi seperti ornag tersebut”. (Sairu A’lami An Nubala’, li Adzahabi 12/529).

Hikmah mendatangi dan berkumpul dengan ulama’ dapat menimbulkan rasa cinta pada mereka. Sedangkan mencintai ulama’ sangat dianjurkan oleh Agama, sebab hal ini dapat mendatangkan keberkahan bahkan dijamin mendapatkan syafaat oleh Rasulullah Saw Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

وقال صلى الله عليه وسلم: من نظر إلى وجه العالم نظرة ففرح بها خلق الله تعالى من تلك النظرة ملكا يستغفر له إلى يوم القيامة

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa memandang wajah orang alim dengan satu pandangan lalu ia merasa senang dengannya, maka Allah Ta’ala menciptakan malaikat dari pandangan itu dan memohonkan ampun kepadanya sampai hari kiamat.” (Kitab Lubabul Hadits).

أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: مَنْ زَارَ عَالِما فَقَدْ زَارَنِي، وَمَنْ زَارَنِي وَجَبَتْ له شَفَاعَتي، وكانَ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ أَجْرُ شَهِيدٍ

Dari Anas bin Malik ra., bahwasanya Rasulullah bersabda : “Barangsiapa mengunjungi orang alim berarti ia mengunjungi aku, barangsiapa mengunjungi aku maka ia wajib memperoleh syafa’atku, dan setiap langkah memperoleh pahala orang mati syahid.” (Kitab Tanqihul Qaul).

Tentunya yang dimaksud ulama’ disini adalah mereka para hamba Allah yang takut dan patuh kepada hukum-hukum Allah (innama yakhsallah min ibadih al-ulama’ . (QS. Fathir (35): 28). Mereka yg senantiasa mewarisi sunah Rasulullah Saw (al-ulama’ waratsatul anbiya’).

Bukan mereka yang mengaku-ngaku ulama’ namun melawan hukum-hukum Allah. Sebab orang demikian menurut imam Al-Ghazali adalah Ulama’ suu’. Atau tegasnya dalam Al-Qur’an Surat an-Nisaa’ 60, mereka adalah orang-orang munafik.

61. وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.

Rasulullah Saw memberi tips berkumpul dengan ulama’. Dalam sabda beliau Saw berkata:

وَلا تَجْلِسُوا إِلا عِنْدَ عَالِمٍ يَدْعُوكُمْ مِنْ خَمْسٍ إِلَى خَمْسٍ : مِنَ الشَّكِّ إِلَى الْيَقِينِ ، وَمِنَ الْكِبْرِ إِلَى التَّوَاضُعِ ، وَمِنَ الرِّيَاءِ إِلَى الإِخْلاصِ ، وَمِنَ الْعَدَاوَةِ إِلَى النَّصِيحَةِ ، وَمِنَ الرَّغْبَةِ إِلَى الرَّهْبَةِ ” (رواه ابو نعيم عن جابر)

“Janganlah kamu semua duduk (mengikuti) di depan (kepada) setiap orang yang ‘Alim kecuali yang benar-benar ‘Alim yang membimbing kamu dari (meninggalkan) lima perkara untuk menuju (melakukan) lima perkara; dari ragu-ragu (tidak iman) menuju yaqin (sadar dan iman Billah), dari riya’ menuju ikhlas, dari cinta dunia menuju zuhud, dari takabur menuju rendah hati dan dari permusuhan menuju persahabatan”.

Artinya, seorang ulama’ memberikan wejangan ilmu sehingga seorang hamba menjadi yakin kepada kebenaran. Bukan menjadikan orang menjadi ragu kepada kebenaran. Seorang ulama pula selalu mengajarkan kepada umat untuk menjadi orang yang ikhlas dalam beramal dan meninggalkan riya’. Seorang ulama’ senantiasa mengajarkan Zuhud pada dunia dan cinta pada akhirat. Bukan sebaliknya, apalagi mengajarkan meraup keuntungan dengan menjual Agama. Seorang ulama’ mengajarkan rendah hati bukan takabbur, apalagi menentang kebenaran. Sebab menentang kebenaran adalah puncak dari takabbur (Bathara Al-Haq wa qhamtu al-nas).

Dan yang terakhir, seorang ulama’ adalah mereka yang perkataan selalu menyejukkan umat. Sehingga selalu tercipta suasana harmonis dalam kehidupan umat. Namun bukan berarti melempem pada kemungkaran. Sebab bagaimanapun kemungkaran dan kesesatan harus ada tindakan pencegahan dengan tegas bukan dengan keras. Wallahu a’lam Bi sshawwab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *