KH. Ahmad Ilham Masduqie: Kewajiban Syariat Islam

Oleh: Muhammad Saad

Syraiat, bagi umat Islam adalah harga mati. Pemberlakuannya sebagai aturan kehidupan tidak bisa ditawar karena hal ini menyangkut salah satu dari pondasi agama. Al-Maghfirlah KH. Ahmad Ilham Masduqie, pemangku pesantren Aqdaamul Ulama’ Pandaan dalam kitabnya Syifa’ al-Shudur, menjelaskan kewajiban menegakkan Syariat Islam.

Dasar pijakan beliau bahwa menegakkan syariat Islam adalah wajib adalah al-Qur’an Surat at-Taubah ayat 31:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Sehubungan dengan ayat ini, KH. Ahmad Ilham Masduqie mengutip tafsir Ibnu katsir yang diriwayatkan dari imam Ahmad, imam Turmudzi, dan ibn Jarir dari sahabat ‘adi bin hatim  ra. Bahwasannya semasa da’wah rasulullah Saw sampai pada Hatim, maka Hatim yang waktu itu masih beragama Nashrani lari ke Syam. Sedangkan saudara perempuan dan kaum Hatim tertawan pasaukan muslim, yang kemudian dibebaskan dan dimerdekakan oleh rasul saw,dan saudara perempuan hatim-pun akhirnya masuk Islam.

Ketika adik perempuannya kembali ke Hatim, dia bercerita tentang kebaikan Rasul Saw dan keagungan Agama Islam. Maka seketika itu Hatim tertarik akan ajaran Islam. Hatim-pun datang menghadap Rasulullah Saw di Madinah dengan pakaian kebesaran dia sebagai penganut Nashrani yang setia. Diantara atribut itu adalah kalung salib dari perak yang ia kenakan ketika menghadap Baginda Rasul Saw.

Pada saat ia mengahadap Nabi Saw, maka Nabi Saw membaca QS. At-Taubah ayat 31. (Mereka  menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan). Hatim-pun menjawab: “orang Yahudi-nashrani tidak menyembah para pendeta dan rahibnya”. Rasul Saw bersabda: “benar mereka tidak menyembah secara fisik, namun pendeta dan rahib kaum Yahudi-nashrani telah mengharamkan apa yang telah dihalalkan dan menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh ajaran agamnya, sedangkan demikian ini oleh umatnya dibenarkan dan diikuti. Maka inilah yang dimaksud dengan menyembah para rahib dan pendeta”. Dalam diskusi ini berakhir dengan masuknya Hatim kedalam agama Islam yang menjadikan kegembiraan sendiri bagi Rasulullah Saw.

Menurut imam Sudday, makna tafsiran ayat “Ittakhadzu akhbarahum wa ruhbanahum arbaaban min dunillah” adalah sesungguh yahudi dan Nasharani mengikuti rahib-rahib mereka yang telah membuang ajaran syariat yang ada  dan menggantinya sesuai dengan hawa nafsunya.

KH. Ahmad Ilham Masduqie mengikuti pendapat para ulama’ Salaf al-Shaleh, bahwasannya ayat ini adalah dasar yang jelas bagi siapa-pun yang ridha pada hukum buatan manusia. Sedangkan hukum buatan manusia, bertentangan dengan hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya. Maka mereka yang ridha akan hukum manusia tersebut, pada hakikatnya telah menyembah si pembuat hukum dan telah membuat peribadatan yang lain.

Mengapa demikian…?, Sebab dalam ajaran Islam, yang berhak membuat peraturan adalah Allah, karena Allah adalah Sang pencipta, dan Penciptalah yang tau peraturan yang terbaik untuk makhluknya. Jika kemudian ada hukum buatan manusia yang bertentangan hukum Allah, dijadikan solusi pengganti hukum Allah. Maka logikanya, mereka yang memilih hukum buatan manusia tersebut, telah memposisikan si pembuat hukum sejajar dengan Allah untuk diikuti aturannya.

Menurut KH. Ahmad Ilham Maduqie,  wajib hukumnya untuk meninggalkan hukum buatan manusia. Dengan segala daya upaya, wajib pula menentang pemberlakuan hukum buatan tersebut. Serta berjuang sepenuh hati dan sungguh-sungguh untuk bisa menjadikan hukum syariat Allah menjadi hukum perundang-undangan Negara.

Apa bila hal ini tidak dilakukan, maka dosa besar menimpa pada umat Islam. Bahkan KH. Ahmad Ilham Masduqie menegaskan, bahwasannya orang yang mengingkari dengan terang-terangan akan eksistensi hukum-hukum Allah, mereka termasuk golongan orang-orang munafik. Hal ini oleh KH. Ahmad Ilham Masduqie disandarkan pada Qs. Al-Nur: 47-50 :

وَيِقُولُونَ آمَنّا بِاللّهِ وَبِالرّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمّ يَتَوَلّىَ فَرِيقٌ مّنْهُمْ مّن بَعْدِ ذَلِكَ وَمَآ أُوْلَـَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ (47) وَإِذَا دُعُوَاْ إِلَى اللّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مّنْهُمْ مّعْرِضُونَ (48) وَإِن يَكُنْ لّهُمُ الْحَقّ يَأْتُوَاْ إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ (49)  أَفِي قُلُوبِهِمْ مّرَضٌ أَمِ ارْتَابُوَاْ أَمْ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ اللّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُوْلَـَئِكَ هُمُ الظّالِمُونَ (50)

Artinya:  Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya)”. Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh.   Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.

Ibn Katsir menjelaskan pada ayat. 47: (tsumma yatawlla fariiqum minhum min ba’di dzalika) mereka adalah kelompok munafik. Allah menujukkan kepada kita bahwa salah satu sifat munafik adalah berpaling dari hukum-hukum Allah dan Rasulullah Saw. Dan status munafik bukanlah bagian dari mukmin (wa maa ulaika bi al-mu’minuuna)

Para munafikun ini jika di ajak mengikuti hukum-hukum Allah dan Rasulullah, mereka melakukan penentangan dengan sangat serta menunjukkan kesombongan akan dirinya. (QS. al-Nur: 48) namun jika hukum-hukum Allah tersebut berpihak kepada hawa nafsunya, maka mereka berbondong-bondong mengikuti hukum tersebut (QS. Al-Nur: 49).

Dalam Qs. Al-Nisaa: 61 Allah dengan jelas menyebut orang-orang yang menolak hukum syariat dari Allah dan Rasulullah Saw adalah bagian dari orang-orang munafik.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا

Artinya: Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.

Kemudian QS. Al-Nisaa: 65 menjelaskan bahwasannya Allah bersumpah dengan Dzat-Nya sebagai Tuhan bahwasannya siapa saja yang tidak berhukum dengan hukum Rasul Saw dalam segala hal urusan dan menerima dengan ikhlas dhohir dan bathin dalam segala keputusan, maka ia dikatakan sebagai golongan orang tidak beriman.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Dari petikan  kitab Syifa’u al-Sudur karya KH. Ahmad Ilham masduqie diatas, dapat diketahui bahwa pemberlakuan syariat sebagai undang-undang Negara adalah wajib bagi semuat umat Islam. Umat Islam yang tidak menjadikan syariat sebagai hukum dalam segala sendi kehidupan dan menjadikan hukum konvensional yang ada sebagai pengganti hukum syar’i, maka  sama saja ia telah menjadikan si pembuat hukum konvesional tersebut sebagai sesembahan yang menggantikan Allah SWT.

Juga umat Islam yang menolak hukum Islam, maka ia adalah sebagain dari orang munafiq. Begitu pula umat Islam yang tidak ridho akan sebuah keputusan hukum syar’i, makas sesungguhnya ia tidak beriman kepada Allah. Wallahu ‘a’lam bishawwab.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *